Monthly Archives: Februari 2011

Kosa Kata Part 2

Olahraga

축구 [chukku] sepak bola
야구 [yagu] base ball
탁구 [takku] tenis meja
테니스 [tenisseu] tenis
볼링 [bolling] bowling
당구 [danggu] bilyard
수영 [suyeong] berenang
달리기 [dalligi] atletik
마라톤 [maraton] maraton
승마 [seungma] menunggang kuda
체조 [chejo] senam
하키 [haki] hoki
핸드볼 [haendeubol] bola tangan
배드민턴 [baedeuminteon] bulu tangkis
양궁 [yanggung] memanah
골프 [golpeu] golf

4 musim
봄 [bom] musim semi
여름 [yeoreum] musim panas
가을 [ga-eul] musim gugur
겨울 [gyeo-ul] musim dingin

Rekreasi
등산 [deungsan] pendakian gunung
낚시 [nakssi] memancing ikan
달리기 [dalligi] atletik
영화감상 [yeong-hwa gamsang] menonton film
음악감상 [eumak gamsang] mendengarkan musik
여행 [yeohaeng] perjalanan
우표수집 [upyo sujip] koleksi perangko
TV 시청 [TV sicheong] menonton TV
그림 그리기 [geurim geurigi] melukis
사진촬영 [sajin chwaryeong] memotret

Waktu

한 시 [hansi] pukul satu
두 시 [dusi] pukul dua
세 시 [sesi] pukul tiga
네 시 [nesi] pukul empat
다섯 시 [daseossi] pukul lima
여섯 시 [yeoseossi] pukul enam
일곱 시 [ilgopssi] pukul tujuh
여덟 시 [yeodeolssi] pukul delapan
아홉 시 [ahopssi] pukul sembilan
열 시 [yeolssi] pukul sepuluh
열한 시 [yeolhansi] pukul sebelas
열두 시 [yeoldusi] pukul duabelas
한시 반 [hansi ban] pukul setengah dua
두시 이십분 [dusi isippun] pukul dua lewat dua puluh
세시 삼십분 [sesi samsippun] pukul tiga lewat tiga puluh
네시 사십분 [nesi sasippun] pukul empat lewat empat puluh
다섯시 오십분 [daseossi osippun] pukul lima lewat lima puluh

Iklan

Kosa Kata

자기소개 [jagisogae] perkenalan diri
소개하다 [sogaehada] memperkenalkan
만나서 반갑습니다 [Mannaseo ban-gapsseumnida] gembira sekali bertemu
근무하다 [geunmuhada] bekerja
미국 [miguk] Amerika Serikat
시카고에서 왔어요 [Sikago-eseo wasseoyo] datang dari Chicago
한국 [han-guk] Korea
일 년 [ilnyeon] satu tahun
아내 [anae] isteri
아이 [ai] anak
골프 [golpeu] golf
테니스 [tenisseu] tenis
스포츠 [spocheu] olahraga
좋아하다 [joahada] suka
자연 [jayeon] alam
아름답다 [areumdaptta] indah
사람들 [saramdeul] orang-orang
친절하다 [chinjeol-hada] ramah tamah
취미 [chwimi] hobi
주말 [jumal] akhir pekan

주말 잘 보내셨어요? [Jumal jal bonaesyeosseyo?] Apakah anda melewatkan akhir pekan dengan menyenangkan?
친구 [chin-gu] teman
친구랑(친구와) [chin-gurang(chin-gu wa)] dengan teman
산 [san] gunung
북한산 [bukansan] gunung Bukhan
등산 [deungsan] pendakian gunung
등산하다 [deungsanhada] mendaki gunung
좋아하다 [joahada] suka
아주 [aju] sekali
거의 [geo-ui] hampir
가장 [gajang] paling
제일 [je-il] sekali
특히 [teuki] khususnya
가을 [ga-eul] musim gugur
단풍 [danpung] warna dedaunan musim gugur
아름답다 [areumdaptta] indah
아내 [anae] isteri
영화 [yeong-hwa] film
영화를 보다 [yeong-hwareul boda] menonton film
재미있다 [jaemi itta] menarik
자주 [jaju] sering
영화감상 [yeong-hwa gamsang] menonton film
약속 [yakssok] janji
지금 [jigeum] sekarang
몇 시예요? [Myeotssiyeyo?] Pukul berapa?
3시 [sesi] pukul 3
30분 [samsippun] 30 menit
벌써 [beolsseo] sudah
서두르다 [seodureuda] tergesa-gesa
왜 [wae] sebabnya
왜 그러세요? [Wae geureoseyo?] Apa sebabnya?
만나다 [mannada] bertemu
본관 [bon-gwan] gedung pusat
출발하다 [chulbalhada] berangkat
늦다 [neutta] terlambat
늦지 않다 [neujji anta] tidak terlambat
먼저 [meon jeo] dulu
내일 또 만나요. [Nae-il tto mannayo.] Bertemu kembali besok.
생일 [saeng-il] hari ulang tahun
초대 [chodae] undangan
내일 [nae-il] besok
저녁 [jeonyeok] malam
시간 있어요? [sigan isseoyo?] Adakah waktu?
집 [jip] rumah
아, 그래요? [A, geuraeyo?] Ah, begitu?
몇 시쯤 [myeossijjeum] sekitar jam berapa
부인 [bu-in] isteri
함께 [hamkke] bersama
어서 오세요. [Eoseo oseyo.] Selamat datang.
말씀 많이 들었어요. [Malsseum mani deureosseoyo.] Sering kali mendengar kabar tentang anda.
저는 000라고 합니다. [Jeoneun 000rago hamnida.] Saya 000.
초대해 주셔서 감사합니다. [Chodaehae jusyeoseo gamsahamnida.] Terima kasih atas undangan.
생일을 축하하다 [Saeng-ireul chukahada] selamat hari ulang tahun
선물 [seonmul] hadiah
멋진(멋지다) [meojjin(meojjida)] bagus (cantik)
넥타이 [nektai] dasi
색상(색깔) [saekssang(saekkal)] warna
마음에 들다 [maeume deulda] suka
마음에 드세요? [Maeume deuseyo?] Apakah anda suka?
제일 좋아하는 색 [jeil joahaneun saek] warna yang paling anda sukai
진수성찬 [jinsuseongchan] sajian masakan luar biasa
입에 맞다 [ibe matta] cocok untuk selera
많이 드세요. [Mani deuseyo.] Silahkan makan.?
정말 [jeongmal] betul-betul
맛있다 [masitta] enak
케이크 [keikeu] kue
촛불 [choppul] api lilin
촛불을 켜다 [choppureul kyeoda] menyalakan api lilin
촛불을 끄다 [choppureul kkeuda] meniup api lilin

Belajar Bahasa Korea

어디 [eodi] dimana
가다 [gada] pergi
똑바로 [ttokbaro] terus
오른쪽 [oreunjjok] sebelah kanan
왼쪽 [oenjjok] sebelah kiri
앞 [ap] depan
뒤 [dwi] belakang
건너편[geoneopyeon] seberang
이쪽 [i jjok] sebelah sini
저쪽 [jeo jjok] sebelah situ
여기 [yeogi] sini
저기 [jeogi] situ
택시정류장[taeksi jeongryujang] halte taksi
지하철 역 [jihacheol yeok] stasiun kereta listrik bawah tanah
지하도 [jihado]
jalan di bawah tanah
건너다 [geoneoda] menyeberangi

걷다 [geotda] berjalan kaki
돌다 [dolda] berputar
돌아가다 [doragada] kembali
두 번째 [du beonjjae] yang ke-2
국제어학원 [gukjeeohagwon] institut kursus bahasa
internasional
근무시간 [geunmusigan] jam kerja
점심시간 [jeomsimsigan] jam makan siang
약속 [yaksok] perjanjian
휴가 [hyuga] cuti
회의실 [hoeuisil] ruang rapat
호실 [hosil] nomor kamar
신분증 [sinbunjeung] kartu identitas
원서 [wonseo] surat permohonan
졸업증명서 [joreopjeungmyeongseo] ijazah
성적증명서 [seongjeokjeungmyeongseo] daftar nilai명함 [myeongham] kartu nama
서류 [seoryu] surat / dokumen
수업 [sueop] pelajaran / kuliah
등록금 [deungrokgeum] biaya perkuliahan
상담하다 [sangdamhada]
konsultasi
작성하다 [jakseonghada] mengisi
제출하다 [jechulhada] menyerahkan
접수하다 [jeopsuhada] menerima
신청하다 [sincheonghada] melamar
출근하다 [chulgeunhada] masuk kantor
퇴근하다 [toegeunhada] pulang

Belajar bahasa Korea … Percakapan dirumah teman …

1. A : 오늘 우리 집에 올 수 있으세요?
[Oneul uri jibe ol su isseuseyo?]
Dapatkah anda datang ke rumah saya hari ini?
B : 오늘은 친구와 약속이 있어서 갈 수 없습니다.
[Oneureun chinguwa yaksogi isseoseo gal su eobseumnida.]
Saya tidak bisa datang karena ada janji dengan teman hari ini.

2. A : 이번 주 토요일에 집들이를 하려고 하는데 시간 있으세요?
[Ibeon ju toyoire jibdeurireul haryeogo haneunde sigan isseuseyo?]
Saya mau mengadakan pesta selamatan rumah baru pada hari Sabtu ini. Anda punya waktu?
 
B : 네, 토요일은 괜찮아요.
[Ne, toyoireun gwaenchanayo.]
Ya, saya bisa hari Sabtu.

3. A : 이번 주말에 우리 아들 돌잔치를 하는데 올 수 있으세요?
[Ibeon jumare uri adeul doljanchireul haneunde ol su isseuseyo?]
Saya mau mengadakan pesta hari ulang tahun pertama anak saya pada akhir minggu ini. Anda bisa hadir?
 
B : 어떡하죠? 저는 내일 중국으로 돌아가서 갈 수 없습니다.
[Eotteokajyo? Jeoneun naeil junggugeuro doragaseo gal su eobseumnida.]
Bagaimana, ya? Saya tidak bisa hadir karena besok saya pulang ke Cina.

4. A : 제 결혼식 청첩장인데 시간되시면 참석해 주세요.
[Je gyeolhonsik cheongcheopjanginde sigandoesimyeon chamseokae juseyo.]
Ini kartu undangan pernikahan saya. Kalau ada waktu tolong hadir.
 
B : 물론이죠. 시간 내서 꼭 가겠습니다.
Mullonijyo. Sigan naeseo kkok gagesseumnida.]
Tentu saja. Saya pasti akan datang.

5. A : 집들이라면 이사하신 건가요?
[Jibdeuriramyeon isahasin geongayo?]
Pesta selamatan rumah baru? Anda pindah rumah?
 
B : 네, 보름 전에 회사 근처로 이사했습니다.
[Ne, boreum jeone hoesa geuncheoro isahaesseumnida.]
Ya, 15 hari yang lalu saya pindah rumah di dekat kantor.

6. A : 보통 한국에서는 집들이에 갈 때 어떤 선물을 하나요?
[Botong hangugeseoneun jibdeurie gal ttae eotteon seonmureul hanayo?]
Biasanya di Korea kado apa yang dibawa untuk pesta selamatan rumah baru?
 
B : 휴지나 세제를 사 갑니다.
[Hyujina sejereul sa gamnida.]
Yang dibawa adalah tisu dan detergen.

7. A : 내일 생일파티에는 저 혼자만 초대하신 건가요?
[Naeil saengilpatieneun jeo honjaman chodaehasin geongayo?]
Apakah saya sendiri saja yang diundang untuk pesta hari ulang tahun besok?
 
B : 아니요, 한국어를 배웠던 친구 모두를 초대했습니다.
[Aniyo, hangugeoreul baewotdeon chingu modureul chodaehaesseumnida.]
Tidak, saya mengundang semua teman yang pernah belajar bahasa Korea bersama-sama.

8. A : 윤하씨 집에는 어떻게 가나요?
[Yunha ssi jibeneun eotteoke ganayo?]
Bagaimana caranya ke rumah pak Yun-ha?
 
B : 학교 앞에서 421번 버스를 타면 됩니다.
[Hakgyo apeseo sabaekisibilbeon beoseureul tamyeon doemnida.]
Bisa naik bus nomor 421 di depan kampus.

Sinopsis Playful Kiss Episode 8

Ha Ni dan Papah ternyata pindah ke lantai atas di Restaurant Mie milik keluarga mereka. Ha Ni pagi-pagi sudah bangun dan menatap keluar jendela. Papah masuk ke kamar Ha Ni dan bertanya, “Apa yang kau lihat? ” Ha Ni menjawab, “Aku melihat jalan di bawah sana. Orang-orang yang berjalan, gang-gang itu… Aku menyukainya. Ini menyenangkan dan benar-benar menyegarkan.” Papah berkata, “Kita akan tinggal disini sementara aku akan mencari tempat tinggal yang baru. Walaupun ini tidak nyaman tapi bersabarlah sebentar.” Ha Ni berkomentar, “Tidak apa-apa. Aku menyukai lingkungan ini.” Papah bilang bahwa lingkungan ini masih agak Kuno sehingga terasa lebih emosional. Ha Ni tertawa ceria dan bilang bahwa dia sangat menyukai lingkungan ini. Papah senang dan mengajak Ha Ni turun untuk makan bersama.

Ha Ni turun ke Restaurant dan bertemu dengan Joon Gu. Joon Gu tentu saja senang Ha Ni pergi dari rumah Seung Jo. Joon Gu menyiapkan makanan untuk Ha Ni dan dia berkata, “Aku tau bahwa kau akan kembali. Bagaimanapun juga aku tidak percaya bahwa kita bisa kembali bersama secepat ini.” Papah datang dan memarahi Joon Gu, “Hey apa maksudmu dengan ‘kembali bersama’?” Joon Gu menjawab, “Papah… Kita tinggal dan bernafas di tempat yang sama, bukankah itu namanya hidup bersama?”

Papah mencoba bercanda dengan mengusir Joon Gu pergi jika mengganggu Ha Ni terus. Joon Gu jelas tidak mau diusir begitu saja. Papah memberikan kode pada Joon Gu agar tidak banyak bicara karena Ha Ni terlihat masih sedih dan hanya diam sejak tadi. Papah membukakan makanan untuk Ha Ni dan meminta Ha Ni untuk makan yang lahap.

Di rumah Seung Jo. Ibu Seung Jo benar-benar sedih dan mengurung diri di kamar. Seung Jo masuk ke kamar ibunya dan berkata, “Jangan diam saja dirumah. Pergilah kesuatu tempat untuk mengambil foto dan bertemu dengan teman-temanmu.” Ibu Seung Jo berkata, “Aku bahkan tidak memiliki semangat untuk melakukan apapun juga. Apakah kamu baik-baik saja? Apa kamu tidak merasa ada yang salah padamu?” Seung Jo menjawab, “Aku baik-baik saja dan merasa nyaman.”

Ibu Seung Jo menatap Seung Jo dan berkata, “Kenyamanan? Apa yang kamu maksudkan dengan kenyamanan hah? Tidak ada satupun yang tidak bisa kamu lakukan? Melakukannya segalanya sendirian? Bukankah itu sebabnya kenapa kamu begitu pendiam dan terjebak dalam kehidupanmu sendiri? Kamu tidak pergi ke Universitas Tae San dan lebih memilih pergi ke Universitas Parang, Bukankah tujuanmu agar kau mandiri?” Seung Jo diam saja tidak mengatakan apapun.

Malamnya di Restaurant. Joon Gu memberikan makanan pada Papah dan meminta Papah untuk mencoba menyicipi makannnya. Joon Gu berkata, “Ha Ni… Sekarang ini dia tidak seperti yang dulu. Aku mulai mengkhawatirkannya. Apakah menurutmu aku perlu menelfonnya untuk menghibur dia?” Papah tentu tidak setuju jika Joon Gu menelfon Ha Ni selarut ini. Joon Gu berkata lagi, “Ha Ni terlihat paling cantik jika tersenyum. Aku melakukan ini hanya karena akhir-akhir ini dia selalu terlihat sedih. Aku akan mengembalikan senyumnya dalam sekejap.” Tidak bisakah anda mengijinkanku mengajak Ha Ni berkencan pada malam ini? Papah bertanya, “Kau akan mengembalikan senyumannya? Kalau begitu baiklah…”

Joon Gu langsung bersemangat dan menelfon Ha Ni untuk mengajak Ha Ni kencan pada malam ini.

HP Ha Ni terus berbunyi dan Ha Ni tau bahwa ada seseorang yang menelfonnya namun dia sedang tidak ingin mengangkat telfon dari siapapun sehingga dia terus mendiami telfon itu dan menatap keluar jendela.

Joon Gu kecewa karena Ha Ni tidak juga mengangkat telfonnya. Papah bertanya, “Ada apa?” Joon Gu menjawab dengan sedih, “Dia tidak mengangkat telfonnya.” Papah kembali bertanya, “Benarkah?” Joon Gu menganggukan kepala dan benar-benar merasa kecewa.

Eun Jo bilang pada Seung Jo bahwa Papah membagi beberapa pekerjaan rumah karena Ibunya itu masih tidak mau keluar kamar dan mengerjakan pekerjaan rumah. Tugas Seung Jo cukup banyak karena tidak mungkin Eun Jo yang mencuci piring dan juga memasak.

Seung Jo pergi ke lemarinya untuk mengganti baju. Di lemarinya, Seung Jo menemukan kotak hadiah dari Ha Ni dulu dan dia membuka kotak itu dan menemukan garpu kecil yang di beri Ha Ni. Seung Jo ingat bahwa dulu Ha Ni lah yang telah mendorongnya agar ikut Ujian masuk Universitas.

 Seperti biasa Ha Ni bertemu dengan Joo Ri dan Min Ah di taman. Ha Ni bercerita bahwa dia sudah tidak tinggal di rumah Seung Jo lagi. Min Ah berkomentar, “Benarkah? Aku pikir kau akan selalu tinggal disana.” Sedangkan Joo Ri berkomentar, “Kamu akan kehilangan keuntunganmu tinggal disana sedikit demi sedikit.” Ha Ni bilang pada teman-temannya itu bahwa dia juga akan segera menyerah mengejar Seung Jo. Jelas saja Joo Ri dan Min Ah kaget dan bilang bahwa Ha Ni yang keas kepala tidak mungkin menyerah begitu saja. Ha Ni berkata bahwa dia sdah berubah dan tidak akan mengejar Seung Jo karena dia merasa tidak ada kesempatan lagi. Ha Ni berkata, “Aku sudah membicarakan hal ini dengan Papah dan ya aku akan mencari pacar yang lebih keren dari dia. Selamat tinggal Baek Seung Jo!”

Joo Ri mengajak Ha Ni makan siang karena dia tidak izin keluar dari salon jadi ya dia harus makan dengan cepat. Min Ah juga mengajak makan karena dia masih ada kelas kuliah. Ha Ni bilang bahwa dia tidak lapar jadi sebaiknya Joo Ri dan Min Ah pergi terlebih dahulu saja dan nanti dia akan menyusul. Joo Ri berkata, “Ya jika kau seperti ini maka kau tidak terlihat seperti Oh Ha Ni yang aku kenal.” Min Ah bertanya, “Apakah kau takut akan bertemu dengan Baek Seung Jo di kantin?” Ha Ni menjawab, “Mungkin jika aku bertemu Seung Jo maka perasaanku akan berubah kembali.” Min Ah dan Joo Ri sama sama geleng kepala dan bilang bahwa Ha Ni sepertinya tidak akan bia mencintai laki-laki lain selain Seung Jo.

Min Ah menyarankan agar Ha Ni lebih sering bertemu Seung Jo agar terbiasa dan mulai melupakan Seung Jo. Joo Ri setuju dengan saran Min Ah karena tidak mungkin Ha Ni terus menghindari Seung Jo yang satu kampus dengan dia. Ha Ni hanya isa terdiam. Joo i bilang bahwa dia sangat lapar jadi dia memaksa Ha Ni untuk segera pergi ke kantin kampus.

Saat Ha Ni, Joo Ri dan Min Ah berjalan masuk ke kampus, banyak sekali orang-orang yang melihat ke arah mereka dan saling berbisik-bisik. Ternyata Ha Ni di lihat begitu karena ada poster besar di kantin kampus yang berbunyi, “Oh Ha Ni sudah menyerah akan Baek Seung Jo dan mereka sudah putus!” Dan tentu saja yang membuat poster itu adaah Joon Gu.

Ha Ni, Min Ah dan Joo Ri langsung masuk ke kantin dan marah-marah ke Joon Gu. Ha Ni sangat kesal dan bertanya, “Hey Boon Joon Gu, apa yang kau lakukan hah?” Joon Gu justru balik bertanya, “Ha Ni kau mau makan apa? hari ini ada nasi daging special.” Ha Ni jelas sangat marah dan bilang bahwa dia ini sedang tidak bercanda. Joo Ri berkata, “Boon Joon Gu kau cari mati!” Min Ah juga berkata, “Kau bagaimana jika Seung Jo melihat ini hah?” Joon Gu menjawab, “Seung Jo? Dia sudah mengetahuinya. Itu dia.”

Ha Ni, Joo Ri, Min Ah membalikan badan dan melihat sudah ada Seung Jo dan He Ra di belakang mereka dan sedang melihat poster itu. He Ra terlihat tersenyum dan berkata, “Wow ini sungguh membosankan. Sabarlah Baek Seung Jo. Apakah ini caramu Ha Ni untuk menarin perhatian Seung Jo?” Joon Gu tidak suka He Ra memperlaukan Ha Ni seperti itu makanya dia memarahi He Ra. Tiba-tiba Ha Ni berkata, “Tidak. Aku sudah melupakan Seung Jo. Baek Seung Jo sudah tidak ada hubungan apapun denganku. Dan kami tidak tinggal bersama lagi. Kami hanya… dua orang yang tidak saling kenal.”

Seung Jo tidak berkata apa-apa dan dengan dinginnya dia berjalan melewati Ha Ni untuk memesan makanan. Ha Ni sangat sedih makanya dia langsung berlari keluar kantin dan Joo Ri, Min Ah langsung mengejarnya. Joon Gu terus memanggil nama Ha Ni namun Ha Ni tidak kembali. Ha Ni pergi ke luar gedung dan Joo Ri, Min Ah memilih untuk tidak mengikuti Ha Ni agar Ha Ni bisa menenangkan diri.

Ha Ni mengumpulkan bola bola tennis dengan lesu dan Kyung Soo langsung memarahi Ha Ni dan meminta Ha Ni bekerja dengan cepat. Ha Ni meminta waktu sebentar karena dia sangat lelah. Kyung Soo tidak mempedulikannya dan terus memarahi Ha Ni. Akhirnya Ha Ni tidak ada pilihan lain dan langsung mengumpulkan bola dengan cepat.

Ha Ni benar-benar lelah dan dia berjalan memasuki ruang klub tennis. Ha Ni masuk ke dalam ruang klub dan sangat kaget saat melihat ada Seung Jo. Seung Jo berkata, “Aku dengar kau hanya mengumpulkan bola saja.” Ha Ni tidak mempedulikan kata kata Seung Jo dan bertanya, “Kenapa kamu ada disini?” Seung Jo menjawab, “Kenapa aku disini? tentu saja karena aku ini anggota klub.” Ha Ni berkata dalam hati, “Aku berusaha menghindarinya bahkan aku tidak masuk kedalam kelas Bahasa Inggris tapi kenapa harus bertemu disini?”

Kyung Soo masuk ke ruang klub dan bilang bahwa klub mereka ini akan ada pertaningan dan ada pelatihan selama 3 hari 2 malam dan tentu saja Seung Jo harus ikut juga. Seung Jo bilang bahwa dia tidak mau ikut. Kyung Soo bertanya, “Kenapa?” Seung Jo menjawab, “Menurut perjanjian aku boleh datang kapanpun yang aku mau.” Kyung Soo lalu berkata, “Karena kita ini pemain maka ayo bertaruh engan bertanding. Jika kamu menang maka kamu tidak perlu pergi dan jika aku yang menang maka kau harus ikut pergi. Ah ya bagaimana jika pertandingan ganda? Akan lebih menyenangkan. Kamu berpasangan dengan Ha Ni. Dan aku mungkin bisa berpasangan dengan He Ra.” Ha Ni dan Seung Jo sama-sama kaget dan berkata, “APA?”

Ibu Seung Jo pulang ke rumah dan bertanya pada Eun Jo, “Apakah Kakakmu ada diatas? Hari ini dia tidak ada kelas di kampus jadi seharusnya dia diam di kamarnya dan membaca.” Eun Jo menjawab, “Tidak… dia pergi keluar setelah mengambil tas tennis.” Ibu Seung Jo ingat bahwa Seung Jo itu ikut klub tennis. Ibu Seung Jo mendapatkan ide dan menelfon pihak kampus, “Aku Ibu Seung Jo. Bisakah aku mengetahui klub apa yang diikuti oleh Oh Ha Ni? Omo? Benarkah?”

Ibu Seung Jo pergi ke kampus dan dia sudah tau bahwa Ha Ni ternyata satu klub dengan Seung Jo yaitu klub tennis. Ibu Seung Jo bertanya pada mahasiswa, “Kau apa tau Oh Ha Ni? Ah mungkin kau tidak tau. Hmm kalau begitu apa kalian tau tempt klub tennis?” Mahasiswa itu saling berbisik dan bilang bahwa mereka tau mengenai Oh Ha Ni. Ibu Seung Jo kaget, “Kalian mengetahui Oh Ha Ni?” Mahasiswa itu menjawab, “Ya di kantin kampus tadi ada poster mengenai hubungan Oh Ha Ni dan Baek Seung Jo sudah putus.” Ibu Seung Jo langsung bilang, “Putus? Tidak tidak! Itu tidak akan mungki terjadi. Bilang pada mahasiswa lain bahwa mereka berdua tidak putus!” Mahasiswa itu kebingungan dan bertanya, “Siapa anda ini?” Ibu Seung Jo menutup wajahnya dan langsung pergi.

Ibu Seung Jo terus menanyakan Klub Tennis pada mahasiswa lain namun tidak ada yang tau. Akhirnya Ibu Seung Jo bertemu dengan Min Ah dan Joo Ri dan mereka pun mengobrol akrab. Joo Ri bertanya, “Kenapa anda berpakaian seperti ini?” Ibu Seung Jo menjawab, “Aku sedang menyamar. Apakah ini ketauan?” Joo Ri dan Min Ah langsung mengangguk. Min Ah bertanya, “Apakah anda datang untuk melihat Ha Ni bermain tennis?” Ibu Seung Jo menjawab, “Tentu saja. Apakah aku hanya bisa diam di rumah sementara Ha Ni bermain tennis?” Min Ah bilang bahwa Ibu Seung Jo telat datang karena latihan hari ini sudah berakhir dan nanti malam akan ada pertandingan dimana Ha Ni dan Seung Jo akan jadi satu grup tim. Jelas saja Ibu Seung Jo senang mendengarnya.

Tapi Min Ah bilang bahwa Ha Ni berusaha melupakan Seung Jo. Ibu Seung Jo kaget dan bertanya, “Melupakan? Kenapa?” Min Ah bilang bahwa dia awalnya berfikir Ha Ni dan Seung Jo itu hubungannya baik-baik saja. Joo Ri juga setuju dan bilang bahwa dia berfikir Ha Ni dan Seung Jo baik-baik saja apalagi pada malam kelulusan mereka sudah berciuman dan yang memulai mencium adalah Seung Jo. Ibu Seung Jo jelas sangat kaget mendengar hal ini tapi dia justru sangat senang. Ibu Seung Jo pun bertekad akan membawa Ha Ni kembali ke rumah mereka walaupun Seung Jo menentangnya.

Malamnya pertandingan antara SeungJo Ha Ni dan Kyung Soo He Ra pun di mulai. Ha Ni ketakutan dan meminta Seung Jo menyerah saja karena mereka pasti kalah. Seung Jo tentu tidak mau menyerah dan bilang bahwa Ha Ni tidak perlu memukul bola dan menghalanginya.

Ha Ni memanggil He Ra dan berkata, “Anggap saja tidak ada aku di lapangan ini jadi jangan mengarahkan bola padaku. Mengerti?” He Ra berkomentar, “Aku ingin pergi ke pelatihan bersama Seung Jo jadi tentu saja aku tidak akan menyerah. Berusahalah mengambil bola itu.” He Ra langsung pergi meninggalkan Ha Ni dengan senyuman merendahkan dan tentu saja Ha Ni jadi panik.

Pertandingan di mulai dan Ha Ni beberapa kali menjadi penghalang bagi Seung Jo sehingga mereka kehilangan beberapa point tapi Seung Jo berhasil membuat kedudukan sama. Seung Jo bilang pada Ha Ni agar tidak menghalangi dia karena ini adalah pukulan yang terakhir. Ha Ni mengerti dan berusaha tidak menghalangi Sung Jo tapi ternyata bola pukulan dari Kyung Soo mengarah ke Ha Ni dan Ha Ni ketakutan sehingga dia tidak memukul bola itu dan si bola mengenai lengannya. Ya mereka kalah dan itu artinya Seung Jo harus mau ikut ke pelatihan.

Seung Jo berkata pada Ha Ni, “Terima kasih Oh Ha Ni, berkatmu semenjak aku di lahirkan ini adalah pertama kalinya aku kalah! Rasanya menyenangkan.” Ha Ni meminta maaf dan bilang bahwa dia dari awal sudah mau menyerah.

Kyung Soo dan He Ra datang menghampiri dan mengejek Seung Jo si tuan sempurna yang akhirnya mendapatkan kegagalan. Seung Jo bilang bahwa suatu hari nanti akan membalasnya. Kyung Soo setuju lalu menyarankan agar ada pertandingan saat diadakan pelatihan. Ha Ni kaget karena itu artinya pertandingan akan di adakan minggu depan. Kyung Soo bertanya, “Kenapa? Kau tidak sanggup? Tapi memag seberapa jenius dirimu tapi rasanya 1 minggu tidak mungkin, benar?” Seung Jo jelas tidak mau kalah makanya dia menjawab, “Baiklah. Aku setuju minggu depan kita akan bertanding.” He Ra dan Ha Ni sama-sama kaget mendengar itu dan tentunya yan paling kaget adalah Ha Ni.

Ha Ni membawa peralatan tennisnya dan bertemu dengan Seung Jo. Seung Jo bilang bahwa waktu mereka hanya 1 minggu untuk berlatih dan mereka pasti menang. Ha Ni bertanya, “Apakah menurutmu ini masuk akal?” Seung Jo menjawab, “Dulu kau memintaku meningkatkan rengkingmu dari rengking terbawah masuk ke 50 besar hanya dalam 1 minggu. Kau pikir ini masuk akal? Kemana hilangnya percaya dirimu itu?”

Malam hari mereka mulai latihan dan tentu saja Ha Ni merasa sangat kelelahan karena Seung Jo terus melatihnya. Saat Seung Jo mengajari Ha Ni memegang raket yang benar, itu membuat Ha Ni merasa deg degan karena tangan Seung Jo menggenggam tangannya.

He Ra membawakan kopi untuk Seung Jo dan dia bilang bahwa Ha Ni sepertinya benar-benar berusaha melakukan yang terbaik tapi tetap saja 1 minggu rasanya kurang mungkin akan memenangkan pertandingan itu. seung Jo tersenyum dan berkata, “Ini menyenangkan. Oh Ha Ni memiliki keinginan yang besar. Dia luar biasa. Jika dia serius dalam melakukan sesuatu dan berusaha keras, dia pasti mendapatkannya.” He Ra berkomentar, “Tentu saja kau tidak mengerti arti bekerja keras yang sesungguhnya karena kau tiak pernah merasakannya.” Seung Jo berkata, “Bukankah kau juga begitu?”

Ha Ni tidak hanya latihan di kampus, dia juga berlatih di rumah agar tidak mengecewakan Seung Jo. Tapi muskipun sudah berlatih sesering mungkin, kemampuan Ha Ni tetap payah karena dia tidak bisa bahkan tidak berani menangkap bola yang di lemparkan oleh Seung Jo. Seung Jo terus memarahi Ha Ni dan meminta Ha Ni untuk memukul bolanya namun Ha Ni terus menerus gagal.

Joon Gu meminta izin pada Papah untuk ikut Ha Ni ke peltihan Tennis yang di selenggarakan 3 hari 2 malam karena dia takut akan terjadi sesuatu antara Ha Ni dan Seung Jo. Papah menolak dan berkata, “Sampai kapan kau akan terus mengejar-ngejar dia? Tidak bisakah kau membuat dia yang datang padamu? Kamu harus memiliki rasa hormat. Karena kau selalu mengikutinya maka kau jadi tergila-gila padanya dan dia tidak akan mengakuimu kalau begini. Dan ubahlah model rambutmu itu. Rambut supermen itu bukan tipe kesukaan Ha Ni.” Joon Gu pun mulai berfikir.

Ha Ni diam di kamarnya dan berkata, “Aku sudah memutuskan tekadku dengan bulat untuk melupakannya tai jika aku memikirkan akan menghabiskan wkatu bersama Seung Jo beberapa hari… hatiku terus berdebar-debar. Apa yang harus aku lakukan?”

Pagi-pagi Ha Ni pergi dari rumah untuk mengikuti pelatihan Tennis. Joon Gu mengejarnya dan memberikan bekal makan untuk Ha Ni. Joon Gu bersikap cuek dan dingin di depan Ha Ni dan itu membuat Ha Ni merasa kebingungan. Joon Gu masuk ke dalam rumah dan sifat aslinya langsung keluar, “Huh itu tadi bukan gayaku yang sebenarnya. ternayata sangat sulit untuk bersikap seperti itu di depan orang yang kita cintai.”

Pelatihan di mulai dan Kyung Soo marah-marah pada anggota klub karena berpakaian seperti akan jalan-jalan padahal mereka ini akan berlatih. Kyung Soo memberikan wkatu 5 menit untuk para anggotanya mengganti pakaian. seorang anggota bilang bahwa dia mau berganti baju jika semua anggota tim sudah lengkap. Kyung Soo bertanya, “Siapa saja yang belum datang?” Anggota tim pun bilang bahwa yang belum datang adalah Seung Jo, He Ra dan Ha Ni. Kyung Soo bilang bahwa Seung Jo dan He Ra adalah anggota khusus sehingga boleh datang kapan saja tapi Ha Ni adalah anggota biasa jadi seharusnya datang tepat waktu.

Ibu Seung Jo datang ke Restaurant Papah dengan menaiki sepedah. Ternyata sepedah yang di pakai oleh Ibu Seung Jo itu akan di berikan kepada Ha Ni. Papah ingin menolak namun dia tidak bisa menolak karena Ibu Seung Jo terus memaksanya. Ibu Seng Jo bertanya, “Apa kau menyukai tinggal disini? Kau tau aku ini terkenal penyakit depresi yang cukup serius.” Papah hanya tersenyum dan bilang bahwa dia tau kalau Ibu Seung Jo sempat depresi di tinggal Ha Ni.

Ibu Seung Jo bilang bahwa dulu di rumah itu hanya dia yang menjadi pengacau sebelum Ha Ni datang dan Seung Jo juga Eun Jo adalah orang yang cuek dan suaminya sangat sibuk sehingga dia sering merasa kesepian sekali. Tapi setelah Ha Ni datang, suasana di rumah sangat ramai dan dia merasa benar-benar hidup. Ibu Seung Jo berkata, “Bisakah jika kalian kembali ke rumah kami? Aku tau kalau aku ini egois dan selalu berusaha menjodohkan dia dengan Seung Jo tapi aku yakin bahwa Ha Ni pasti juga merasa kesepian disini.” Papah bilang bahwa dia sebenarnya ingin pindah juga namun dia memikirkan perasaan Ha Ni jika Seung Jo nantinya memiliki pacar. Ibu Seung Jo jelas langsung sedih mendengar hal itu.

Semua anggota klub sedang rapat dan di bagikan jadwal latihan hari ini. Kyung Soo tiba-tiba memanggil Ha Ni dan bilang bahwa Ha Ni tidak usah ikut latihan sore karena Ha Ni harus memasak makan malam. Ha Ni tidak mau tapi Kyung Soo bilang bahwa itu adalah hukuman untuk Ha Ni karena datang terlambat. Seung Jo mendengar pembicaraan itu dan bilang bahwa Ha Ni seharusnya berlatih untuk pertandingan nanti dan bukannya di suruh untuk membuat makanan oleh Kyung Soo.

Kyung Soo bilang bahwa latihan adalah masalah Seung Jo dan Ha Ni. Seung Jo bertanya, “Kenapa? Kamu tidak membiarkannya latihan karena takut kalah kan?” He Ra juga mendengar hal itu dan bertanya pada Kyung Soo, “Senior… Apakah kepecayaan dirimu serendah itu?” Kyung Soo kebingungan dan langsung pergi.

Seung Jo meminta Ha Ni segera masak makan maam agar latihan mereka bisa berjalan lebih cepat dan mereka harus menang pada pertandingan mendatang. Seung Jo langsung pergi meninggalkan Ha Ni. He Ra melihat Ha Ni dan berkata, “Seertinya akan sulit memasak sendiri. Aku tidak tertarik membantumu tapi aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Ya seperti yang kau lihat, aku tertarik pada Seung Jo dan akan mengungkapkannya. Itu tidak apa-apa kan? Aku merasa seperti merebut permen dari bayi jadi aku mengatakannya padamu.” Ha Ni kesal namun dia berkata, “Aku tidak apa-apa jadi silahkan saja.”

Ha Ni mulai memasak namun dia sama sekali tidak bisa memasak. Seung Jo datang dan meminta Ha Ni ceat memasaknya karena harus latihan. Ha Ni meminta bantuan Seung Jo memasak dan akhirnya Seung Jo membantu Ha Ni. Ha Ni jelas senang melihat Seung Jo memasak.

Semua anggota tim benar-benar kaget melihat masakan yanga da di meja makan karena sangat banyak dan rasanya enak. Semua menyangka bahwa itu adalah masakan Ha Ni sehingga mereka memuji Ha Ni. Seung Jo diam-diam ikut tersenyum senang. Seorang anggota tim berkata, “Hey Baek Seung Jo, kau seharusnya memuji masakan Oh Ha Ni ini!” Seung Jo diam saja dan Kyung Soo berkata, “Dia itu pelit pujian!” Seung Jo hanya makan sedikit lalu mengajak Ha Ni untuk latihan.

Di rumah Seung Jo. Ibu Seung Jo bilang bahwa dia penasaran dengan apa yang kini sedang di lakukan oleh Ha Ni dan Seung Jo di tempat latihan. Bapa Seung Jo bilang bahwa dia mulai merasakan bahwa rumah terasa sangat sepi karena Ha Ni sudah pergi. Ibu Seung Jo pun membujuk suaminya itu agar mengajak Papah dan Ha Ni tinggal kembali di rumah mereka. Baa Seung Jo setuju dan itu membuat Ibu Seung Jo senang. Eun Jo bilang bahwa dia pokonya tidak mau menyerahkan kamarnya begitu saja pada Ha Ni.

Ha Ni dan Seung Jo mulai berlatih kembali. Seung Jo terus memaksa Ha Ni berusaha dengan keras walaupun Ha Ni benar-benar merasa kelelahan. Ha Ni mulai mendapatkan semangatnya lagi dan dia semakin bersemangat saat dia berhasil memukul bola. Seung Jo diam-diam melihat Ha Ni dan ikut tersenyum.

Joon Gu berlatih membuat mie di Resturant dan dia penasaran dengan keadaan Ha Ni sehingga dia ingin menelfon Ha Ni. Namun Joon Gu langsung mematikan HPnya karena dia tidak mau mengganggu Ha Ni. Akhirnya Joon Gu hanya bisa melihat foto Ha Ni di HPnya.

Ketua Tennis memanggil Seung Jo dan bilang bahwa kemarin Seung Jo melewatkan latihan sore. Seung Jo tidak mempedulikan hal itu dan pergi begitu saja.

Ha Ni mendapatkan tugas memasak kembali dan Seung Jo tidak membantunya sehingga hasil masakan Ha Ni pun sangat buruk. Semua anggota tim merasa heran saat melihat masakan Ha Ni karena masakan Ha Ni terlihat gosong. Ha Ni bilang walaupun penampilan masakannya jelek tapi rasanya enak. Kyung Soo meminta seorang anggota tim untuk mencicipinya dan dia langsung terbatuk-batuk karena rasanya tidak enak. Kyung Soo bertanya, “Dimana makanan enak yang kemarin?” Ha Ni menjawab, “Hmm sebenarnya kemarin bukan aku yang memasak.” Kyung Soo keheranan, “Lalu siapa? Bukankah hanya kau yang tidak ikut latihan sore?” Ketua Tennis berkata, “Ah Baek Seung Jo.” Semua menatap Seung Jo dan Seung Jo langsung terbatuk-batuk.

Akhirnya malam itu mereka tidak memakan masakan Ha Ni tetapi memesan makanan lain dan berpesta bersama. He Ra membisikan sesuatu kepada Seung Jo dan menunggu di luar gedung. Ha Ni melihat itu dan langsung panik karena He Ra sepertinya akan menyatakan perasaannya pada Seung Jo.

Seung Jo menghampiri He Ra yang ada di luar dan pergi mencari bangku di taman. Ha Ni diam-diam mengikuti mereka. Ha Ni bilang bahwa dia bukan mengikuti mereka tai berjalan-jalan keluar untuk mencari udara segar. Tapi tetap saja Ha Ni terus diam-diam mengikuti Seung Jo dan He Ra.

Seung Jo bertanya, “Apa yang mau kau katakan?” He Ra malu-malu dan menjaab, “Hmm aku sedikit kebingungan karena ini benar-benar bukan gayaku tapi ya aku menyukaimu. Bagaimana denganmu? Seperti apa perasaanmu padaku?” Ha Ni kaget mendengar itu dan diam-diam ternyata Kyung Soo juga mengikuti Seung Jo dan He Ra. Ha Ni kaget melihat Kyung Soo dan berfikir, “Jangan-jangan kau menyukai He Ra?”

Terdengar suara ribut dan Seung Jo pun mendatangi sumber suara yang ternyata sumber suara itu berasal dari Ha Ni dan Kyung Soo. Seung Jo berkata, “Sepertinya kalian menikmati waktu menyenangkan tapi aku minta maaf karena aku harus membawa Ha Ni untuk latihan.” Seung Jo menarik tangan Ha Ni dan mengajaknya pergi. He Ra jelas kecewa karena tadi Seung Jo belum menjawab pertanyaannya.

Joon Gu seperti biasa sedang bantu-bantu di Restaurant dan dia berfikir, “Apakah aku harus mengganti gaya rambutku ini? Padahal ini adalah gaya rambut paling keren di lingkungan tempat tinggalku…”

Ha Ni berlatih memukul bola dan Seung Jo terus memperhatikannya. He Ra datang dan bilang pada Seung Jo bahwa Ha Ni sepertinya berjuang dengan gigih. Ha Ni berhasil memukul bola dan itu membuat Seung Jo tersenyum. Ha Ni melompat kegirangan dan terjatuh. Ketua Tennis menghampiri Ha Ni dan bertanya, “Kau tidak apa-apa?” Ha Ni mengangguk.

Seung Jo menghampiri Ha Ni dan memuji perkembangan Ha Ni yang membaik. Seung Jo tersenyum dan Ha Ni tepesona pada Seung Jo yang kini sedang menatapnya dan tersenyum padanya. Ha Ni mencoba berdiri namun dia tidak bisa. Seung Jo khawatir dan memegang pergelangan kaki Ha Ni yang ternyata terluka. Seung Jo berkomentar, “Sudah aku duga, kau bukan Oh Ha Ni jika tidak menyebabkan kekacauan.”

Kyung Soo datang dan bertanya, “Ada apa?” Seung Jo menjawab, “Kita batalkan saja pertandingan nanti malam karena kakinya terluka.” Ha Ni bilang bahwa ini tidak boleh di batalkan karena dia sudah berlatih keras dan mereka harus menang. Seung Jo bilang bahwa Ha Ni tidak mungkin bertanding dengan keadaan kaki yang bahkan tidak bisa di pakai berjalan dengan baik. Ha Ni meminta maaf dan Seung Jo bilang bahwa dia tidak yakin menang walaupun Ha Ni baik-baik saja kakinya.

Seung Jo memaksa Ha Ni naik ke punggungnya dan langsung di gendong oleh Seung Jo. Semua orang pun langsung melihat hal itu dan tentu saja He Ra yang paling cemburu melihat itu. Kyung Soo tiba-tiba berkata, “Hey Baek Seung Jo! Kita harus tetap melakukan pertandingan ini sesuai dengan kesepakatan. Bagaimana bisa kau pergi begitu saja hah?” Seung Jo menjawab, “Apa kita harus melakukannya sekarang? Nanti saja kita lakukannya dan kau bisa melihat sendiri bahwa dia terluka.”

Seung Jo menggendong Ha Ni kearah intu keluar. Ha Ni merasa senang karena di gendong oleh Seung Jo dan dia hanya bisa tersenyum.

Joon Gu merubah penampilannya dan karyawan Restaurant langsung memuji penampilan barunya. Bahkan Papah juga memuji rambut baru Seung Jo yang lebih bagus.

Ada taxi yang berhenti di depan Restaurant dan turunlah Seung Jo dan Ha Ni. Papah dan seluruh karyawan Restaurat sangat kaget melihat Ha Ni yang kesakitan. Seung Jo bilang bahwa Ha Ni terluka saat latihan dan mungkin ini juga karena luka Ha Ni yang dulu daat kecelakaan. Papah berterima kasih pada Seung Jo yang sudah mengantar Ha Ni pulang.

Seung Jo melihat Joon Gu dan berkomentar bahwa Joon Gu sepertinya berubah. Joon Gu kaget mendengar itu dan bilang bahwa Seung Jo telah bersalah karena membuat kaki Ha Ni terluka. Ha Ni meminta Joon Gu tidak marah-marah pada Seung Jo karena ini adalah salahnya. Joon Gu kecewa mendengar hal itu dan langsung pergi.

Malamnya, Joon Gu bertemu Joo Ri dan Min Ah. Joo Ri bertanya, “Apakah Ha Ni tidak berkomentar apapun tentang perubahanmu ini?” Joon Gu menganggukan kepala. Min Ah bilang bahwa Ha Ni tidak berkomentar karena ada Seung Jo pada saat itu. Joo Ri mencoba menghibur Joon Gu dengan mangatakan bahwa rambut Joon Gu sangat bagus. Min Ah juga memuji penampilan Joon Gu yang benar-benar berbeda. Joo Ri berkata bahwa Ha Ni patsi menyukai penampilan Joon Gu. Min Ah menyikut Joo Ri dan bilang bahwa Ha Ni tidak memperhatikan gaya Joon Gu sekarang. Joon Gu benar-benar kecewa karena hal ini dan dia kembali mengingat semua yang sudah dia lewati bersama Ha Ni.

Ha Ni datang ke ruang kelas Seung Jo hanya untuk melihat wajah Seung Jo saja. Tapi ternyata kelas sudah berakhir dan Seung Jo berjalan keluar kelas. Ha Ni takut ketahuan mau melihat Seung Jo sehingga dia buru-buru bersembunyi. Terdengar He Ra mengajak Seung Jo menonton film dan ternyata Seung Jo setuju. Ha Ni bener-bener kaget mendengar hal itu dan memutuskan untuk mengikuti He Ra dan Seung Jo.

Ha Ni mencoba menyamar dengan menggunakan tutup kepala dan kacamata. Dia melihat Seung Jo dan He Ra sedang membeli makanan dan itu membuat Ha Ni berfikir, “Aku selalu memikirkan kencan bersamanya sejak awal tahun di SMA. Bahkan aku selalu memikirkan baju apa yang pantas aku pakai. Aku membayangkan akan menonton film bersama lalu pergi jalan-jalan bersama dan meminum kopi bersama sambil saling menatap. Tapi ternyata hal ini akan dilakukan oleh Seung Jo dan He Ra. Huh.”

Seung Jo dan He Ra mulai masuk ke gedung bioskop dan Ha Ni mencoba bersembunyi agar tidak ketauan. Tapi ternyata saat Ha Ni bersembunyi, dia menabrak Kyung Soo yang juga diam-diam sedang mengikuti He Ra dan Seung Jo. Mereka berdua pun sama-sama kaget.

Kyung Soo mengakui bahwa dia memang suka He Ra dan dia tau kalau Ha Ni menyukai Seung Jo. Kyung Soo bilang bahwa He Ra dan Seung Jo tidak boleh bersama jadi sebaiknya mereka berdua berkolaborasi untuk mengikuti He Ra dan Seung Jo. Ha Ni awalnya tidak setuju namun setelah Kyung Soo membujuknya maka Ha Ni pun setuju.

Ha Ni dan Kyung Soo duduk di bangku belakang Seung Jo dan He Ra. Film yang mereka tonton adalah film romantis dan tentu saja He Ra memanfaatkan suasana ini untuk bersandar di bahu Seung Jo. Ha Ni dan Kyung Soo langsung panik makanya menghalangi kepala He Ra dengan majalah sehingga He Ra malu dan tidak berani bersandar di bahu Seung Jo. Ha Ni dan Kyung Soo takut ketahuan sehingga mereka menutup wajah mereka menggunakan majalah.

Film sudah selesai dan Seung Jo serta Ha Ni pergi keluar gedung bioskop. He Ra hamir tertabrak gerobak dan Seung Jo menyelamatkannya. Kyung Soo kesal melihat itu dan ha Ni berkata dalam hati, “Apa yang aku lakukan disini? Membuntuti mereka dan mengacaukan rencananya? Untuk apa ini di lakukan jika pada akhirnya mereka akan bersama?” Ha Ni benar-benar lemas dan bilang pada Kyung Soo bahwa dia tidak akan mengikuti Seung Jo dan He Ra lagi.

Kyung Soo terus mengajak Ha Ni pergi mengikuti Seung Jo dan He Ra. Ha Ni tetap menolak dan berkata, “Apa salahnya jika mereka berdua memang saling menyukai? Sudahlah tidak ada yang bisa kita lakukan lagi.” Kyung Soo bertanya, “Jadi…. Kamu akan menerimanya begitu saja?” Ha Ni berfikir sesaat dan menjawab, “Aku hanya tidak ingin membuat kebodohan lagi.”

Ha Ni berjalan pergi dan dia menabrak seorang laki-laki yang sedang membawa es krim untuk pacarnya dan karena Ha Ni maka es krim itu kena ke jasnya. Ha Ni benar-benar meminta maaf dan Kyung Soo bilang bahwa akan memberikan uang untuk biaya cuci. Laki-laki itu ternyata meminta uang 1.000.000 won. jelas saja Kyung Soo tidak mampu membayar sebesar itu. Laki-laki itu mengancam akan menghajar Kyung Soo jika Kyung Soo tidak membayar juga. Ha Ni mencoba melerainya namun laki-laki itu justru mendorong Ha Ni hingga terjatuh.

Seung Jo datang dan membantu Ha Ni untuk berdiri. He Ra datang dari belakang dan kebingungan melihat suasananya yang ramai. Ternyata laki-laki itu memiliki sebuah geng dan para anak buahnya keluar dan siap menghajar. Kyung Soo meminta bantuan Seung Jo karena Seung Jo anak orang kaya. Seung Jo kebingungan dan berkata, “Ah aku baiklah…” Si laki-laki itu melepaskan Kyung Soo dan meminta uang dari Seung Jo. Seung Joo memberikan kode pada Kyung Soo. Dan pada hitungan ke 3. Mereka pun kabur.

Seung Jo berlari menarik Ha Ni ke arah kanan, sementara Kyung Soo berlari menarik He Ra ke arah kiri. Seung Jo tersenyum senang saat berlari bersama Ha Ni.

Sinopsis Playful Kiss Episode 7

He Ra menatap Ha Ni dengan tatapan merendahkan, sama seperti tatapan yang selalu ditunjukan oleh Seung Jo pada Ha Ni. Ha Ni tidak enak hati sehingga dia hanya bisa menundukan kepalanya. He Ra pun langsung pergi meninggalkan Ha Ni.

Ha Ni pulang ke rumah dengan lesu. Ha Ni menaiki tangga dan bertemu dengan Seung Jo yang baru keluar kamar. Ha Ni pun bertanya, “Hey! Perempuan yang tadi itu yang bertemu di depan kelasmu…” Seung Jo memotong omongan Ha Ni dan bertanya, “Apakah maksudmu Yoon He Ra?” Ha Ni baru tau kalo nama perempuan tadi adalah He Ra, “Apakah namanya He Ra? Dia seniormu?” Seung Jo keheranan, “Senior? Apakah dia terlihat lebih tua dari kita? Dan lagi dia disebut Dewi di kampus.” Ha Ni bertanya, “Dewi? Dia satu angkatan dengan kita?” Seung Jo menjawab, “Ya. Dia masuk Universitas Parang karena mendapatkan beasiswa juga.” Ha Ni berkomentar bahwa He Ra sangat hebat.

Seung Jo to the point bertanya, “Kenapa? Apakah kau cemburu?” Ha Ni langsung mengelak, “Cemburu? Tidak mungkin. Kenapa aku harus cemburu?” Seung Jo berkomentar bahwa Ha Ni pasti cemburu karena dia dan Ha Ni kan sudah pernah berciuman. Ha Ni kaget mendengar hal itu. Seung Jo mendekat ke Ha Ni dan Ha Ni sudah siap menutup matanya dan dalam hati dia bertanya-tanya, “Apakah ini akan menjadi ciuman yang ke2?” Seung Jo tersenyum lalu pergi meninggalkan Ha Ni tanpa mencium Ha Ni sama sekali.

Ha Ni masuk ke dalam kamarnya dan berkata, “Dia mempermainkan aku lagi. Bagi dia mungkin ciuman tempo hari bukan hal yang istimewa. Itu ternyata hanya lelucon.” Ha Ni benar-benar merasa sedih karena Seung Jo hanya menjadikan dia sebagai lelucon saja.

Di kampus, Ha Ni, Joo Ri, dan Min Ah seperti biasa berjalan-jalan di kampus bersama-sama. Teman-teman Ha Ni bertanya, “Jadi kau tidak benar-benar pacaran dengannya?” Ha Ni terduduk lemas. Joo Ri menyarankan agar Ha Ni lebih agresif pada Seung Jo. Namun Min Ah justru menyarankan agar Ha Ni jangan agresif karena itu akan membuat Seung Jo lebih membenci Ha Ni.

Joo Ri melihat jam lalu berkata, “Ah aku harus pergi. Maaf aku tidak bisa ikut makan siang bersama karena aku sudah mendapatkan pekerjaan di Salon Kecantikan Parang, salon di depan kampus.” Ha Ni dan Min Ah pun langsung memuji Joo Ri yang sangat hebat sudah mendapatkan pekerjaan. Joo Ri bilang bahwa dia mungkin akan sangat sibuk jadi sulit untuk makan siang bersama dengan Ha Ni dan Min Ah. Joo Ri pun langsung pamit pergi.

Min Ah lalu meminta maaf pada Ha Ni karena dia juga tidak bisa makan siang bersama. Ha Ni bertanya, “Kenapa?” Min Ah menjawab, “Sebenarnya hari ini para seniorku mengajak kami anak baru untuk makan siang bersama.” Min Ah benar-benar meminta maaf karena dia tidak bisa makan siang bersama Ha Ni. Ha Ni mengerti dan memperbolehkan Min Ah pergi. Min Ah pun langsung pergi dan Ha Ni berkata, “Huh aku benci makan sendirian…” Ha Ni teringat Seung Jo makanya dia mengeluarkan HPnya dan langsung sms Seung Jo, “Seung Jo, apakah kau tidak ada teman makan siang bersama?”

Ha Ni pergi ke kantin kampus dan menyebutkan nama menunya satu-satu. Tiba-tiba dari belakang Ha Ni ada yang berbisik, “Apakah kau tidak bisa berfikir jika tidak menyebutkannya dengan keras?” Ya itu adalah Seung Jo! Ha Ni kaget dan bilang pada Seung Jo bahwa dia tidak mengira Seung Jo akan datang. Seung Jo meminta menu Hamburger steak dan Ha Ni juga mengikuti memesan menu Hamburger steak. Seung Jo meminta sayuran yang banyak dan Ha Ni juga ikut meminta sayuran yang banyak. Seung Jo kesal karena Ha Ni terus mengikutinya tapi Ha Ni hanya tersenyum senang.

Koki memberikan pesanan mereka berdua dan Seung Jo kaget karena porsi makanannya sangat sedikit sedangkan porsi Ha Ni sangat banyak. Seung Jo pun protes, “Permisi apakah ini tidak salah?” Si koki itu ternyata adalah Joon Gu yang bekerja di bagian kantin Universitas Parang. Joon Gu berkata, “Hey tuan sempurna, apakah kau berani melawanku dalam pembagian makanan?” Seung Jo dan Ha Ni sama-sama kaget saat mengetahui bahwa koki itu adalah Joon Gu.

Ha Ni bertanya, “Boon Joon Gu? Kenapa kau disini? Bukankah kau kerja di Restaurant Papahku?” Joon Gu menjawab, “Ya kau benar tapi aku bekerja di restaurant Papahmu pada malam hari dan bekerja disini pada siang hari. Aku sedang mencari banyak uang sehingga jika kamu mau menikah dengaku maka aku siap kapanpun juga. Aku sudah mempersiapkan segalanya. Saat tau kalau kamu pergi ke Universitas yang sama dengan bajingan ini, kamu pikir aku tidak bisa berbuat apa-apa hah? “

Joon Gu bertanya, “Hey Baek Sung Jo, kau terkejut kan?” Seung Jo menjawab, “Ya aku sangat terkejut! Bagaimana bisa kamu mengejar-ngejar perempuan seperti ini?” Joon Gu bilang bahwa ini adalah yang namanya cinta. Ha Ni meminta Joon Gu agar tidak banyak bicara. Seung Jo meminta koki lain untuk mengganti porsi makannya, Koki kepala melihat itu dan memarahi Joon Gu. Joon Gu tidak terima di marahi begitu saja makanya dia bilang bahwa orang seperti Seung Jo itu pantas mendapatkan porsi makanan yang sedikit.

Seung Jo menerima menu makananya dan pergi meninggalkan Joon Gu. Ha Ni melihat kursi kosong dan menawarkan Seung Jo untuk duduk bersama. Namun ada teman-teman Seung Jo yang memanggil Seung Jo dan mengajak Seung Jo makan satu meja. Akhirnya Seung Jo pergi ke teman-temannya itu dan Ha Ni makan sendirian. Joon Gu yang melihat itu terus memberikan semangat pada Ha Ni.

Ha Ni dan teman-teman barunya sedang berjalan menuju gedung kampus namun Ha Ni meminta teman-temannya untuk pergi duluan karena ada sesuatu yang mau dia lakukan. Ternyata Ha Ni melihat Seung Jo di taman dan langsung duduk di kursi belakang Seung Jo. Saat Ha Ni mau mengajak Seung Jo mengobrol, Ada Kyung Soo -Senior Seung Jo- yang duduk di samping Seung Jo dan mengajak Seung Jo mengobrol lebih dulu.

Seung Jo langsung berkata, “Ah senior… Sudah lama tidak bertemu.” Kyung Soo berkata, “Kau ini juniorku jadi seharusnya kau yang mencariku. Menyedihkan sekali ini.” Kyung Soo lalu to the point mengajak Seung Jo untuk bergabung di Klubnya karena jika Seung Jo ikut maka mereka pasti bisa maju ke tingkat Nasional. Seung Jo menolaknya karena dia sudah lama tidak berlatih. Kyung Soo terus membujuk Seung Jo sehingga Seung Jo pun setuju. Kyung Soo senang dan bilang bahwa dia akan menunggu Seung Jo di ruang Klub.

Ha Ni mendengarkan pembicaraan itu dan kebingungan, “Hmm Klub sekolah?” Seung Jo menyadari kehadiran Ha Ni dan Ha Ni melambaikan tangannya pada Seung Jo. Seung Jo bertanya, “Apakah kau tidak ada jadwal kelas? Kau ini benar-benar mengikutiku terus.” Ha Ni bertanya, “Ngomong-ngomong… Klub apa yang ingin kau ikuti?” Seung Jo menjawab, “Aku tidak akan memberitahumu karena jika kau tau maka kau akan mengikutiku.” Seung Jo langsung berjalan pergi dan Ha Ni bergumam, “Mengikutimu? Siapa bilang aku akan mengikutimu hah?”

Ternyata benar saja dugaan Seung Jo. Ha Ni terus mengikuti Seung Jo. Ha Ni melihat Seung Jo masuk ke sebuah ruangan dan Ha Ni pun ikut masuk ke ruangan itu. Ha Ni sangat kaget saat masuk ke ruangan itu karena itu adalah Ruang Club Kekuatan. Para anggota klub itu juga kaget saat melihat Ha Ni masuk ke ruangan itu. Ha Ni buru-buru pergi dari ruangan itu.

Kyung Soo masuk ke ruang klub dan banyak anggota yang sudah berkumpul. Tiba-tiba Kyung Soo berkata, “Hey kamu silahkan masuk!” Ya yang masuk adalah Ha Ni. Ha Ni menatap ruang Klub tersebut yang ternyata ruang klub tennis. HaNi melihat ada Seung Jo dan Seung Jo kaget saat melihat Ha Ni.

Ha Ni duduk di kursi dan He Ra datang duduk di kursi samping Ha Ni. He Ra melihat Ha Ni dan bertanya, “Kita bertemu kembali. Apakah kau pandai bermain tennis?” Ha Ni menjawab, “Tidak. Aku tidak bisa bermain tennis karena aku tidak pernah mencobanya sebelumnya.” He Ra berkomentar, “Seharusnya kau tidak datang ke klub ini karena kau terlalu menganggap ringan klub ini.” Ha Ni kesal dan berkata, “Apa maksudmu? Kyung Soo mangatakan padaku bahwa aku boleh bergabung walaupun aku tidak bisa bermain dengan baik. Dia bilang bahwa yang aku butuhkan adalah niat bermain dengan ketulusan.”

Seung Jo berkomentar, “Diamkan saja dia, dia memang tidak pernah memikirkan sesuatu menggunakan otaknya.” He Ra tersenyum dan berkata, “Ya aku tau.” Ha Ni benar-benar kesal mendengar hal itu.

Kyung Soo lalu membuka pertemuan para anggota dan memperkenalkan dirinya sebagai wakil ketua dan juga mahasiswa tingkat 2 berusia 21 tahun. Ha Ni sangat kaget mendengarnya. Dan semua anggota yang lainnya ikut tertawa. Kyung Soo bilang bahwa tahun ini klub mereka sangat di berkati karena kedatangan anggota Tennis yang sangat berbakat yaitu Seung Jo yang memenangkan pertandingan tennis tingkat SMA dan juga He Ra yang memenangkan pertandingan tingkat SMA untuk divisi perempuan. Seung Jo dan He Ra pun langsung memperkenalkan diri mereka.

Kyung Soo bilang bahwa sejak tahun lalu sangat jarang sekali anggota perempuan yang mau bergabung pada Klub Tennis tapi tahun ini ada sebuah kejutan yaitu adanya Oh Ha Ni yang akan ikut bergabung. Ha Ni dengan samangat langsung memperkenalkan dirinya. He Ra tiba-tiba bertanya dengan suara kencang, “Oh Ha Ni, sudah berapa lama kau bermain Tennis?” Ha Ni merasa malu dan menjawab, “Aku bahkan belum pernah memagang raket Tennis tapi aku sering bermain badminton.” Semua anggota yang lain tertawa dan He Ra juga tertawa puas karena telah mempermalukan Ha Ni.

Latihan Tennis pun di mulai. Ha Ni tidak berhasil memukul bola namun akhirnya dia berhasil memukul bola yang justru bola itu mengenai kepala Kyung Soo. Kyung Soo menghampiri Ha Ni dan bilang bahwa pukulan bola Ha Ni sangat kuat dan Ha Ni pasti bisa jika di latih lebih lama lagi. Ha Ni benar-benar meminta maaf karena kejadian tadi. Kyung Soo memuji Ha Ni yang terlihat sangat cantik memakai pakaian Tennis.

He Ra dan Seung Jo datang menghampiri Ha Ni. Kyung Soo pun permisi mau mempersiapkan yang lainnya. He Ra tertawa dan bilang bahwa Ha Ni katanya belum pernah main tennis tapi berpenampilan ala pemain tennis. Seung Jo ikut mengejek Ha Ni dengan bilang bahwa orang yang tidak bisa belajar pun selalu mempersiapkan pensil padahal belum tentu bisa menulis. Ha Ni benar-benar merasa di permalukan dan hanya bisa diam saja.

He Ra bertanya, “Hmm sepertinya kau cukup dekat dengan Kyung Soo ya?” Ha Ni menjawab, “Kyung Soo sangat baik. bahkan dia mengetahui banyak hal dan juga membantuku. Dan lagi kata-kata yang diucapkannya sangat baik, berbeda sekali dengan kata-kata kejam dari seseorang.” Seung Jo menatap sinis ke Ha Ni. He Ra berkata, “Benarkah? Sepertinya kau belum tau Kyung Soo sebenarnya. Seung Jo ayo pergi…”

Latihan pertama yang di lakukan adalah pengelompokan kemampuan. Kyung Soo akan melempar 5 buah bola dan harus di pukul oleh para anggota tapi sebaiknya para anggota tidak perlu memaksakan diri karena itu bisa membuat cedera. Semuanya mengerti lalu bubar untuk bersiap-siap.

Kyung Soo mengambil raketnya dan sikap baiknya pun berubah. Ya dia terlihat sangat menyeramkan saat latihan ini. Semua anggota baru sangat kaget, sementara He Ra dan Seung Jo hanya tertawa karena sudah mengetahui sikap Kyung Soo yang sebenarnya. Kyung Soo terus marah-marah saat ada anggota yang tidak bisa memukul bola dengan baik.

Tiba giliran He Ra yang memukul bola. Sepertinya Kyung Soo ini menyukai He Ra sehingga Kyung Soo sengaja memukul bola dengan pelan jadinya He Ra bisa memukul semua bola dengan baik dan itu membuat semuanya jadi kagum.

Saatnya Seung Jo yang memukul bola. Kyung Soo bilang bahwa dia sudah sangat lama menantikan 1 lawan 1 seperti ini. Seung Jo tersenyum percaya diri dan meminta Kyung Soo segera melemparkann bola. Kyung Soo melempar bola dan Seung Jo dapat memukulnya dengan baik. Kyung Soo berkata, “Aku tadi hanya bermain ringan karena tau kalau kau sudah lama tidak bermain Tennis.” Seung Jo membalas, “Bermainlah dengan serius. Aku akan memukulnya dengan baik.” Kyung Soo kesal dan bilang, “Dasar orang sombong yang bodoh!”

Kyung Soo melemparkan bola dengan kekutannya dan Seung Jo berhasil memukul bola itu dan membuat Kyung Soo kewalahan mengejar bola hingga terjatuh. Seung Jo menghampiri Kyung Soo dan berkomentar, “Yang tadi itu bagus.” Kyung Soo menatap tidak suka kepada Seung Jo.

Para anggota bilang bahwa Kyung Soo sangat marah dan pasti orang yang memukul bola terakhir akan mati. Ha Ni sadar bahwa dia adalah yang selanjutnya akan memukul bola. Ha Ni bersembunyi di balik temannya namun Kyung Soo mengetahui hal itu dan langsung meminta Ha Ni untuk memukul bolanya. Seung Jo berbisik pada Ha Ni, “Keluarlah, dia memanggilmu.” Ha Ni kesal dan berkata, “Ini semua karenamu Seung Jo!”

Ha Ni memberanikan diri menghadapi Kyung Soo. Ha Ni meminta Kyung Soo jangan melempar terlalu kuat karena ini pertama kalinya dia bermain Tennis. Kyung Soo tiak mempedulikan itu dan terus melemparka bola dengan penuh kekuatan. Bola pertama yang di lempar mengarah ke Ha Ni dan Ha Ni langsung menghindar. Bola yang ke dua juga di hindari Ha Ni dan itu membuat Kyung Soo sangat marah dan meminta Ha Ni tidak menghindar lagi. bola ke tiga yang di lempar pun mengarah ke Ha Ni dan Ha Ni tidak berani menghindar sehingga bola itu kena ke wajahnya dan Ha Ni terjatuh pingsan.

Semua anggota sangat panik sementara He Ra dan Seung Jo hanya diam. Kyung Soo berkata, “Ya inilah yang aku maksud! Tetap fokus walaupun harus terluka! Kau hebat Oh Ha Ni!”

Malamnya di adakan pesta penyambutan klub tennis. Ketua Tennis bilang pada Ha Ni bahwa Kyung Soo ini sangat sopan dan baik namun jika sudah menyentuh raket Tennis maka Kyung Soo akan sangat berubah. Ha Ni mengerti dan melihat Kyung Soo yang menyendiri karena merasa bersalah.

Anggot klub tennis lainnya memuji kemampuan Seung Jo dan He Ra yang sangat hebat. Ketua Tennis bilang bahwa Seung Jo dan He Ra ini memang terkenal saat SMA. Ketua Tennis bertanya, “Aku dengar He Ra memiliki pacar?” He Ra menjawab, “Tidak. Aku tidak begitu tertarik untuk berpacaran. Orang lain dan aku memiliki hubungan dan aku tidak ingin terlalu di paksakan. Aku hanya ingin bebas. Tapi jika aku bertemu seseorang yang cocok mungkin aku akan mencoba berpacaran.” Ha Ni, Kyung Soo, Seung Jo dan anggota yang lain pun mendengarkan kata-kata He Ra.

Seung Jo tiba-tiba berkata, “Hmm pada akhirnya cinta itu hanya mengambil hak kebebasan orang lain saja dan mungkin itu di sebut kebencian.” Ketua Tennis tidak mengerti kata-kata yang diucapkan oleh Seung Jo dan He Ra karena itu merupakan kata-kata mutiara yang ada dalam buku sastra. Seung Jo dan He Ra ternyata memiliki minat yang sama pada dunia sastra dan itu membuat mereka berdua terlihat semakin cocok. Seung Jo dan He Ra bersulang dan saling tersenyum sementara Ha Ni dan Kyung Soo menatap kesal.

Ha Ni berkunjung ke salon tempat Joo Ri bekerja dan Min Ah sedang di tata rambutnya oleh Joo Ri. Ha Ni menceritakan semua tentang He Ra dan Joo Ri berkomentar, “Wah dia ini terlihat seperti Baek Seung Jo dalam versi perempuan.” Min Ah mendukung Ha Ni agar lebih semangat lagi. Joo Ri bilang bahwa Ha Ni ini benar-benar malang karena sudah sengaja masuk Klub Tennis demi Seung Jo tapi malah mendapatkan luka. Min Ah juga bilang bahwa Ha Ni sangat menyedihkan karena tidak memiliki kesempatan lagi.

Ha Ni berkata, “Tidak. Aku masih memiliki kesempatan. Ya walaupun sangat tidak mungkin jika ada di Klub Tennis karena ada He Ra namun aku masih memiliki sedikit kesempatan.”

Ternyata kesempatan yang di maksud oleh Ha Ni adalah kesempatan bersama dengan Seung Jo. Ya dia memiliki kesempatan dengan Seung Jo karena mereka ada di kelas yang sama untuk mata kuliah Bhs Inggris. Seung Jo tentu tidak suka akan kehadiran Ha Ni apalagi ada seorang tambahan lagi yang membuat Seung Jo kesal. Ha Ni melihat ke belakangnya dan kaget saat melihat ada Joon Gu di dalam kelas itu. Joon Gu dan Seung Jo sempat adu omongan namun akhirnya mereka kembali tenang. He Ra datang dan duduk di kursi samping Ha Ni.

Pelajaran di mulai dan Joon Gu sangat tidak mengerti apa-apa. Ha Ni meminta Seung Jo untuk tenang. Dosen menghampiri Ha Ni dan bertanya dalam bahasa inggris mengenai luka di hidung Ha Ni. Ha Ni meminta bantuan Seung Jo namun Seung Jo diam saja tidak membantu sama sekali. Ha Ni pun menjawab pertanyaan dosen dengan Bahasa Inggris yang belepotan dan membuat semuanya tertawa.

Joon Gu kesal dan membela Ha Ni. Dosen bertaya, “Kau… apakah murid di kelas ini? Kenapa tidak membawa buku?” Joon Gu kebingungan menjawabnya karena tidak mengerti bahasa inggris sama sekali. Joon Gu menjawab pertanyaan dosen dengan kalimat yang lebih parah dan semua kembali tertawa. Seung Jo juga ikut tertawa dan mempermalukan Joon Gu.

He Ra lalu berkata dalam bahasa Inggris bahwa Joon Gu bukan murid di kampus ini dan bekerja di kantin kampus dan Joon Gu ada di kelas ini mungkin karena menyukai Ha Ni. Dosen mengerti hal itu dan tersenyum. Joon Gu tidak mengerti yang di katakan oleh He Ra dan menyebut He Ra sebagai perempuan jahanam. He Ra melihat Joon Gu dan bilang bahwa semua orang di kampus itu membayar dengan mahal jadi sebaiknya Joon Gu pergi saja dan tidak mengganggu lagi. He Ra juga bilang bahwa dia tidak menyukai orang bodoh. (OMG Kata-kata yang sama yang dulu pernah dikatakan Seung Jo pada Ha Ni.)

Di rumah, Ha Ni membantu Ibu Seung Jo membereskan pring-piring. Ibu Seung Jo bertanya, “Apakah kau tidak ada kelas hari ini?” Ha Ni menjawab dengan lemas, “Aku rasa setelah masuk Universitas, semua ini bukan lelucon lagi.” Ibu Seung Jo bertanya, “Ada apa? Ada sesuatu yang terjadi?” Ha Ni menjawab, “Bukan begitu… Aku berfikir bahwa banyak sekali anak yang pintar dan cantik mungkin Seung Jo juga menyukai wanita yang cantik, pintar dan langsing. Bukankah Seung Jo akan menyukai wanita seperti itu?”

Ibu Seung Jo kaget dan bertanya, “Apakah muncul wanita yang seperti itu? Ya Ha Ni! Aku mungkin terlihat muda tapi sesungguhnya aku ini sudah dewasa. Aku cuma ingin bilang bahwa kalian ini sangat sempurna jika bersama. Kau seperti panci dan tutupnya, sangat cocok. Aku tidak tau seberapa canti wanita itu tapi aku yakin bahwa dia bukan jodoh Seung Jo. Lihat ini panci yang kecil tidak akan cocok dengan tutup panci yang besar. Jadi kamu tidak perlu khawatir. Mengerti?” Ha Ni tersenyum senang, “Ya.”

Lalu ada telfon dari Eun Jo yang meminta bantuan Ibunya untuk mengirimkan barang-barangnya yang tertinggal.

Ha Ni mengantar barang-barang Eun Jo ke sekolah Eun Jo. Eun Jo tidak suka karna Ha Ni yang datang ke sekolahnya. Ha Ni bertanya, “Apa yang sedang kau lamunkan?” Ada seorang anak perempuan yang mengambil bola lalu melanjutkan bermai. Ha Ni pun berkata, “Ah aku tau. Pasti gadis itu. Benarkah? Oooh dia cantik.” Eun Jo berkomentar, “Dia memang lebih cantik dari pada kamu Oh Ha Ni.” Ha Ni kesal dan cemberut.

Anak perempuan itu berjalan ke arah mereka untuk mengambil bola yang terjatuh. Ha Ni mengambil bola itu dan memberikannya pada anak perempuan itu. anak perempuan itu melihat Eun Jo sekilas lalu melanjutkan bermain. Ha Ni menghampiri anak perempuan itu dan membisikan sesuatu. Anak perempuan itu melihat Eun Jo lalu tersenyum pada Ha Ni. Ha Ni tersenyum ke Eun Jo dan berkata bahwa semuanya beres.

Ternyata Ha Ni mengajak anak perempuan itu ke rumah. Ibu Seung Jo dan Ha Ni mengintip dari pintu kamar. Anak perempuan itu sangat bosan bermain dengan Eun Jo. Eun Jo menawarkan makanan namun anak itu menolaknya karena dia takut gendut. Eun Jo menawarkan permainan lain namun anak perempuan itu tidak mau. Ibu Seung Jo dan Ha Ni terus mengintip dan bilang bahwa Eun Jo jadi terlihat payah di depan anak perempuan itu. Anak perempuan itu ingin pulang namun Eun Jo mencegahnya dan bilang bahwa Ibunya sedang memasak makan malam.

Seung Jo baru pulang dan merasa heran saat melihat ibunya dan Ha Ni sedang mengintip ke kamarnya. Ibu Seung Jo dan Ha Ni langsung menyingkir dan mempersilahkan Seung Jo masuk ke kamarnya. Seung Jo masuk ke kamar dan baru sadar ada Eun Jo bersama temannya. Anak perempuan itu melihat Seung Jo dan tersenyum. Seung Jo membuat sebuah robot kecil dan anak perempuan itu langsung terpesona dan bertanya, “Bolehkah aku ikut makan malam disini?” Seung Jo menggangguk dan tersenyum.

Nama anak perempuan itu ternyata Sarah. Sarah selesai makan malam dan mengelap mulutnya dengan saputangan yang di bawanya dan Eun Jo terus menatap Sarah. Ibu Seung Jo bertanya, “Apakah kamu mau tambah?” Sarah menjawab, “Tidak perlu saya sudah makan dengan lahap.” Ibu Seung Jo senang karena Sarah anak yang sangat baik. Eun Jo juga tersenyum pada Sarah.

Sarah bertanya pada Seung Jo. “Seung Jo oppa, apakah kau percaya pada cinta pandangan pertama?” Seung Jo menjawab, “Entahlah aku belum memikirkannya.” Sarah lalu berkata, “Aku awalnya tidak mempercayainya . Aku pikir orang dewasa hanya omong kosong saja namun sekarang aku pikir ini nyata.” Ha Ni langsung tersenyum karena berfikir bahwa kata-kata yang di ucapkan oleh Sarah itu untuk Eun Jo. Sarah melanjutkan pembicaraannya, “Sebelum Oppa masuk kedalam tadi, aku tidak melihat apapun tapi setelah Oppa datang yang ada dimataku hanya Oppa saja. Oppa tunggu aku 7 tahun lagi ya.” Semuanya sangat kaget mendengar hal itu dan Ha Ni merasa tidak enak hati pada Eun Jo.

Ibu Seung Jo mencoba menghibur Eun Jo yang dari tadi hanya duduk di luar rumah saja. Eun Jo terus marah dan Ibu Seung Jo bilang bahwa Eun Jo ini tidak kalah keren dengan Seung Jo. Ha Ni diam-diam melihat hal itu dan merasa kasihan pada Eun Jo.

Seung Jo turun ke dapur dan bertanya, “Mana Eun Jo?” Ha Ni menjawab, “Apa kamu tidak khawatir padanya?” Seung Jo keheranan dan bertanya, “Ada apa? Kenapa kau seperti ini padaku?” Ha Ni berkata, “Kau ini penipu! Kau berakting seolah-olah kau tidak melakukannya padahal kau menguasai semuanya. Aku melihat itu dengan jelas! Setiap waktu aku mencoba membuang perasaanku ini karena aku berfikir ini tidak boleh. Selama ini kau terus menertawakanku. Aku bingung apakah ini nyata atau hanya lelucon saja. Kamu membuat seseorang terlihat kebingungan dan bodoh.”

Seung Jo benar-benar tidak mengerti dengan apa yang sedang dibicarakan, “Sebenarnya apa yang sedang kau bicarakan hah?” Ha Ni menjawab, “Huh kamu benar-benar melakukan hal ini dengan sangat baik. Maksudku ya kalian berdua sangat cocok.” Seung Jo bertanya, “Apakah kau sedang membicarakan He Ra? Bukan mengenai Eun Jo?” Ha Ni menjawab, “Ini adalah hal yang sama.”

Ibu Seung Jo masuk kedalam rumah dan Ha Ni bertanya, “Bagaimana hasilnya?” Ibu Seung Jo menggelengkap kepalanya.

Ha Ni pergi keluar rumah dan menghampiri Eun Jo namun Eun Jo mengusirnya, “Aku tidak mau melihatmu Oh Ha Ni! Ini semua kesalahanmu! Kau seharusnya tidak mengundangnya kemari jika berakhir seperti ini. Siapa yang meminta bantuanmu hah?” Ha Ni merasa bersalah dan berkata, “Maafkan aku. Kamu benar, aku bersalah dan sangat keterlaluan, tapi seperti itulah aku. Maafkan aku. Aku tau bahwa aku mungkin tidak bisa membantumu merasa lebih baik.”

Eun Jo marah dan berkata, “Apa yang kamu ketahui hah?” Ha Ni menjawab, “Aku tau… Di dunia ini aku mungkin tau hal yang terbaik. Orang yang aku sukai tidak menyukaiku dan tertawa dengan orang lain. Aku sungguh mengerti perasaan itu. Tapi ya aku juga tidak bisa cemburu padanya.” Eun Jo bertanya, “Apakah kau membicarakan Kakakku?” Ha Ni mengangguk dan berkata, “Eun Jo. AKu pikr jika dua orang saling menyukai satu sama lain itu adalah sebuah keajaiban. Suatu hari… Apakah keajaiban itu akan datang padaku?” Eun Jo menjawab bahwa dia tidak tau hal itu.Ha Ni tertawa dan mengacak-acak rambut Eun Jo. Eun Jo tidak mau diperlakukan seperti anak kecil makanya dia marah tapi justru hal itu membuat Ha Ni semakin senang mengganggu Eun Jo.

Diam-diam Papah melihat keakraban Eun Jo dan Ha Ni. Papah mendengar kata-kata Ha Ni tadi dan ya dia merasa kasihan pada Ha Ni yang selama ini selalu menyukai Seung Jo namun Seung Jo tetap cuek dan dingin.

Papah sedang bekerja di Restaurant dan dia berfikir, “Apakah aku harus mencari rumah baru?” Tiba-tiba Joon Gu menghampirinya dan memperlihatkan adonan yang dia buat. Papah bilang bahwa adonan itu terlalu lembek tapi rasanya cukup enak. Joon Gu senang di puji dan bilang bahwa dia akan membuatnya lebih baik untuk Ha Ni. Papah lalu bertanya, “Joon Gu apa yang kau sukai dari Ha Ni?” Joon Gu kaget mendengar pertanyaan itu, “Aku merasa malu karena kau bertanya seperti ini. Tapi ya jika tidak ada Ha Ni… Mungkin aku tidak akan lulus SMA. Aku selalu memiliki masalah di sekolah dan anak-anak yang lain selalu menghindari bergaul denganku. Tapi Ha Ni mau berteman denganku sehingga aku bersemangat sekolah dan dapat lulus SMA.”

Ha Ni sedang beres-beres di dapur dan dia mendengar ada bel datang sehingga dia pergi ke depan pintu untuk menyambut Seung Jo. Tapi ternyata yang datang bukan hanya Seung Jo, ya ada He Ra juga yang datang. He Ra sempat kaget melihat Ha Ni namun dia langsung berkata, “Ternyata benar kalau kalian ini tinggal bersama.” Seung Jo tidak mempedulikan Ha Ni dan langsung pergi menaiki tangga menuju ke kamarnya.

Eun Jo turun dari tangga dan berpapasan dengan Seung Jo dan He Ra. Seung Jo berkata pada Eun Jo, “Aku ada tugas jadi bisakah kau belajar di ruang belajar biasa saja?” Eun Jo bertanya, “Tugas apa?” He Ra menjawab, “Tugas Ilmu pengetahuan barat dan kami harus mengerjakannya secara berkelompok. Apakah ini adikmu Seung Jo?” Seung Jo berkata, “Ya dia adikku. Eun Jo.” He Ra tersenyum pada Eun Jo dan mengajak berkenalan. Eun Jo tersipu-sipu malu. Seung Jo mengajak He Ra segera ke kamarnya dan Eun Jo berkata, “Dia cantik.”

Seung Jo mengajak He Ra menuju ke kamarnya untuk mengambil beberapa buku untuk tugasnya. He Ra bertanya, “Apa tidak ada orang tuamu?” Seung Jo menjawab, “Bapaku sepertinya akan pulang terlambat dan Ibu juga sepertinya sedang pergi.” He Ra dan Seung Jo lalu membahas beberapa hal tentang tugasnya dan Seung Jo terlihat menikmati saat-saat bersama He Ra.

Ha Ni sangat panik dan khawatir dengan apa yang di lakukan Seung Jo dan He Ra di dalam kamar sehingga dia munggu di balkon dekat kamar Seung Jo. Tiba-tiba pintu kamar Seung Jo terbuka dan Seung Jo juga He Ra keluar dari kamar untuk belajar di ruang duduk dekat balkon. Ha Ni sangat kaget melihatnya dan langsung bersembunyi di balkon itu. He Ra berkata, “Aku dengar di Barat jika seorang gadis datang ke rumah seorang pria maka itu artinya gadis itu setuju untuk menghabiskan malam bersama pria itu.” Ha Ni kaget mendengarnya. Seung Jo tetap cuek dan berkata, “Ah sebaiknya kita cepat mengerjakan tugas ini.”

Sampai malam mereka mengerjakan tugas itu dan Ha Ni tetap diam di balkon. Seung Jo dan He Ra memikirkan konsep tugas mereka lalu He Ra mendapatkan ide untuk membuat semacam animasi dan foto untuk tugas mereka ini. Seung Jo setuju.

Seung Jo pergi ke ruangan Ibunya untuk mengambil kamera. Ibunya bertanya, “Mau dikemanakan kamera itu?” Seung Jo menjawab, “Aku mau mengerjakan tugasku.” Eun Jo bilang bahwa Seung Jo ada tugas kelompok dan teman satu kelompok Seung Jo adalah seorang wanita yang cantik. Ibu Seung Jo jelas sangat kaget mendengarnya. Seung Jo bilang bahwa dosen yang memilihkan teman satu kelompok sehingga Ibu tidak boleh salah paham. Seung Jo meminjam kamera dan pergi ke atas. Ibu Seung Jo benar-benar masih tidak percaya hal itu.

Papah dan para karyawan pulang dari Restaurant tetapi Joon Gu masih diam di Restaurant dan mencoba berlatih membuat mie. Joon Gu berkata, “Semua orang bisa masuk Universitas. Mereka mengikuti kegiatan klub dan juga belajar di kelas. Boon Joon Gu kau sangat menyedihkan. Aku harus segera menguasai teknik membuat Mie sehingga bisa menjadi koki terkenal dan membuat Ha Ni bangga. Ha Ni… Apa yang sedang kau lakukan sekarang? Ah apakah aku harus menelfonnya sekarang? Aku tidak pernah menelfonnya selarut ini. Ah aku sangat gugup saat mau menelfonnya.”

Joon Gu mencoba menelfon Ha Ni namun Ha Ni tidak mengangkat telfonnya karena HPnya di tinggal di dalam kamar dan Ha Ni masih bersembunyi di Balkon.

Seung Jo datang ke ruang atas dan membawa kameranya. Mereka membuat semacam patung bunga dari tanah liat dan memotretnya. Ibu Seung Jo datang ke ruang atas dan He Ra langsung memberikan salam dan juga meminta maaf karena tadi tidak meminta ijin terlebih dahulu. Ibu Seung Jo mengerti dan bertanya, “Seung Jo, dimana Ha Ni?” Seung Jo menjawab, “Mungkin di kamanya.” Ibu Seung Jo pun langsung pergi ke kamarnya Ha Ni.

Ibu Seung Jo datang ke kamar Ha Ni namun dia tidak menemukan Ha Ni. Ibu Seung Jo mau menelfon namun ternyata HP Ha Ni ada di kamar. Ibu Seung Jo pun keluar kamar dan berkata pada Seung Jo, “Ha Ni tidak ada di dalam kamarnya.” Seung Jo sangat cuek dan hanya bertanya, “Benarkah? Dia pasti keluar ke suatu tempat.” Ibu Seung Jo pun pergi dengan kesal. Dia terus mencari Ha Ni dan Ha Ni jadi tidak enak hati karna dia tetap bersembunyi.

Saat mau memotret patung bunga dari tanah liat, ada seekor semut di kelopak bunganya. He Ra bilang bahwa ini terlihat sangat bagus karena ada makhluk hidup di karya mereka ini. Seung Jo tersenyum senang melihat hal itu dan bilang bahwa hal ini sangat menarik. Ha Ni melihat itu dan dia merasa sedih karena Seung Jo terlihat begitu gembira saat berada bersama He Ra. He Ra meminta Seung Jo membawakan air minum sehingga Seung Jo pun pergi ke dapur untuk mengambilkan air minum.

He Ra berjalan menuju balkon dan Ha Ni benar-benar sangat ketakututan jika He Ra menemukannya di luar balkon sejak tadi. Untung saja ada seseorang yang menelfon He Ra sehingga He Ra masuk kembali ke dalam rumah. Ha Ni benar-benar merasa lega.

Ha Ni mengambil bola-bola tennis yang di pakai untuk latihan. He Ra berkata, “Kau sebaiknya berlatih tennis. Bukannya mengambil bola hingga kau lulus. Tapi ya aku menghargai usahamu karena rajin datang walaupun Seung Jo tidak akan datang.” Ha Ni kebingungan, “Kenapa dia tidak akan datang?” He Ra berkata, “Dia itu anggota khusus di Klub ini sehingga dia bebas mau datang kapan pun saja. Kenapa kau tidak tau? Bukankah kalian tinggal bersama? Tunggu dulu… Jadi hubungan kalian hanya sebatas itu saja? Hahaha baguslah kalau begitu.” He Ra langsung pergi meninggalkan Ha Ni.

Ha Ni mengomel, “Dia sangat dewasa. Walaupun usia kita sama tapi aku terlihat seperti anak kecil. Tunggu… Baek Seung Jo bisa datang kapan pun dia mau? Huh lalu kenapa aku harus bergabung dalam klub ini? Untuk apa aku mengumpulkan bola-bola ini?” HP Ha Ni berbunyi dan itu telfon dari Papah.

Ya ternyata Papah meminta Ha Ni datang ke Restaurant. Papah bertanya, “Bagaimana Tennis?” Ha Ni menjawab, “Sangat sulit. Ah ada apa Papah memintaku datang kemari?” Papah berkata, “Sebaiknya kita pindah rumah saja. Kita tidak bisa tinggal bersama mereka terus menerus. Meskipun aku selalu bekerja disini tapi aku tau bahwa kau mengalami kesulitan dan itu membuatku tidak tenang. Ayo pindah rumah saja. Aku akan berusaha mencari rumah untuk kita tinggal sementara waktu.” Ha Ni memakan mienya dan merasa ingin menangis. Papah bertanya, “Ada apa?” Ha Ni menjawab, “Tidak… Aku sepertinya terlalu banyak menaruh wasabi dalam mie ini sehingga sangat pedas dan membuatku ingin menangis.”

Papah bilang pada Ibu Seung Jo dan Bapa Seung Jo bahwa dia dan Ha Ni akan pindah rumah. Ibu Seung Jo tentu saja tidak setuju jika Ha Ni pergi. Bapa Seung Jo juga bilang pada Papah bahwa dia ingin agar Papah dan Ha Ni tetap tinggal bersama mereka. Papah bilang bahwa mereka sudah terlalu lama tinggal di rumah Keluarga Baek dan membuat masalah pada Seung Jo dan Eun Jo. Papah berkata, “Dan lagi… Ha Ni akan segera melupakan Seung Jo.” Ibu Seung Jo berkomentar, “Masalah itu… Apa yang harus aku lakukan? Bagaimanapun juga masalah ini harus di selesaikan oleh mereka.” Papah bilang, “Seung Jo tidak menyukai Ha Ni dan…”

Ibu Seung Jo terus menangis dan bertanya, “Jika Ha Ni menjadi anggota keluarga ini maka ini tidak akan menjadi masalah lagi kan? Oh aku sangat menyukai kepribadian dia dan menyukai sifatnya yang lucu. Aku yakin bahwa Seung Jo pasti bisa menyukai Ha Ni.” Papah jadi tidak enak hati mengenai hal itu. Diam-diam ternyata Eun Jo mendengarkan hal itu.

Eun Jo pergi ke kamarnya dan berkata pada Seung Jo, “Hyung… Aku dengar bahwa Oh Ha Ni dan Papahnya akan pergi dari rumah kita. Bukankah itu bagus? Sejak dia datang kemari, dia selalu membuat kekacauan.” Seung Jo kaget mendengar hal itu.

Seung Jo keluar dari kamar dan bertemu dengan Ha Ni. Dia bertanya, “Apakah kau akan pindah?” Ha Ni menganggukan kepalanya dan bertanya, “Kenapa? Apakah kau kecewa?” Seung Jo menjawab, “Tidak. Aku merasa ini hal yang bagus dan melegakan karena hidupku akan kembali seperti dulu.” Ha Ni mengerti dan bilang bahwa dia akan segera mengemasi barang-barangnya.

Ha Ni melihat fotonya bersama Seung Jo saat kelulusan dan dia jadi teringat banyak hal yang telah di lalui berama dengan Seung Jo. Mulai dari memberikan surat cinta, kaget saat tau bahwa mereka berdua tinggal satu rumah, saat mereka berlari di taman untuk memperebutkan foto, saat Ha Ni di selamatkan oleh Seung Jo ketika Ha Ni tenggelam dan banyak lagi kejadian yang diingat oleh Ha Ni. Di saat yang sama, Seung Jo diam-diam terus menatap pintu kamar Ha Ni.

Pagi-pagi, Papah datang ke kamar Ha Ni dan bilang bahwa mereka harus segera turun ke bawah karena yang lain sudah menunggu. Ha Ni memeluk Papahnya dan menangis. Papah juga sebenarnya merasa berat meninggalkan keluarga Baek ini.

Mereka turun ke bawah dan berpamitan. Papah mengucapkan banyak terima kasih kepada keluarga Baek karena telah membantu mereka selama ini. Papah juga mengajak Seung Jo dan Eun Jo untuk sesekali datang ke rumah mereka itu. Ha Ni berterima kasih karena telah di jaga selama ini. Ibu Seung Jo benar-benar merasa sedih dan Ha Ni pun bilang bahwa dia sangat berterima kasih karena Ibu Seung Jo selalu memasakan makanan yang enak untuknya dan Papah.Ha Ni juga berterima kasih pada Ibu Seung Jo karena telah membelikan Pizza untuk teman kelasnya dan mengajak Joo Ri dan Min Ah ke pantai untuk berlibur bersama.

Ibu Seung Jo benar-benar sedih melihat Ha Ni yang akan pergi. Ha Ni lalu meminta maaf kepada Seung Jo karena telah sering membuat kekacauan pada Seung Jo. Seung Jo hanya diam saja tidak berkomentar apapun.

Di luar rumah. Ha Ni memanggil Ibu Seung Jo dengan sebutan ‘Ibu’ dan itu semakin membuat Ibu Seung Jo sedih dan bilang bahwa dia ingin sekali terus tinggal bersama Ha Ni. Bapa Seung Jo berusaha menenangkan istrinya dan bilang agar tidak menangis seperti ini karena akan membuat Ha Ni sedih. Tapi Bapa Seung Jo juga sedih karna harus melepaskan teman baiknya yaitu Papah Ha Ni. Seung Jo mengucapkan selamat tinggal dan Ha Ni dengan papah pun pergi.

Eun Jo langsung berkata, “Akhirnya aku mendapatkan kembali kamarku.” Bapa Seung Jo jelas langsung marah pada Eun Jo. Seung Jo bertanya pada Ibunya, “Ibu… Apa kau tidak akan memasak makanan untuk hari ini?” Ibu Seung Jo sangat kesal dan bilang, “Kau ini! Ini semua karena kesalahanmu tau!”

Seung Jo masuk ke kamar Ha Ni dan menemukan boneka yang dulu dia berikan pada Ha Ni. Tenyata Ha Ni meninggalkan boneka itu di dalam kamarnya.

Sinopsis Playful Kiss Episode 6

Ha Ni duduk di pinggir tempat tidur dan berkata, “Maaf. Aku benar-benar minta maaf. Aku tau akan sangat sulit sekali mengatur ulang jadwal wawancara di Universitas. Semua orang sangat berharap padamu tapi karena keisenganku mengikutimu maka kau tidak pergi wawancara. Kau seharusnya membiarkan aku saja dan kau pergi melakukan wawancara.” Seung Jo yang berdiri di delakang Ha Ni hanya berkata, “Haruskah aku begitu?” Ha Ni benar-benar merasa bersalah dan bilang, “Ya kau benar. Aku ini hanya penghalang di kehidupanmu. Tidak. Kata itu tidak cukup untuk menjelaskan semuanya, aku adalah pembawa bencana.”

Min Ah dan Joon Gu mendapatkan kabar bahwa Ha Ni masuk rumah sakit sehingga mereka pun datang masuk ke ruangan Ha Ni di rawat. Joon Gu kaget melihat Seung Jo dan langsung marah-marah ke Seung Jo namun Ha Ni menghentikannya. Joon Gu marah-marah, “hey kau Baek Seung Jo! Setiap Ha Ni ada di dekatmu pasti saja dia mendapatkan sial!” Ha Ni membentak Joon Gu dan meminta agar teman-temannya itu pergi karna dia ingin sendiri. Ha Ni langsung rebahan di tempat tidur sementara Min Ah langsung menarik Joon Gu untuk keluar dari kamar rawat Ha Ni.

Seung Jo mencoba bercanda dan bertanya, “Apakah aku harus pergi juga?” Ha Ni menjawab, “Ya pergilah dan istirahat.” Seung Jo kaget mendengar jawaban Ha Ni. Ha Ni menangis dan Seung Jo hanya bisa diam.

Papah meminta maaf kepada Ibu Seung Jo dan Bapa Seung Jo. Bapa Seung Jo bilang bahwa ini bukan salah Ha Ni karna tadi sebenarnya Seung Jo masih memiliki waktu untuk ikut wawancara namun Seung Jo yang menolak untuk pergi. Ibu Seung Jo bilang bahwa dia yakin kalau Seung Jo ada rencana lain dan Seung Jo itu masih remaja jadi wajar kalau membangkang seperti itu. Papah tersenyum tapi sebenarnya dia merasa tidak enak hati pada keluarga Baek.

Ha Ni sudah boleh pulang dari rumah sakit dan kakinya yang di gips di gambari oleh para pelayan di Restaurant milik Papah. Papah tertawa lalu bilang bahwa keluarga mereka ini memang memiliki kemampuan sembuh dengan cepat bahkan Dokter pun tidak percaya bahwa Ha Ni sudah boleh pulang dari rumah sakit secepat ini.

Ha Ni bertanya pada Papah, “Pah, bukankah sebaiknya kita meninggalkan rumah keluarga Baek?” Papah kebingungan dan bertanya, “Kenapa? Apakah kau merasa tidak nyaman? Tenang saja semuanya lebih mengkhawatirkanmu dari pada mengkhawatirkan Seung Jo.” Ha Ni kesal dan bilang, “Ah itu lah yang membebani aku. Kenapa semua itu terjadi?”

Saat makan malam, Bapa Seung Jo melihat kursi Ha Ni dan bertanya, “Apakah Ha Ni masih merajuk?” Ibu Seung Jo menjawab, “Dia tidak keluar dari kamarnya dan juga tidak mau makan apapun.” Eun Jo bilang bahwa Ha Ni pernah keluar dari kamar malam hari dan itu sangat mengagetkannya karna dia menyangka itu hantu.

Ibu Seung Jo lalu berkata, “Hey Baek Seung Jo… Kamu harus memperlakukannya dengan baik. Hanya kata-kata manis darimu lah yang bisa memecahkan masalah. Tapi kenapa kau malah membuatnya lebih sedih hah?” Seung Jo menjawab, “Aku sudah mengatakan padanya.” Ibu Seung Jo terseunyum senang, “Benarkah? Apa yang kamu katakan padanya?” Seung Jo berkata, “Hmm terima kasih karna sudah membuatku tidak mengikuti wawancara itu.” Senyum Ibu Seung Jo hilang dan dia marah, “Apa itu kata-kata untuk menghibur seseorang yang sedih? Itu seperti menampar anak kecil yang menangis!” Ibu Seung Jo menggambil mangkuk nasi Seung Jo dan berkata, “Kamu tidak usah makan hingga Ha Ni mau makan!” Seung Jo hanya terdiam.

Ha Ni duduk di dalam kamarnya dan dia memikirkan banyak hal yang sudah dia lakukan sehingga membuat Seung Jo mendapatkan masalah. Ha Ni benar-benar sedih dan akhirnya memutuskan untuk pergi dari rumah Seung Jo. Ha Ni hanya menulis surat perpisahan dan menyimpannya di atas meja kamar.

Ha Ni diam-diam keluar dari rumah sambil membawa kopernya. Tiba-tiba Seung Jo muncul dan berkata, “Sudah lama tidak melihatmu. Apakah kau mau pergi? Apakah ini karena aku tidak masuk Universitas Tae Sung?” Ha Ni menjawab, “Ya karna masalah ini dan juga obat flu. Aku berusaha berbuat baik tapi… Semakin lama aku berfikir, sepertinya aku tak seharusnya ada di sisimu. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi karna perbuatanku, jadi sebaiknya kau tidak menghalangi aku.”

Seung Jo berkata, “Aku tidak berfikir seperti itu.” Ha Ni kebingungan dan Seung Jo melanjutkan omongannya, “Apa aku harus membantu? Kopermu terlihat berat.” Ha Ni kecewa dan bilang bahwa Seung Jo tidak perlu membantunya. Seung Jo mengerti dan melepaskan kepergian Ha Ni tapi sebelumnya dia memberikan Ha Ni sebuah amplop surat. Ha Ni kebingungan dan membuka amplop surat dari Universitas Parang. Ha Ni membaca biaya pendaftaran yang ternyata 0 won dan Ha Ni bilang bahwa amplop surat itu pasti bukan untuknya karna tidak ditulis mengenai jurusan yang dia ambil. Ha Ni melihat ada tulisan Baek Seung Jo di amplop itu dan dia berkata, “Hmm ini ditujukan untuk Baek Seung Jo. Baek Seung Jo? Hah Baek Seung Jo? Omo…”

Ha Ni bertanya, “Benarkah kau akan masuk Universitas Parang? Kenapa?” Seung Jo menjawab, “Siapa yang tahu jika mereka akan memohon padaku? Ya mereka akan membiayai semua biayaku bahkan jika aku kuliah di luar negeri pun mereka akan memberikan apapun.” Ha Ni benar-benar tidak menyangka hal itu dan bilang, “Huh kalau padaku mereka terlihat kesal dan bertanya padaku ‘Mengapa kamu harus memilihmu?’ Tapi… Mengapa kau memilih Universitas Parang?” Seung Jo menjawab, “Selama menjalani hidupku hingga sekarang. Rasanya aku paling pemarah itu tahun lalu. Aku kesal dan panik memikirkan apa yang akan terjadi. Benar-benar kacau sekali tapi… Menyenangkan.” Ha Ni kaget mendengar hal itu.

Seung Jo melanjutkan pembicaraannya, “Tertidur saat ujian itu menyenangkan. Memikirkan mengenai hasil ujianku, itu adalah hal yang baru untukku. Terima kasih untukmu karna berkatmu aku merasakan banyak hal. Hmm rasanya lebih menyenangkan dan bersemangat. Jadi…” Ha Ni memotong pembicaraan Seung Jo, “Jadi kamu melakukan ini karena aku? Mendaftar ke Universitas Parang?” Seung Jo langsung menjawab, “Tidak! Aku melakukannya karna diriku sendiri!

Seung Jo membatu Ha Ni membawakan kopernya kembali ke kamar dan Ha Ni berkata, “Terima kasih. Tunggu… Jadi selama ini kau pura-pura cuek padahal kau sudah mengetahui mengenai Universitas Parang ini? Bahkan tetap cuek walaupun aku hampir mati karena merasa bersalah? Kenapa hah?” Seung Jo menjawab, “Karena ini menyenangkan. Kenapa? Kau tidak suka? Kalau kau tidak suka maka aku akan membatalkannya sekarang juga.” Ha Ni kaget dan langsung mencegah Seung Jo, “Tidak… Tidak perlu. Aku menyukainya dan aku bahagia.” Seung Jo berkata, “Aku sudah tau mengenai itu.” Seung Jo langsung pergi ke kamarnya dan Ha Ni tersenyum senang sambil mencium boneka yang dikasih Seung Jo.

Seung Jo berkata, “Jika aku mengetahui apa yang ingin aku lakukan maka aku akan menjalani hidup ini dengan semangat. Bukankah nenekmu yang bilang agar hidup dengan bahagia? Kalau begitu sampai jumpa lagi.” Seung Jo langsung berdiri dan masuk ke dalam rumah namun Ha Ni menahannya dan bertanya, “Kalau begitu… Apa ini artinya aku boleh tinggal disini lebih lama lagi? Aku berjanji tidak akan menjadi pengacau lagi.” Seung Jo melihat Ha Ni dan bertanya, “Tidak akan? Yakin?” Ha Ni kebingungan dan menjawab, “Mungkin tidak… tapi aku akan berusaha Aku janji hidupmu akan lebih menyenangkan dan bersemangat.” Seung Jo tersenyum sekilas dan langsung masuk kedalam rumah. Ha Ni berfikir bahwa ini artinya ‘boleh’ dari Seung Jo sehingga dia pun ikut tersenyum senang.

Pagi-pagi Ibu Seung Jo, Bapa Seung Jo dan Papah sedang berkumpul di ruang keluarga. Papah melihat surat penerimaan Seung Jo di Universitas Parang dan Ibu Seung Jo langsung berkata, “Sudah kuduga bahwa dia memiliki rencana lain.” Papah merasa sedikit lega tapi dia tetap merasa bersalah karna Seung Jo tidak bisa masuk Universitas Tae San. Ibu Seung Jo langsung bertanya, “Huh apa bagusnya Universitas Tae San? Isinya hanya sekumpulan anak seperti Seung Jo saja. Ah senangnya Ha Ni dan Seung Jo masuk Universitas yang sama. Bukankah ini terlihat seperti mereka ini jodoh yang sudah ditakdirkan?” Bapa Seung Jo dan Papah hanya tertawa.


Papah sedang membersihkan Restaurant dan Joon Gu langsung masuk. Joon Gu memberikan Papah sekantung biji bunga matahari karena itu dapat membantu menyembuhkan patah tulang untuk Ha Ni. Papah menerima itu dan mengucapkan terima kasih. Tiba-tiba Joon Gu berlutut dan berkata, “Tolonglah terima aku menjadi muridmu. Tradisi 60 tahun Restaurant Mie ini tidak boleh terhenti sehingga aku akan menlanjutkannya. Tolonglah.” Papah terlihat kesal dan berkata, “Sudah ku bilang, melakukanlah apapun yang kamu inginkan bukan melakukan apapun demi Ha Ni.” Joon Gu bilang bahwa ini lah yang dia inginkan.

Joon Gu berusaha membuat Papah menerimanya sehingga dia berkata, “Saat pertama kali memakan mie buatan Papah, hatiku sungguh tergugah.” Papah terus berusaha melepaskan kakinya dari pelukan Joon Gu namun Joon Gu tidak mau juga melepaskannya.

Restaurant sedang sepi dan ada seorang Ibu yang datang dan bertanya, “Permisi… Apakah ini tempat memohon agar masuk Universitas bagus? Aku dengar jika makan mie disini maka anak bodoh pun akan masuk Universitas Parang.” Papah menjawab, “Ah apakah Mie Keberuntungan? Ah silahkan masuk dan duduklah.” Banyak Ibu-ibu yang masuk dan langsung duduk di kursi.

Papah melihat Joon Gu yang masih berlutut dan meminta Joon Gu segera pergi namun Joon Gu tidak mau dan bilang, “Tidak. Aku akan tetap disini hingga kau menerimaku.” Papah berkata, “Kelakuanmu ini hanya akan mengganggu bisnisku saja tau!” Joon Gu merasa bersalah dan langsung meminta maaf. Ibu-ibu itu meminta di bawakan minuman dan Papah pun sibuk mengambilkan minuman. Ibu-ibu itu juga meminta menu dan Joon Gu langsung memberikan menu itu pada Ibu-ibu. Ibu-ibu memuji Joon Gu yang terlihat bekerja keras dan mengira bahwa Joon Gu ini adalah pelayan di Restaurant.

Joon Gu membantu mempromosikan menu di Restaurant dan itu membuat Papah mulai berfikir. Ibu-ibu memuji Joon Gu yang masih muda namun sudah pintar berbisnis. Joon Gu senang di puji seperti itu dan menunjukan pada Papah bahwa dia bisa bekerja dengan baik.

Ha Ni pergi ke toko elektronik dan bertanya, “Permisi… dimana bagian Mp3 dan Kamera ya?” Pelayan pun segera menunjukan tempat penjualan dan Ha Ni berkeliling melihat-lihat. Lalu Ha Ni pergi ke toko pakaian dan dia melihat baju-baju laki-laki, “Huh banyak sekali yang ingin aku beli untuknya…” Ha Ni berada di antara 2 patung pakaian dan dia membayangkan Seung Jo memakai pakaian itu, “Hmm yang di kanan ini terlihat bagus, yang di kiri ini juga terlihat lebih cocok untuk Seung Jo.” Ha Ni melihat harga baju yang kiri dan dia langsung kaget karna sangat mahal sekali.

Akhirnya Ha Ni memilih untuk kerja part time di sebuah toko swalayan agar bisa membeli baju untuk Seung Jo. Ha Ni benar-benar bekerja keras, mulai dari mengepel, menyimpan barang, menjadi kasir bahkan membuang sampah. Ha Ni bilang bahwa ini hal yang menyenangkan tapi melelahkan.

Ha Ni pulang ke rumah dan langsung di sambut oleh Ibu Seung Jo. Ha Ni berjalan lesu menuju kamarnya dan Ibu Seung Jo bergumam, “Hmm akhir-akhir ini dia selalu pulang terlambat.” Eun Jo yang mendengar omongan ibunya pun langsung berkomentar, “Mungkin dia bermalas-malasan karna sudah di terima di Universitas.” Ibu Seung Jo yang mendengar itu langsung memarahi Eun Jo.

Seung Jo habis dari kamar mandi dan dia melihat Ha Ni yang rebahan di kamar dan terlihat lelah. Seung Jo pun berkata, “Oh Ha Ni. Kau akhir-akhir ini selalu pulang malam.” Ha Ni bertanya,”Kenapa? Apakah kau khawatir?” Seung Jo menjawab, “Khawatir? Kau tahu tidak bahwa ibuku selalu telat tidur karena menunggu untuk membukakan pintu untukmu.” Ha Ni berkomentar, “Ya aku tau tapi mau bagaimana lagi.” Seung Jo bertanya, “Hah? Bagaimana lagi?” Ha Ni terlalu lelah sehingga dia pun langsung tertidur dan membiarkan Seung Jo bengong.

Ha Ni kembali bekerja di toko swalayan itu dan sedang mengitung jumlah gajihnya. Pintu masuk terbuka dan Ha Ni berkata, “Selamat dat….” Kata-kata Ha Ni langsung terpotong kerna yang datang adalah Seung Jo. Ha Ni kebingungan karena di toko itu hanya ada 1 karyawan dan itu artinya dia harus menghadapi Seung Jo. Seung Jo berjalan ke meja kasir dan dia langsung kaget melihat karyawan toko memakai jaket yang ditutup hingga kepala dan ada topeng wajah ayam. Ya Ha Ni berusaha menyembunyikan wajahnya dengan memakai jaket itu.

Seung Jo membayar belanjaannya dan Ha Ni tidak bisa melihat uang itu sehingga dia bertanya, “Pembeli berapa uang anda ini?” Seung Jo keheranan dan menjawab, “10000 won.” Ha Ni membuka mesin pembayaran dan kebingungan untuk mengambil uang kembalian karna tidak terlihat, jadi dia berkata, “Pembeli… silahkan ambil kembaliannya 8800 won.” Seung Jo tambah kebingungan namun dia langsung mengambil kembalian dan pergi.

Ha Ni merasa lega dan langsung membuka jaketnya itu tapi dia langsung kaget karna melihat ada Manager Toko di hadapannya. Manager toko marah, “Kau menyuruh pembeli mengambil kembaliannya sendiri?” Akhirnya hari itu juga Ha Ni langsung di pecat!

Karena sedang hujan maka Ha Ni memilih berteduh di pinggir toko makanan. Ha Ni mengomel, “Dari sekian banyak toko, Kenapa dia harus datang kesana? Ah ini pasti karna takdir hehehe. Ngomong-ngomong, dimana lagi aku bisa mendapatkan uang? Lagipula ini belum terlalu larut malam.” Ha Ni melihat kedalam toko makanan tempat dia berteduh yang ternyata sedang mencari karyawan. Ha Ni pun langsung semangat masuk ke toko itu dan melamar pekerjaan.

Pekerjaan Ha Ni itu adalah mengantarkan pesanan makanan. Walaupun hujan, Ha Ni tetap bekerja dan pemilik toko meminta Ha Ni untuk mengantarkan makanan ke sebuah rumah. Ha Ni tersenyum dan mengantarkannya. Ha Ni sampai di rumah itu dan dia kaget saat menyadari itu rumah Keluarga Baek. Ha Ni kebingungan dan mencoba berfikir. Pemilik toko menelfon dan marah-marah ke Ha Ni karena pesanan makanan belum sampai juga. Ha Ni bialng bahwa dia sudah di depan rumah pembeli. Ha Ni menutup telfon dan benar-benar merasa kebingungan.

 Ha Ni berbicara melalui interkom dengan Seung Jo dan dia sengaja merubah suaranya, “Ah ini aku dari pengantar ayam. Aku sangat sibuk sehingga aku akan meninggalkannya di luar dan anda bisa mengambilnya.” Seung Jo bertanya, “Lalu bagaimana dengan uangnya?” Ha Ni baru ingat mengenai itu dan menjawab, “Tentu saja kau harus memberikan aku uangnya.”

Seung Jo pun keluar rumah untuk mengambil pesanan ayam dan lagi-lagi dia kaget saat melihat pengantar ayam memakan jaket yang di tutupi hingga wajah dan ada gambar topeng ayam. Seung Jo langsung memberikan uangnya dan masuk kembali kedalam rumah. Ha Ni benar-benar tegang dan langsung bersandar lemah.

Selesai mengantar makanan, Ha Ni kembali ke restaurant dan mengomel, “Dari sekian banyak restaurant ayam, kenapa dia harus memesannya disini? Ah ya ini pasti karena kita berjodoh hehehe…”

HP Ha Ni berbunyi dan itu telfon dari Min Ah. Min Ah berkata, “Aku khawatir pada Joo Ri. Keluarganya bilang bahwa Joo Ri pergi pagi-pagi sekali dan sampai sekarang belum pulang juga. Bahkan HPnya pun tidak aktif. Hmm sebenarnya sejak dia tau kalau kita di terima Universitas Parang, dia sulit dihubungi. Jadi itu sebabnya kenapa aku hanya datang bersama Joon Gu saat kamu di rawat di rumah sakit.”

Ha Ni sangat panik dan mencari ke berbagai tempat yang biasa mereka datangi. Dan tempat yang terakhir di datangi adalah Salon tapi tetap saja Ha Ni tidak berhasil menemukan Joo Ri. Ha Ni sedih dan berkata, “Joo Ri… Kau ada dimana?” Ha Ni janjian ketemuan dengan Min Ah dan berusaha mencari bersama namun tetap tidak menemukan Joo Ri. Ha Ni bertanya, “Teampat mana yang belum kita datangi? Ah ya sekolah!”

Mereka berdua pun pergi ke sekolah untuk mencari Joo Ri. Mereka mencari Joo Ri ke ruang club seni namun tidak ada dan ternyata akhirnya menerka menemukan Joo Ri di ruang kelas. Min Ah dan Ha Ni langsung menghampiri Joo Ri dan bertanya, “Ya Joo Ri! Kenapa HP mu tidak aktif?” Joo Ri kaget dan balik bertanya, “Kenapa kalian disini? Bukankah kalian sibuk karena sudah menjadi mahasiswa?” Min Ah menjawab, “Ya kita bahkan belum lulus.” Ha Ni meminta maaf karna dia terlalu sibuk dengan urusannya sendiri sehingga melupakan Joo Ri.

Joo Ri bilang bahwa dia seharusnya pergi mencari Universitas namun dia kebingungan sehingga tempat yang didatangi itu sekolah ini. Min Ah bertanya, “Apa kau tidak akan ikut tes?” Joo Ri menjawab, “Orang tua ku meminta ku untuk melakukannya ya walaupun untuk program kuliah yang hanya 2 tahun saja. Tapi apa yang aku lakukan jika nanti aku kuliah? Hanya akan membuang-buang uang saja. Kenapa orangtua ku ini tidak mengerti aku?” Ha Ni berkata, “Ya sudah kamu jelaskan saja pada orang tuamu bahwa kau ingin melakukan sesuatu yang kamu inginkan.” Joo Ri berkata, “Aku tidak tahu apa yang ingin aku lakukan.” Ha Ni dan Min Ah kompak berkata, “Aku tau.”

Ha Ni dan Min Ah menggerakan tangannya seperti gunting dan Joo Ri tersenyum. Min Ah bilang bahwa Joo Ri lah yang telah membuat model rambutnya itu. Ha Ni juga bilang bahwa selama ini Joo Ri yang selalu membantu mengikat rambutnya.

Joo Ri senang mendengar hal itu dan langsung bilang, “Baiklah aku tidak akan mengambil tes kuliah itu. Ini sangat menggangguku.” Joo Ri mengambil buku-bukunya yang tebal dan berteriak di jendela, “Universitas hanya mementingkan nama, kejam sekali dunia ini!” Joo Ri langsung melemparkan buku-bukunya itu keluar jendela. Ha Ni ikut berteriak, “Kejamnya dunia ini karena Universitas yang mementingkan nama hanya mau menerima gadis-gadis populer!” Ha Ni ikut melemparkan buku keluar jendela. Min Ah ikut berteriak, “Joo Ri cantik!” Ha Ni ikut berteriak, “Min Ah juga cantik!”

Joo Ri tersenyum lega dan berkata, “Ngomong-ngomong selamat ya karna kalian sudah diterima di Universitas.” Mereka semua tertawa dan langsung bernyanyi bersama dan ada Bye-Bye Sea yang mengiringi nyanyian mereka.

Hari kelulusan sudah tiba dan Ibu Seung Jo sibuk menyuruh Ha Ni dan Seung Jo agar segera bersiap-siap. Seung Jo sudah selesai bersiap-siap dan saat dia keluar kamar, dia kaget saat melihat Ha Ni memegang kotak besar. Ha Ni memberikan kotak besar itu pada Seung Jo dan Seung Jo bertanya, “Apa ini?” Ha Ni menjawab, “Ini karena aku merasa bersalah dan merasa berterima kasih padamu jadi kamu bisa menyebutnya ini sebagai hadiah kelulusan.” Seung Jo bertanya, “Kau mau memberikan hadiah minta maaf, berterima kasih dan hadiah kelulusan sekaligus hanya dalam satu hadiah?” Ha Ni hanya tertawa dan membukakan hadiah untuk Seung Jo.

Seung Jo melihat hadiahnya dan bertaya, “Hah apa ini?” Ha Ni menjawab, “Itu alat pemijat kepala. Sepertinya kau sering berkata bahwa kau sakit kepala.” Seung Jo terlihat meremehkan hadiah Ha Ni dan Ha Ni pun kecewa dan betanya, “Apa kau ingin hadiah lain?”

Ibu Seung Jo datang ke lantai 2 karena Ha Ni dan Seung Jo tidak juga turun ke bawah. Ibu Seung Jo melihat hadiah Ha Ni dan dia bertanya, “Omo… Apa ini? Apakah ini helm?” Ha Ni menjelaskan, “Ini adalah alat pemijat kepala karena kepala Seung Jo sering digunakan. Ini juga sangat baik memijat leher.” Ibu Seung Jo berkomentar ,”Apakah ini hadiah untuk Seung Jo? Ah kau ini sangat perhatian sekali Ha Ni.”

Ibu Seung Jo mengambil alat pemijat kepala itu dan berniat memakaikannya ke kepala Seung Jo namun Seung Jo menolaknya dan langsung pergi. Ha Ni melihat Seung Jo dan dia merasa sangat kecewa. Ibu Seung Jo berkata, “Huh dia itu selalu bersikap kasar. Tapi ini terlihat mahal, dimana kamu mndapatkan uang?” Ha Ni bilang bahwa dia bekerja paruh waktu. Ibu Seung Jo bertanya, “Jadi ini alasan mengapa kau selalu pulang larut malam?” Ha Ni menganggukan kepalanya.

Seung Jo ternyata masih ada di tangga sehingga dia bisa mendengar omongan Ibunya dan Ha Ni. Dia hanya tersenyum sekilas saat tau kalau Ha Ni bekerja paruh waktu demi membelikan hadiah untuknya.

Ha Ni dan teman-temannya sudah masuk kedalam gedung sekolah untuk acara kelulusannya. Ha Ni terlihat sangat gugup, Joo Ri dan Min Ah justru terlihat santai dan mengganggu Ha Ni. Ternyata Ha Ni sangat gugup karena nanti dia akan mewakili kelas 3-7 untuk naik ke atas panggung untuk menerima surat kelulusannya. Min Ah bilang bahwa Guru Kang Yi sudah sangat berusaha membuat Ha Ni agar bisa maju ke atas panggung sehingga Ha Ni tidak boleh tampil mengecewakan. Joo Ri juga bilang bahwa yang anak naik ke atas panggung itu hanya 2 orang. dari kelas 3-1 adalah Baek Seung Jo dan dari kelas 3-7 adalah Oh Ha Ni. Kata-kata itu justru membuat Ha Ni semakin tegang.

Joon Gu melihat Seung Jo dan bertanya, “Hey Baek Seung Jo! Aku dengar kau masuk Universitas Parang. Katakan apa maksudmu hah? Ada beratus-ratus Universitas bahkan kau mungkin bisa masuk Universitas Tae San dengan mengerjakan soal sambil menutup mata. Lalu kenapa kau mengambil Universitas Parang hah?” Seung Jo dengan dinginnya menjawab, “Agar aku bisa melihat reaksimu yang seperti ini.” Joon Gu kesal dan ingin mengahajar Seung Jo namun niatnya itu tertahan karena acara kelulusan sudah akan dimulai.

Ibu Seung Jo, Bapa Seung Jo, Eun Jo dan Papah datang ke acara kelulusan itu dan membawa rangkaian bunga. Kepala Sekolah membuka acara dan berkata “Untuk angkatan ini ada 2 misteri yang terjadi, yaitu Oh Ha Ni dari kelas 3-7 bisa masuk Universitas Parang dan Baek Seung Jo yang selama ini rengking 1 sekolah juga masuk Universitas Parang. Apakah ini masuk akal?” Joon Gu nyeletuk, “Tentu saja tidak!” Semua murid langsung tertawa sementara Ha Ni merasa malu. dan Jang Mi tentu saja merasa kesal karena Ha Ni akan satu kampus dengan Seung Jo.

Lalu acara seanjutnya setelah sambutan dari Kepala Sekolah adalah sambutan dari Baek Seung Jo. Seung Jo naik ke atas panggung dan mengucapkan kata-kata mutiara. Ibu Seung Jo langsung sibuk mengambil foto sementara Ha Ni tersenyum senang melihat Seung Jo. Di akhir kalimat sambutannya, Seung Jo berkata, “Aku berterima kasih kepada Nenek seseorang yang tidak pernah aku lihat tapi dia mengatakan bahwa aku harus melewati hidupku dengan bersenang-senang dan bahagia. Dia bilang itu lah bagaimana seharusnya melanjutkan hidup.” Ha Ni sangat kaget mendengar kata-kata itu karena itu adalah kata-kata Neneknya.

Ha Ni melamunkan kejadian pada saat selesai menonton Drama Musical bersama Seung Jo dan dia berkata bahwa Neneknya pernah meminta padanya agar menikmati hidup dengan bersenang-senang dan berbahagia dan juga memastikan prang di sekitar kita juga bahagia.

Karena keasikan melamun, Ha Ni tidak sadar bahwa namanya di panggil untuk menerima sertifikat di depan panggung. Joo Ri dan Min Ah pun berbisik kepada Ha Ni sehingga membuyarkan lamunan Ha Ni. Ha Ni pun buru-buru naik ke atas panggung dan berdiri di samping Seung Jo.

Ha Ni kembali menghayalkan bahwa dia naik ke atas altar bersama Seung Jo. Seung Jo tersenyum manis ke Ha Ni dan itu membuat Ha Ni senang. Pendeta yang mirip sekali dengan Kepala Sekolah bertanya, “Baek Seung Jo apakah kau akan menerima Oh Ha Ni sebagai istrimu?” Seung Jo menatap Ha Ni dan menjawab, “Ya Aku bersedia.” Lalu pendeta bertanya pada Ha Ni, “Oh Ha Ni apakah kau bersedia menerima Baek Seung Jo sebagai suamimu?” Ha Ni langaung menjawab, “Ya tentu saja saya bersedia.” Tiba-tiba terdengar tertawaan dan Ha Ni kaget.

Ya Lamunannya langsung berakhir dan suara tawa itu adalah suara tawa teman-teman Ha Ni semuanya. Tiba-tiba Joon Gu berdiri dan berteriak, “Ha Ni, aku berjanji Kau satu-satunya untukku! Aku akan memperhatikanmu hingga akhir hidupku.” Ibu Seung Jo tidak suka mendengar itu dan langsung berdiri, “Siapa bilang? Aku menolaknya! Aku sangat menolaknya! Hey Seung Jo, katakan sesuatu bahwa kau menolaknya!” Semuanya langsung tertawa dan saling berbisik.

Seung Jo merasa dipermalukan dan dia berbisik pada Ha Ni, “Apa yang sedang kau lakukan hah? Cepat turun dari panggung ini.” Ha Ni mengambil surat kelulusannya dan turun menuruni panggung. Karena sepatu Ha Ni licin maka dia terpeleset dan jatuh di atas punggung Seung Jo. Semua kaget dan langsung melihat ke mereka berdua.

Selesai acara itu. Ha Ni, Joo Ri, Min Ah dan Ibu Seung Jo berjalan bersama-sama. Joo Ri dan Min Ah terus menertawakan Ha Ni karena masalah terpeleset di panggung dan menimpa Seung Jo. Ibu Seung Jo lalu meminta maaf karena tadi membuat Ha Ni malu. Ha Ni bertanya, “Apakah Eun Jo datang juga?” Ibu Seung Jo menunduk malu dan menjawab, “Dia bilang bahwa aku sangat memalukan.” Joo Ri dan Min Ah mencoba menghibur dan berkata, “Jika tidak ada sesuatu yang terjadi maka itu bukan Oh Ha Ni.” Ibu Seung Jo lalu bertanya, “Dimana Seng Jo? Aku sudah memberitahu kepadanya bahwa aku ingin mengambil fotonya.”

Mereka bertiga menunggu diluar gedung sekolah dan berbincang-bincang. Ibu Seung Jo sangat bersemangat dan bilang bahwa dia ingin sekali merasakan kembali ke masa sekolahnya dulu. Joo Ri bertanya, “Benarkah? Jutsru kami sudah merasa lelah memakai seragam seperti ini.” Ha Ni tiba-tiba tersentak kaget dan Joo Ri, Min Ah juga ikut kaget saat melihat ada murid yang berciuman. Tapi Ibu Seung Jo jutsru berkomentar, “Keren sekali… Itu lah yang aku katakan, ini adalah kelulusan sekolah. Oh Dimana Seung Jo? Aca cepat cari dia!” Joo Ri tiba-tiba berkata, “Oh dia disana!”

Ya Seung Jo sedang dikerumuni murid perempuan yang meminta foto bersama dengan Seung Jo namun Seung Jo langsung meninggalkan mereka semua. Ibu Seung Jo yang melihat itu pun berkata, “Kasian sekali mereka…” Jang Mi datang dan langsung menggandeng Seung Jo lalu meminta temannya memotret mereka berdua. Saat hitungan ke 3, Seung Jo melepaskan tangannya dan pergi sehingga foto itu pun gagal dan tidak ada Seung Jo. Ha Ni, Joo Ri, Min Ah dan Ibu Seung Jo yang melihat itu langsung tertawa.

Ibu Seung Jo lalu berkata pada Ha Ni, “Ha Ni cepat pergi ke sampinya dan aku akan memotretnya.” Ha Ni jelas tidak mau karena dia takut di tolak juga. Ibu Seung Jo terus memaksa namun Ha Ni tidak mau. Ibu Seung Jo berteriak, “Hey Baek Seung Jo!” Ibu Seung Jo mendorong Ha Ni sehingga Ha Ni berdiri di samping Seung Jo.

Seung Jo bertanya, “Apa yang ingin kau lakukan? Kau ingin foto bersamaku?” Ha Ni menjawab, “Ya.” Seung Jo kembali bertanya, “Apa kamu mengatakan bahwa kamu ingin berfoto bersamaku sekarang?” Ha Ni ketakutan dan menjawab, “Tidak. Maksudku bukan begitu. Maafkan aku.” Ha Ni berjalan pergi dan Jang Mi langsung tersenyum senang karena Ha Ni juga di tolak.

Namun tiba-tiba Seung Jo menarik Ha Ni dan merangkul Ha Ni lalu berkata pada Ibunya, “Apakah begini sudah cukup?” Semuanya kaget bahkan Jang Mi pun langsung merasa pusing. Ibu Seung Jo senang dan siap memoto mereka berdua. Seung Jo berbisik pelan, “Hey pelanggan, berapa uang yang kau berikan ini? Tolong ambil kembalian 8800 won.” Ha Ni kaget mendengar kata-kata itu karena itu artinya Seung Jo tau bahwa dia yang memakai jaket ayam di supermarket. Ibu Seung Jo langsung memotret dan hasilnya Ha Ni menjauh dari Seung Jo karena kaget dan pada saat itu Seung Jo tersenyum.

Malamnya ada acara yang dibuat oleh murid-murid kelas 3-1 dan Ha Ni terlihat sangat lesu. Joon Gu memperhatikan Ha Ni dan dia berkata dalam hati, “Baiklah aku akan memberikan semangat apda Ha Ni agar Ha Ni tidak melupakan hari ini.” Tiba-tiba ada suara berisik dan itu datang dari suara anak-anak kelas 3-1 yang datang ke tempat itu juga. Guru Kang Yi langsung protes pada Paman pelayn namun paman itu bilang bahwa mereka ini dari sekolah yang sama sehingga harus merayakan bersama.

Perhatian kelas 3-7 teralihkan karena Joon Gu dan Bye-Bye Sea siap perform dan memakan baju yang sedikit nora. Joon Gu berkata, “Ha Ni dengarkan ini, ini adalah perasaanku padamu.” Seung Jo yang mendengar hal itu langsung tersenyum meremehkan. Joon Gu sangat kaget melihat Seung Jo dan kelas 3-1, “Ya Baek Seung Jo! Mengapa kau ada disini?” Seung Jo tidak menjawab dan berkata pada anak-anak kelas 3-1, “Sepertinya mereka menyiapkan banyak hal jadi kita tinggal menikamtinya.” Anak kelas 3-1 setuju dan duduk di meja dekat meja kelas 3-7.

Joon Gu dan Bye-bye sea mulai perform dan semuanya tertawa. Ha Ni benar-benar merasa malu dan hanya bisa tertunduk malu. Seung Jo yang melihat penampilan Joon Gu dan Bye-Bye Sea hanya tertawa meremehkan. Joon Gu mengahmpiri Ha Ni dan memegang tangan Ha Ni, pada saat itu senyum Seung Jo hilang dan wajahnya terlihat kesal (Cemburu kah? Hehehehe :)) Ha Ni benar-benar kebingungan dan hanya bisa tertunduk dan tidak berani melihat Seung Jo.

Di Restaurant Papah, banyak sekali pengunjung yang datang untuk makan-makan bersama keluarga merayakan hari kelulusan. Papah sangat kesulitan sehingga dia akhirnya menelfon Joon Gu dan meminta Joon Gu datang ke Restaurant untuk membantu. Joon Gu awalnya tidak mau pergi karena dia tidak mau membiarkan Ha Ni sendiri namun dia bilang bahwa hidupnya masa berjalan sehingga dia harus menggapai yang ada di depan matanya yaitu bekerja di Restaurant Papah. Joon Gu pun langsung mengajak Bye Bye Sea agar segera pergi.

Guru Ji Oh bilang pada kelas 3-1 bahwa dia sangat bangga karena kelas 3-1 sudah bersungguh-sungguh. Guru Kang Yi tidak mau kalah sehingga dia juga bilang pada kelas 3-7 bahwa dia juga sangat bangga. Akhirnya kelas 3-1 dan kelas 3-7 adu omongan mengenai Ha Ni yang rengking terendah bisa masuk Universitas Parang dan Seung Jo yang rengking teratas masuk Universitas Parang juga.

Seung Jo tiba-tiba berkata, “Aku merasa terhina jika di samakan dengan gadis bodoh itu. Gadis bodoh yang merepotkan!” Ha Ni sangat kaget mendengar itu dan dia berkata, “Benar, aku sedikit merepotkanmu. Baiklah banyak merepotkanmu! Aku sempat berfikir untuk tidak mempedulikan apa yang kamu tidak punya tapi walaupun kau pintar, kau tidak boleh merendahkan orang lain!” Seung Jo membalas, “Aku tidak merendahkannya, orang itu lah yang membuat dirinya rendah!” Semua menertawakan Ha Ni.

Ha Ni berkata, “Dasar orang brengsek! Kau bahkan tidak pernah memikirkan sedikit perasaan manusia. Kau kasar! Dingin! Keberuntungan yang jelek!” Seung Jo bertanya, “Tapi mengapa kau menyukai si Kasar, si dingin dan si keberuntungan jelek ini hah? Bukankah kau bilang kau menyukaiku? Bahkan buku catatanmu penuh namaku. Karena itu apakah kau pernah belajar?” Ha Ni sangat kesal di perlakukan seperti itu sehingga dia berkata, “Benar… Disini juga aku ada sesuatu yang ingin aku ungkapkan. Apakah kamu sudah siap melihat hal ini? Tada! Lihatlah ini adalah foto Baek Seung Jo kecil!!!” Ha Ni mengeluarkan foto Seung Jo yang di dandani perempuan dan memperlihatkannya pada semua orang. Joo Ri mengambil foto itu dan langsung melihatnya bersama anak kelas.

Ha Ni melihat Seung Jo dan berkata, “Kau pikir aku hanya memiliki 1 foto saja? Apakah kau ini pantas disebut Jenius?” Ha Ni tertawa sementara wajah Seung Jo sangat kesal. Seung Jo mengambil kembali foto masa kecilnya dan langsung menarik Ha Ni pergi. Ha Ni meminat di lepaskan namun Seung Jo terus menariknya pergi.

Seung Jo membawa Ha Ni ke lorong yang sepi dan langsung sengaja mendekatkan wajahnya ke wajah Ha Ni. Ha Ni ketakutan dan bertanya, “Hey apa yang kau ingin lakukan hah?” Seung Jo balas bertanya, “Kau pikir apa yang akan aku lakukan?” Ha Ni berusaha melawan dan berkata, “Muskipun kau berniat menakutiku tapi aku tidak akan takut! Perasaan sukaku padamu… kau membuatnya sebagai lelucon di hadapan teman-temanmu. Aku hanya mencoba balas dendam! Aku sekarang akan berhenti menyukaimu!”

Seung Jo bertanya, “Apakah kau bisa?” Ha Ni menjawab, “Tentu saja bisa! Baek Seung Jo sifatmu itu… dengan sifatmu selama ini aku merasa lelah. Setelah kelulusan ini maka aku merasa perasaan ini sudah selesai. Aku akan berhenti menyukaimu!” Seung Jo semakin mendekatkan wajahnya dan bertanya, “Apakah kau akan melupakannya?” Ha Ni menjawab, “Ya! Aku akan melupakan orang sepertimu dan nanti di Universitas aku akan menemukan seseorang…” Kata-kata Ha Ni terpotong oleh Seung Jo, “Kalau begitu apakah kau bisa melupakan aku?”

Seung Jo benar-benar mendekatkan wajahnya dan mencium Ha Ni. Ha Ni sangat kaget dan hanya bisa diam. Seung Jo melepaskan ciumannya dan bilang, “Sepertinya kau tidak bisa melupakanku.” Seung Jo tersenyum sinis dan pergi. Ha Ni kaget dan berkata dalam hati, “Cium? Apakah aku dan Baek Seung Jo…. Baek Seung Jo mencium ku.”

Paginya, Ha Ni meletakan foto dia bersama Seung Jo saat kelulusan di samping tempat tidurnya dan dia bagun dalam keadaan senang. Setiap mengingat kejadian ciuman itu, Ha Ni selalu merasa malu-malu dan senang. Ibu Seung Jo berteriak dari bawah, “Ha Ni bukankah kau harus pergi ke kampus?” Ha Ni baru ingat dan langsung bangun.

Ha Ni berjalan pelan-pelan keluar dari kamarnya dan berfikir, “Apa yang harus aku lakukan jika aku bertemu dengannya? Pasti rasanya sangat canggung sekali. Apa yang harus aku lakukan?” Ha Ni berjalan menuju kamar mandi dan kaget saat melihat Seung Jo baru keluar dari kamar mandi. Ha Ni berusaha bersikap akrab tapi justru Seung Jo yang bersikap dingin padanya dan melewati Ha Ni begitu saja. Ha Ni kebingungan dan terus melihat Seung Jo sehingga dia terpeleset di kamar mandi dan Seung Jo berkomentar, “Bodoh!”

Ha Ni terdiam dan befikir, “Bodoh? Apakah itu kata yang boleh diucapkan pada seseorang yang telah berciuman? Apa artinya ini? Hanya aku yang tidak tahu apa yang mesti di lakukan. Aku benar-benar seperti orang bodoh.”

Mereka pun sekeluarga sarapan bersama. Ibu Seung Jo bilang bahwa dia sangat rindu melihat Ha Ni dan Seung Jo yang memakai seragam. Ibu Seung Jo lalu bertanya, “Ha Ni, apa pendapatmu mengenai rambut baru Seung Jo? Setelah dia bilang tidak mau pergi, akhirnya aku memaksanya agar di kriting. Bagaimana pendapatmu? Bukankah ini hasilnya bagus?” Ha Ni tersenyum dan menjawab, “Ya hasilnya bagus.” Seung Jo tiba-tiba menyelesaikan sarapannya dan pergi ke kampus. Ibu Seung Jo mencoba mengehntikan dan meminta agar Seung Jo pergi bersama Ha Ni.

Di kampus, Ha Ni duduk sendiri dan bilang bahwa tadi Seung Jo bilang pada Ibunya bahwa dia akan pergi bersama Ha Ni namun di tengah jalan Ha Ni justu ditinggal. Joo Ri datang dengan penampilan barunya dan Ha Ni senang melihat temannya ini. Joo Ri bertanya, “Bagaimana pendapatmu?” Ha Ni menjawab, “Hmm kau terlihat seperti memakai helm.” Joo Ri kesal dan berkata, “Kau benar maka bukalah helm ini, buka!” Ha Ni tertawa dan berkata, “Tidak aku hanya bercanda, kau cantik.”

Joo Ri bertanya, “Mana Min Ah? Bukankah kita janjian untuk pergi makan siang bersama?” Tiba-tiba ada suara, “Aku disini!” Joo Ri dan Ha Ni kebingungan saat melihat seorang mahasiswa yang ada di dekat mereka. Ha Ni benar-benar tidak mengenali Min Ah yang berubah sekali. Joo Ri juga bilang bahwa Min Ah seperti tokoh komik.

Mereka berjalan mengelilingi kampus dan meliat ada yang sedang berciuman. Joo Ri dan Min Ah hanya bisa bengong sementara Ha Ni tersenyum malu-malu. Joo Ri dan Min Ah penasaran dan langsung bertanya, “Ada apa Oh Ha Ni? Apakah sesuatu telah terjadi? Apa itu? Cepat beritahu kami!” Ha Ni terus menutupi bibirnya dan itu membuat Min Ah bertanya, “Ha Ni, kenapa kau terus menutupi bibirmu?” Ha Ni berbisik pada mereka berdua, “Aku dicium.” Joo Ri dan Min Ah kaget, “APA DICIUM?” Ha Ni panik dan meminta mereka berdua agar tenang.

Joo Ri bertanya, “Kapan? Dimana? Bagaimana?” Min Ah juga bilang, “Kalau kalian sudah berciuman maka itu artinya kalian pasangan.” Ha Ni kebingungan dan bilang, “Tapi sepertinya dia bercanda saja.” Joo Ri dan Min Ah meyakinkah Ha Ni bahwa itu pasti ciuman beneran. Ha Ni langsung tersipu malu.

 Mereka berjalan-jalan dan terus bertanya tentang ciuman itu pada Ha Ni. Ha Ni berusaha menghindar dan justru itu membuatnya hampir tertabrak sebuah mobil sport berwarna merah. Turun seorang wanita dari dalam mobil itu dan bertanya, “Kau tidak terluka?” Ha Ni menjawab, “Tidak. Maafkan aku,” Wanita itu bertanya, “Apakah kau mahasiswa baru? Welcome…” Wanita itu masuk kembali ke dalam mobilnya dan pergi.

Ha Ni, Joo Ri, Min Ah berjalan keliling kampus dan Min Ah berkata, “Bukankah ini mobil yang tadi?” Ha Ni berkata, “Wanita tadi sangat cantik. Au melihatnya dari dekat dan ya dia memiliki rambut yang indah dan tebal. Mungkin dia senior kita. hmm tahun ke3 sepertinya.” Joo Ri berkata, “Berhentilah membicarakan wanita itu lagi. Bukankah kita ke gedung itu untuk menemui suamimu Ha Ni?” Ha Ni langsung tersipu malu.

Mereka bertiga mengintip ruang kelas Seung Jo dan terlihat Seung Jo sedang mengobrol bersama teman-teman yang lainnya. Seperti biasa Joo Ri berteriak, “OH HA NI!” Seung Jo mendengar itu dan langsung berjalan keluar kelas. Ha Ni berdiri di depan pintu dan melambaikan tangan pada Seung Jo, Joo Ri dan Min Ah juga ikut melambaikan tangan pada Seung Jo. Seung Jo bertanya, “Ada apa?” Ha Ni menjawab, “Tidak… Aku hanya ingin melihat suasana kelasmu saja. Aku hanya penasaran.”

Min Ah yang melihat pembicaraan antara Seung Jo dan Ha Ni tetap dingin pun mulai bertanya pada Joo Ri, “Apakah benar bahwa mereka telah berciuman?” Joo Ri menjawab, “Enathlah. Ha Ni terlihat terlalu payah!”

Wanita yang tadi keluar dari mobil itu bernama He Ra dan dia berjalan menghampiri Seung Jo dan kaget melihat Ha Ni. He Ra bertanya pada Seung Jo, “Apakah ini pacarmu?” Ha Ni sudah tersenyum namun Seung Jo menjawab, “Tidak. Tidak mungkin!” Ha Ni benar-benar sakit hati mendengar jawaban Seung Jo. He Ra justru senang mendengar jawaban itu dan mengajak Seung Jo pergi ke cafe namun Seung Jo menolaknya dan langsung pergi.

Senyuman He Ra langsung menghilang saat melihat Ha Ni dan ya terlihat jelas bahwa dia tidak menyukai Ha Ni karena Ha Ni ini teman Seung Jo juga.