Category Archives: Playfull Kiss

G.NA – Kiss Me Lyrics [Playful Kiss OST]

eonjebuteo yeonneunji neoreul bon sunganbuteo
ibunichomada niga jakku saenggangna
neoneun mueolhaneunji.. jigeum eodiinneunji Ooh baby
irijeori boado igeotjeogeot dajyeodo
niga jakku mame deureo michilgeo gatae..
ireon naemameul aneunji.. ireon nae gamjeongeun aneunji

haruharu neoman barabomyeo hangsang gidaryeo bollae
ojik neo hanaman algo saranghae julge
saranghagiedo akkaun siganinde
neo eobsin amugeotdo hagi sirheunde

maeilmaeil achimmada nunman tteumyeon bogo sipeunde
ije neo eobsineun harurado salsu eomneunde
saranghanda geu hanmadi deutgo sipeunde
maeil saranghae.. neoman saranghae uriduri

Ooh baby..
hoksi niga naekkeoran geureon sangsangmaneuro
harujongil dugeungeoryeo michilgeo gatae
neoegero dallyeoga.. soljikhage gobaekhalgeoya

haruharu neoman barabomyeo hangsang gidaryeo bollae
ojik neo hanaman algo saranghae julge
saranghagiedo akkaun siganinde
neo eobsin amugeotdo hagi sirheunde

maeilmaeil achimmada nunman tteumyeon bogo sipeunde
ije neo eobsineun harurado salsu eomneunde
saranghanda geu hanmadi deutgo sipeunde
maeil saranghae.. neoman saranghae uriduri

malmuni makhyeo.. sumi chaolla(chaolla)
tteollineun naeson kkok jabeun ni dusone
nunmuri nalgeot gata.. jigeum naege gobaekhangeoni

naman hangsang jikyeojugo barabwa jullae
neo ttaemune nunmullamyeon kkok ana jullae
geutorok ganjeolhi wonhadeon sunganine
amuri saenggakhaedo mitgijil anha

maeilmaeil nae yeopeseo naman bomyeo jikyeobwa jullae
chinguro jinaegin neoreul neomu saranghanikka
saranghan geu hanmadi jigeum haejullae
maeil saranghae.. naman saranghae.. kiseuhae jullae.

Iklan

[Lyrics] Saying I Love You [Should I Confess] – Sistar Soyu (OST Playfull Kiss)

Romanization:
oneuldo meonghani haneulman boda
ne eolgureul gamanhi geuryeo bwasseo
ne ipsul ne nundongjakkaji
da sarangseureowo oneulttara deo

ije ijeoyaji aereul sseobwado
ijen an bwayaji dajimhaebwado
naegen ojik neoppuniya
dareun sarameun andwae
ireon nae mameul ije arajullae

saranghandago malhalkka
maeil neoman baraboneun nae mameul alkka
naegen neo hanaman isseojumyeon
amugeotdo nan ije wonhaji anha
nae gyeoteman isseo jullae

neoege dallyeoga bolkka
ijen ne maeumeul algo sipeo
nan geugeo hanamyeon dwae

nega eomneun haruneun sangsanghal sudo eobseo
ireon nae mameul badajullae

hamkkehaetdeon nareul gieokhaebwado
jinan chueokdeureul doesaegyeobwado
naegen neo hanappuniya dareun sarangeun sirheo
neoman gidarineun nal anajullae

saranghandago malhalkka
maeil neoman baraboneun nae mameul alkka
naegen neo hanaman isseojumyeon
amugeotdo nan ije wonhaji anha
hangsang nae gyeoteul jikyeojullae

chagaun ne pyojeongdo
ne maltudo sanggwaneobseo
nege gobaekhallae
saranghae

neol saranghae
sesang geu nuguboda neoreul deo saranghae
naegen i sarangman heorakhamyeon
amugeotdo nan ije baraji anha
neo hanamyeon chungbunhande

neoege yonggi naebolkka
ijen ne maeumeul algo sipeo
nan deo baral ge eobseo

neo eobsineun harudo saragal suga eobseo
ojik han saram neol saranghae

Sinopsis Playful Kiss Episode 16

Seung Jo dan Ha Ni datang ke kampus dengan mengendarai sepedah. Seung Jo langsung memarkirkan sepedahnya dan bertemu dengan He Ra. He Ra bertanya, “Kenapa kau bisa datang dengan menggunakan sepedah? Ah sepertinya sepedah kau dan Ha Ni memakai sepedah pasangan ya?” Seung Jo menjawab, “Ini semua karena ibuku. Bahkan dia tadinya ingin memakaikan baju pasangan padaku juga.” He Ra tertawa lalu bertanya, “Tapi… Kenapa kau tidak memakai cincin yang begitu penting?” Seung Jo menjawab, “Aku akan mengenakannya setelah mendapat surat izin menikah.” He Ra kebingungan namun Seung Jo langsung mengajak He Ra pergi bersama.

Seung Jo memberi tahu hal itu pada He Ra dan He Ra berkata pada Ha Ni, “Ha Ni jadi kau dan Seung Jo belum menikah secara hukum?” Ha Ni berkata, “Apa yang kau bicarakan hah? Langit dan bumi pun sudah tahu bahwa kami sudah menikah. Apakah kau tahu berapa saksi yang melihat pernikahan kami? Ah bukankah kau juga menyaksikannya.” He Ra berkomentar, “Tapi tetap saja ini belum sah secara hukum. Kau memerlukan Stempel dari pengadilan khusus. Ah kalau begitu ini artinya aku masih memiliki kesempatan, bukan?” He Ra mengejar Seung Jo dan langsung merangkul tangan Seung Jo sementara itu Ha Ni terlihat cemburu melihat itu.

He Ra bertanya pada Seung Jo, “Benarkah hal itu? Jadi dia akan masuk fakultas perawat hanya karena kau menjadi dokter?” Seung Jo menjawab, “Ya.” He Ra tersenyum dan berkata, “Wow Oh Ha Ni benar-benar mengangumkan. Dia itu seperti bintang yang ada di orbit Seung Jo.” Seung Jo berkomentar, “Apakah maksudmu itu orbit bumi yang mengelilingi matahari?” He Ra berkata, “Hah? Hey apakah kau ini tipe macho?” Seung Jo hanya tersenyum mendengar hal itu.

Ha Ni pergi ke perpustakaan dan meminjam banyak buku. Ha Ni bergumam, “Apa? Memiliki kesempatan? Benar-benar tidak bisa di percaya! Dan Baek Seung Jo tidak akan mendaftarkan pernikahan ini secara hukum hingga aku masuk jurusan Perawat? Benar-benar menjengkelkan dan kekanak-kanakan!” Omongan Ha Ni itu terlalu kencang sehingga orang-orang di sekitar Ha Ni mendengar hal itu dan langsung pergi.

Ha Ni mulai membuka buku dan bergumam, “Baiklah. Karena ini menjengkelkan dan kekanak-kanakan maka aku akan membuktikannya dengan lulus tes ujian perawat.”

Joon Gu mendapatkan ide untuk membuat menu khusus bekal makan siang dan dia menjelaskan semua itu pada Papah Ha Ni. Ada tamu yang datang ke Restaurant dan itu adalah Christine si wanita asing itu. Joon Gu terlihat kesal melihat dia namun Papah meminta Joon Gu melayaninya sehingga Joon Gu pun mau tidak mau harus menghampiri Christine.

Joon Gu bertanya, “Kau mau pesan apa?” Christine menjawab, “Kali ini aku ingin makan mie Sam Gye.” Joon Gu berkomentar, “Kenapa kau setiap hari selalu makan mie? Kau perlu makan nasi dan roti juga.” Christine berkata, “Aku tidak hanya makan mie. Aku juga ingin makan kimchi timun yang kau buat. Sangat enak. Sepertinya aku sudah kecanduan sekali.” Joon Gu berkata, “Ah sayang sekali Kimchi Timun sudah habis.” Christine bertanya, “Benarkah? Ah sayang sekali…” Christine langsung terlihat kecewa.

Joon Gu melihat sesuatu yang di bawa oleh Christine dan dia bertanya, “Ah apa itu? Terlihat bagus.” Christine berkata, “Ini adalah Terere. Biasanya di pakai untuk minum Mate Tea dingin. Apa kau mau mencobanya?” Joon Gu bertanya “Yay kenapa aku harus meminum apa yang kau minum juga?” Christine menjawab, “Kami selalu meminum ini dan berbagi. Ini yang di namakan berbagi pada teman.” Joon Gu tetap menolak dan berkata, “Kenapa orang-orang berbagi hal itu? Aku akan mendapatkan bakteri, singkirkanlah cepat!” Christine berkata, “Tenang saja terere ini memiliki bahan khusus yang bisa membunuh bakteri.”

Christine berkata, “Minumlah ini dan kita bisa menjadi teman.” Joon Gu menolak dan berkata, “Tidak! Aku tidak ingin menjadi temanmu jadi cepatlah makan mie-nya dan segera pergi. Ok?” Christine berkata, “Kalau begitu jadilah pacarku. Aku menyukaimu Tuan Bong Joon Gu sejak pertama kali bertemu. Jadi mari kita menjadi pasangan saja.”

Semua pelayan toko dan Papah diam-diam melihat hal itu dan tersenyum. Joon Gu berkata, “Oh tuhan apakah gadis ini Gila? Hey sudah aku katakan bahwa aku ini menyukai seseorang!” Christine berkomentar, “Bohong! Aku setiap hari datang kemari dan tidak pernah melihat perempuan yang kau suka itu! Aku juga bahkan tidak pernah melihatmu pergi berkencan dengan seseorang.” Joon Gu berkata, “Apakah jika aku menyukai seseorang maka aku harus pergi kencan dengannya dan menjadi pasangannya? Hanya diriku dan hatiku yang dapat melihat dia seorang.” Christine kesal dan bergumam, “Huh apa-apaan ini.” Joon Gu berkata, “Mulai sekarang jangan datang lagi kemari. Mengerti? Jangan datang!”

Joon Gu kembali ke dapur dan para pelayan dan Papah Ha Ni langsung kembali bekerja seperti semula. Sementara itu Christine terdiam sedih.

Ha Ni sedang menelfon dengan Min Ah dan bilang bahwa mereka akan bertemu nanti. Kyung Soo lewat dan berkata, “Hey Oh Ha Ni. Sudah lama tidak melihatmu. Kenapa kau tidak pernah datang ke klub tennis? Apa karena kau sudah menikah maka kau membolos hah?” Ha Ni menjawab, “Bukan begitu…”

Ha Ni lalu menjelaskan semuanya pada Kyung Soo dan Kyung Soo terlihat kaget dan bertanya, “Apa? Kau akan pindah jurusan?” Ha Ni menjawab, “Hmm ya. Aku putus asa sekarang ini.” Kyung Soo lalu berkata, “Ah aku tahu sedikit tentang jurusan perawat karena ada temanku yang mengambil jurusan itu juga. Pekerjaan dan kompetensi itu sangat berat. Jadi sangat sulit sekali masuk jurusan itu makanya tidak banyak yang mengambil jurusan itu. Bagaimana bisa kau masuk jurusan itu jika kau tidak mencobanya terlebih dahulu hah?” Ha Ni berkata, “Aku tahu hal itu tapi aku akan mencobanya untuk masuk ke jurusan itu.”

Kyung Soo bergumam, “Sebaiknya kau mengulang di Universitas lain saja dengan jurusan yang sama yaitu Ilmu Sosial.” Ha Ni berkata, “Huh mencoba kembali? Tidak mungkin. Tidak akan ada topan yang datang dua kali dalam wkatu yang bersamaan!” Kyung Soo bertanya, “Topan? Apa itu?” Ha Ni menjawab, “Hanya perumpaan saja.”

Kyung Soo lalu berkata, “Ha Ni.. Ada sesuatu yang ingin aku katakan.” Ha Ni balik bertanya, “Sesuatu? Apa dengan He Ra? Ah apa kalian berpacaran?” Kyung Soo menjawab, “Bukan itu. Tapi ya kami berkencan dan makan hot dog bersama.” Ha Ni berkomentar, “Hah hot dog? Apa itu?” Kyung Soo menjawab, “Hey Hot Dog itu sangat penting. Tapi kenapa bisa seperti ini? Bisakah seseorang menyukai sebegini besar perasaannya?” Ha Ni menepuk Kyung Soo dan berkata, “Tentu saja itu mungkin.” Ha Ni tersenyum lalu pergi.

Ha Ni dan Min Ah bersama-sama datang ke salon Joo Ri dan Joo Ri reaksinya biasa saja tidak seceria biasanya. Joo Ri sedang memotong rambut seorang laki-laki dan dia diam saja sehingga Ha Ni dan Min Ah pun duduk terdiam. Saat laki-laki itu sudah pergi, Ha Ni dan Min Ah sama-sama saling menatap.

Joo Ri lalu bercerita pada Ha Ni dan Min Ah, “Dulu rambut laki-laki itu sebahu, bukankah itu panjang? Dia setiap hari datang kemari dan memintaku untuk memotong rambutnya sedikit demi sedikit. Tapi anehnya dia selalu datang saat jam kerja sudah selesai sehingga hanya aku yang bisa memotong rambutnya.” Ha Ni berkomentar, “Dia datang kemari untuk menemuimu.” Joo Ri tersenyum malu-malu. Min Ah berkata, “Mungkin saja. Untuk seseorang sepertimu yang tidak memiliki sertifikat, ini hal bagus.” Joo Ri kesal dan berkata, “Hey aku juga sedang belajar!”

Min Ah berkata, “Huh jika kau mulai berpacaran maka kau akan sibuk dan perteman kita bisa berakhir.” Joo Ri tertawa dan berkomentar, “Hey kau juga sangat sibuk dengan web mu itu.Karena itu lah hingga sekarang kau tidak memiliki pacar untuk kencan. Huh Min Ah kau ini hanya buang-buang waktu saja.” Ha Ni berkata, “Dia ini sangat keren. Hey Web buatanmu itu sangat bagus sekali Min Ah bahkan ratingnya pun sangat tinggi.” Min Ah ceria dan berkata, “Ya. Ah aku sudah meng upload yang baru lagi. Apakah kalian mau melihatnya?’

Min Ah menunjukan web cartoon yang di buatnya dan ternyata di web itu Min Ah membuat komik yang ceritanya itu mengenai kejadian saat bersekolah di SMA. Bahkan Min Ah pun membuat komik mengenai Ha Ni yang suka pada Seung Jo dan Seung Jo mengembalikan surat cinta yang di berikan oleh Ha Ni. Joo Ri berkomentar, “Huh kenapa kau menggambarku sebesar itu? Lihat tanganku sangat besar.” Sementara Ha Ni tertawa dan berkata, “Kenapa kau memasukan cerita ini? Hahahaha….”

Jo Ri berkata, “Kini Ha Ni menjadi istri dari Baek Seung Jo. Ini adalah sesuatu yang harus di lihat.” Min Ah tersenyum dan berkata, “Benar. Aku sangat tertarik sekali saat menggambar ini.” Ha Ni bergumam sedih, “Huh tapi aku belum menjadi istrinya secara sah.”

Ha Ni membantu Ibu Seung Jo mengelap piring dan berkata, “Semua orang berkata ini tidak mungkin. Tes untuk pindah jurusan ini sangat sulit. Dan mereka bilang sangat tidak mungkin aku masih jurusan perawat. Apa yang harus aku lakukan? Ijin pernikahan itu…” Ibu Seung Jo mendapatkan sebuah ide dan mengajak Ha Ni untuk pergi ke ruang belajar khusus.

Ibu Seung Jo membuka laptopnya dan mencari info mengenai cara membuat surat ijin pernikahan sendiri. Ha Ni berkata, “Tapi… Aku sudah berjanji padanya.” Ibu Seung Jo berkomentar, “Bagaimana bisa itu disebut janji jika dia melakukan hal ini sendiri? Ah ini lihat…. Suart ijin pernikahan harus di tandatangani oleh dua saksi. Ah baiklah Aku dan Bapa Seung Jo dapat menandatangi surat ijin itu.” Ha Ni sedikit ketakutan dan bertanya, “Apakah ini baik-baik saja?” Ibu Seung Jo menjawab, “Tentu saja ini baik-baik saja. Pertama kita akan melapor hal ini dan kau bisa mengambil tes perawat. Ah tapi ada masalah… Kita butuh kartu identitas Seung Jo. Apakah Seung Jo selalu membawa katu identitasnya?” Ha Ni kebingungan akan hal itu.

Ha Ni menempelkan telinganya di pintu kamar mandi dan mendengar bahwa Seung Jo sedang mandi. Ha Ni langsung pergi ke kamar dan ternyata Eun Jo melihat itu dan kebingungan. Ha Ni memeriksa pakaian Seung jo dan menemukan dompetnya Seung Jo. Ha Ni melihat kartu identitas Seung Jo dan ingin mengambilnya tapi Seung Jo datang ke kamar dan bertanya, “Apa yang kau lakukan dengan dompet orang lain?” Ha Ni kaget mendengar itu dan menjawab, “Aku hanya melihat dompetmu karena dompetmu terlihat cantik. Ah haruskah aku membeli dompet yang sama juga sepertimu?”

Seung Jo mengambil dompetnya dan berkata, “Apa kau selalu memeriksa dompet suamimu juga hah?” Ha Ni menggelengkan kepalanya da berkata, “Hmm bukan begitu.” Seung Jo bergumam, “Sepertinya uangku ada yang hilang.” Ha Ni sangat kesal dan berkata, “Apa yang kau bicarakan? Kenapa kau berkata seperti itu hah?” Seung Jo menyimpan dompetnya di bawah bantal dna bertanya, “Apa kau tidak akan tidur?” Ha Ni menjawab, “Aku akan tidur.”

Malamnya Seung Jo sudah tertidur dan Ha Ni berusaha mengambil dompet Seung Jo yang di letakan di bawah bantal. Pada akhirnya Ha Ni berhasil mendapatkan dompet itu. Seung Jo memeluk Ha Ni saat tidur dan Ha Ni diam-diam mengambil kartu identitas Seung Jo dan dia tersenyum senang.

Ibu Seung Jo dan Ha Ni datang ke kantor pendaftaran pernikahan untuk mendaftarkan pernikahan Seung Jo dan Ha Ni. Tapi petugas di kantor itu bilang bahwa pernikahan Seung Jo dan Ha Ni sudah terdaftar. Ibu Seung Jo dan Ha Ni kebingungan dan berkata, “Tidak mungkin. Kami baru pertama kali datang kemari.” Petugas itu lalu berkata, “Ah suamimu yang mendaftarkannya. Tuan Baek Seung Jo yang mendaftarkannya.” Ha Ni dan Ibu Seung Jo lagi-lagi kaget mendengar hal itu.

Ha Ni dan Ibu Seung Jo pulang ke rumah. Seung Jo langsung meminta kartu identitasnya di kembalikan dan Ha Ni bertanya, “Apa kau tau aku mengambilnya?” Seung Jo menjawab, “Ya.” Ibu Seung Jo lalu bertanya, “Hey kenapa kau begitu senang menggoda Ha Ni hah?” Seung Jo menjawab, “Menyenangkan menggodanya. Dia bekerja keras jika ada peluang. Sangat sulit untuk mengubah jurusan itu sehingga aku sengaja berkata seperti itu agar dia memikirkan hal itu dan berusaha. Tapi kau diam-diam menyentuh dompetku, aku kecewa.” Ha Ni buru-buru berkata, “Tidak. Aku akan berusaha dan bekerja keras jadi jangan kecewa.”

Joon Gu sibuk mempersiapkan untuk membuat menu bekal makan siang. Papah menghampriinya dan berkata, “Christine sudah lama tidak kemari.” Joon Gu berkomentar, “Hmm benarkah? Aku sangat sibuk sehingga tidak begitu menyadarinya.” Joon Gu terus sibuk menghitung barang dan Papah pun hanya terdiam.

Ha Ni sedang belajar mengenai teknik pernafasan di taman kampus dan Christine datang menghampiri Ha Ni dan bercerita bahwa dia menyukai Joon Gu. Ha Ni kaget mendengar cerita Christine dan berkata, “Benarkah?” Christine menjawab, “Ya. Joon Gu sangat keren” Ha Ni bertanya, “Apa bukan karena makanannya? Apa kamu tidak merasa kebingungan hah?” Christine menjawab, “Hmm tidak. Aku menyukai semuanya. Makanan buatannya dan juga penampilannya yang sangat laki-laki. Dan jika aku lihat cara bicaranya, dia itu terlihat seperti sedang bernyanyi indah. Ah aku harus kembali pada malam natal tapi aku tidak ingin pergi. Aku ingin tetap bersamanya. Jika Joon Gu memintaku untuk tidak pergi maka aku tidak akan pergi.”

Ha Ni tersenyum dan bertanya, “Aku mengerti. Apakah kau begitu menyukainya?” Christine menjawab, “Ya. Tapi dia bilang bahwa dia menyukai seseorang. Apa itu benar? Siapa itu?” Ha Ni kebingungan dan berkata, “Apakah dia berkata seperti itu? Itu tidak benar.” Christine sangat senang dan meminta agar Ha Ni membantunya, “Ha Ni kalau begitu bantu aku. Katakan pada Joon Gu bahwa aku ini cantik.” Ha Ni tersenyum dan berkata, “Baiklah…”

Rumah makan khusus bekal makan siang milik Joon Gu pun akhirnya di buka dan Min Ah, Joo Ri dan juga Bye Bye Sea yang mengedarkan selembaran untuk mempromosikannya.

Seung Jo datang ke restaurant itu bersama He Ra dan memberikan hadiah. Joon Gu bertanya, “Mana Ha Ni? Kenapa kau datang dengan wanita ini hah?” Ha Ni datang bersama Christine dan Christine memberikan hadiah yaitu tisu. Joon Gu berkomentar, “Kenapa kau memberikan hadiah ini untuk Restaurant baruku ini hah?” Ha Ni berkata, “Itu hadiah aku yang pilihkan.” Joon Gu langsung mengubah komentarnya, “Wow hadiah ini sungguh bagus. Benar-benar bagus.”

Papah berkata, “Boss Bong Joon Gu tamumu sudah datang jadi kau harus mengucapkan kata sambutan.” Joon Gu kebingungan dan berkata, “Ah kau saja yang memberikan sambutan.” Papah berkata, “Hey kau yang harus memberikan sambutan itu.”

Joon Gu pun mengucapkan kata sambutannya dan semuanya langsung bertepuk tangan. Christine berkata, “Kau sangat keren Bong Joon Gu. Ah Bong Joon Gu aku akan pergi ke Inggris tapi aku tidak ingin pergi. Katakan padaku agar tidak pergi maka aku tidak akan pergi.” Joon Gu kebingungan dan berkata, “Apa-apaan kau ini? Bukankah aku sudah bilang bahwa aku menyukai seseorang? Aku tidak menyukai siapapun juga kecuali Ha Ni.” Christine kaget dan bertanya, “Hah Ha Ni? Oh Ha Ni?” Joon Gu menjawab, “Ya aku hanya menyukai Ha Ni. Jika kau akan pergi ke Inggris maka pergilah dan jangan kembali.” Ha Ni langsung memarahi Joon Gu, “Hey Bong Joon Gu!” Christine langsung pergi keluar dan Ha Ni pun mengejarnya.

Orang-orang di Restaurant pun kaget mendengar hal itu dan tentu saja yang paling kaget mendengar hal itu adalah Seung Jo yang sepertinya terlihat cemburu.

Malam hari di rumah Seung Jo… Seung Jo sedang membaca buku di tempat tidur dan Ha Ni duduk di sampingnya. Ha Ni berkata, “Huh apa yang harus aku lakukan? Christine memutuskan untuk kembali ke Inggris. Awalnya dia mempercayaiku dan memberi tahu bahwa dia menyukai Joon Gu. Aku merasa telah mengkhianatinya.” Seung Jo bertanya, “Lalu kenapa kau selalu ikut campur dalam masalah orang lain?” Ha Ni menjawab, “Dia yang memintaku untuk membantunya.”

Seung Jo berkomentar, “Kau pasti suka itu. Ibu-ibu sudah memiliki skandal. Tapi.. Apa yang sebenarnya terjadi antara kau dan Bong Joon Gu? Dia melakukan hal itu walupun kita sudah menikah?” Ha Ni berkata, “Tidak apa-apa. Itu karakter Joon Gu selama menjadi murid di sekolah. Ah apakah kau cemburu?” Seung Jo kaget ditanya seperti itu dan menjawab, “Cemburu? Siapa yang cemburu? Biarkan saja mereka yang menyadari perasaan mereka. Jika kau terus terlibat mungkin keadaannya akan semakin memburuk. Biarkan saja mereka menyadari perasaannya.” Ha Ni berkata, “Ah ya aku berfikiran seperti itu juga.”

Ha Ni tersenyum dan berkata, “Ah kau juga melakukan hal itu.” Seung Jo kebingungan dan bertanya, “Apa maksudmu?” Ha Ni menjawab, “Kamu juga setelah meninggalkan semuanya kamu menyadari perasaanmu sebenarnya.” Seung Jo berkomentar, “Ah kau benar.” Ha Ni terus mengganggu Seung Jo dan Seung Jo berkata, “Sudahlah belajar saja.” Ha Ni berkata, “Ah benarkah kau cemburu dari awal? Ah jawablah. Aku tahu kau cemburu kan. Ah lucu sekali kau ini.” Seung Jo terus mengelak dan berkata, “Apa kau ini gila hah?” Ha Ni tertawa senang.

Restaurant bekal makan siang Joon Gu di buka dan Bye Bye Sea menjadi pelayannya. Salah seorang anggota Bye Bye Sea berkata, “Tapi dia sepertinya tidak datang.” Joon Gu bertanya, “Hah? Siapa?” Anggota Bye Bye Sea itu menjawab, “Christine. Apakah dia sudah berangkat?” Tamu-tamu mulai datang dan Bye Bye Sea pun langsung masuk ke dalam Restaurant untuk menyiapkan segalanya sementara Joon Gu masih diam di luar Restaurant.

Ha Ni bertemu dengan Joon Gu di taman dan dia berkata, “Christine sudah pergi. Kau sudah mendengarnya bukan?” Joon Gu balik bertanya, “Apa hubungannya denganku?” Ha Ni berkata, “Jawabalah dengan jujur. Apa kau tidak menyukai Christine?” Joon Gu menjawab, “Ya. Tidak suka.” Ha Ni bertanya, “Tapi kau begitu penasaran karena tidak melihatnya? Kau merindukannya kan?” Joon Gu menjawab, “Tidak mungkin. Bagiku hanya kau satu-satunya. Bukankah sudah ku bilang padamu bahwa kau keluargaku.”

Ha Ni berkomentar, “Sekarang ini aku sudah menikah. Seung Jo adalah keluargaku sekarang ini.” Joon Gu berkata, “Ya kau benar. Ah asuransi. Ya berfikirlah kalau aku ini asuransimu. Jika kau mengalami kesulitan maka kau bisa mencariku. Bukankah orang-orang mengambil asuransi saat sedang mengalami kesulitan?” Ha Ni meminta Joon Gu duduk di ayunan sebelahnya lalu dia berkata, “Joon Gu… Selama ini kau selalu mendukung semua yang aku telah lakukan. Memberi dukungan dan melakukan apapun yang aku minta. Terima kasih. Jadi saat ini… Hanya kali ini tolong dengarkan apa yang aku katakan. Duduk tenang dan pikirkanlah semua ini. Tataplah langit dan kau akan menyadari perasaanmu itu.”

Joon Gu terdiam dan mulai mengayukan ayunan sambil terus menatap langit mencoba mencari tahu apa perasaan sebenarnya pada Christine.

Kyung Soo sedang duduk di bawah pohon sambil melihat sebuah kertas yang memberi tahu dia untuk melakukan wajib militer. Kyung Soo bertemu dengan He Ra dan memperlihatkan kertas itu. He Ra berkata, “Jadi untuk apa kau memperlihatkan pemberitahuan wajib militermu itu padaku?” Kyung Soo menjawab, “Aku hanya… Aku tidak tahu. Untuk beberapa alasan aku pikir kau perlu mengetahui hal ini.” He Ra kembali bertanya, “Kenapa? Ah jangan-jangan karena pada saat itu aku menangis di depanmu? Kau tidak berfikir bahwa ada sesuatu yang istimewa terjadi diantara kita kan?” Kyung Soo menjawab, “Ah tidak. Aku tidak sebodoh itu. Saat aku melihatmu menangis… aku tidak memikirkan itu jadi jangan khawatir.”

Kyung Soo lalu berkata, “Aku.. Aku akan mengatakan hal ini tapi aku minta kau jangan merasa terbebani. Saat kau merasa bosan… benar-benar bosan… Sebuah surat hmm maukah kau menulis sebuah surat untukku?” He Ra langsung menjawab, “Tidak. Itu mengganggu bahkan itu bukan e-mail.” Kyung Soo tertawa kecewa dan berkata, “Benar ini bukan e-mail. Mana mungkin kau punya wkatu menulis surat dan menempelkan perangko lalu mencari kotak surat. Ah mungkin saat itu juga kau lebih memilih tidur.” He Ra menjawab, “Ya. Benar.”

Kyung Soo kecewa mendengar itu dan berkata, “Baiklah kalau begitu aku akan pegri.” Giliran He Ra yang kecewa saat melihat Kyung Soo akan pergi. Kyung Soo tiba-tiba berkata, “He Ra aku memiliki satu permintaan lagi. Ini adalah permintaan yang sebenarnya. Mulai sekarang… jangan menangis sendirian. Waktu itu kau menangis di bahuku itu terasa seperti tulangku meleleh. Aku benar-benar akan pergi sekarang. Jaga dirimu.”

Kyung Soo berjalan pergi dan He Ra tiba-tiba berkata, “Jika aku sedang bosan maka aku akan mengunjungimu.” Kyung Soo kaget mendnegar hal itu namun dia senang apalagi He Ra tersenyum padanya.

Ha Ni sedang belajar di perpustakaan tapi dia merasa mengantuk dan akhirnya tertidur dan kepalanya membentur meja sehingga mahasiswa yang lain tertawa melihat hal itu. Ha Ni mencoba fokus belajar dan berkata, “Aku sebenarnya tidak ingin melakukan ini tapi Seung jo memintaku untuk melakukannya. Benar, aku tidak boleh mengecewakannya.”

Ha Ni mengubah settings di HPnya dan dia tersenyum saat melihat HPnya itu ada kata-kata, “Seung Jo cinta Ha Ni. Bahagia. Berjuanglah!” Tiba-tiba ada yang menepuk punggung Ha Ni dan itu adalah Kyung Soo yang mengajak Ha Ni untuk berbicara di luar perpustakaan.

Kyung Soo menceritakan surat pemanggilan wajib militer kepada Ha Ni dan Ha Ni kaget mendengar hal itu. Kyung Soo berkata, “Kau satu-satunya yang sedih karena aku masuk wajib militer. Bahkan orang tuaku saja senang mendengar hal itu karena biaya kuliah sangat mahal. Tapi aku datang kemari bukan untuk mengatakan hal itu. Aku kemari untuk berterima kasih padamu.” Ha Ni bertanya, “Padaku? Untuk apa?” Kyung Soo berkata, “Kau selalu memberi tahuku mengenai ketulusan. Mengatakan yang sebenarnya adalah hal terbaik.” Ha Ni berkata, “Tentu saja itu baik. Tunggu… Kau membuat pengakuan pada He Ra?” Kyung Soo berkomentar, “Kenapa aku harus mengaku? Aku tidak mengaku tapi aku melakukan hal semacam pengakuan.” Ha Ni tersenyum mendengar hal itu.

Kyung Soo berkata, “Jujur dengan melihatmu aku telah belajar banyak. Tapi aku tidak melakukan semua itu karena aku terlalu takut mencobanya. Aku takut gagal ataupun di tolak, jadi aku tidak pernah mengaku padanya. Aku selalu seperti itu. Tapi saat aku melihatmu, aku mulai berfikir, ‘Siapa yang akan melihatku gagal? dan siapa yang peduli jika aku di tolak?’ Ini adalah pola pikirku sekarang. Aku mempelajari semua itu setelah melihatmu. Terima kasih padamu karena aku memiliki waktu yang menyenangkan. Dan itu lah sebabnya Kakakmu ini akan memberikan hadiah padamu.”Ha Ni senang dan langsung mengulurkan tangannya untuk menerima hadiah namun Kyung Soo mendorong tangan Ha Ni dan berkata, “Bukan seperti ini.”

Kyung Soo berkata, “Bukankah kau ingin masuk jurusan perawat? Saat aku masuk wajib militer maka aku akan membuka tempat agar kau bisa masuk jurusan perawat.” Ha Ni berkomentar, “Bagaimana bisa kau melakukan itu? Bahkan kau tidak ada di jurusan perawat.” Kyung Soo berkata, “Ha Ni didunia ini hanya negara kita yang memiliki prorgam yang di sebut wajib militer. Apa kau ingat mengenai temanku yang ada di bidang perawat juga? Dia adalah seorang pria dan dia teman kamarku. Ketika aku masuk wajib militer maka dia juga akan aku ajak untuk pergi bersama. ” Ha Ni bertanya, “Benarkah?” Kyung Soo menjawab, “Ya.Apa yang akan dia lakukan jika dia tidak pergi? Dia itu teman sekamarku jadi jika aku pergi maka dia juga harus pergi dan jika aku ikut wajib militer maka dia juga akan ikut wajib militer.”

Ha Ni benar-benar senang mendengar hal itu karena jika teman Kyung Soo ikut wajib militer maka akan ada kesempatan untuknya masuk kedalam jurusan perawat. Kyung Soo berkata, “Hanya ini yang dapat aku berikan. Aku tidak dapat membantu ujianmu jadi aku harap kau melakukan yang terbaik dan dapat diterima.” Ha Ni langsung melompat kesenangan dan berterima kasih banyak pada Kyung Soo. Kyung Soo bertanya, “Apa kau sekarang ini senang karena aku masuk wajib militer?” Ha Ni menjawab, “Ya. Aku senang sekali.”

Joo Ri masih di salon dan dia menunggu laki-laki yang selalu datang saat salon akan di tutup tapi ternayat laki-laki itu tidak datang juga. Saat Joo ri akan pulang, laki-laki itu datang dan Joo Ri terlihat senang. Laki-laki itu meminta rambutnya di potong lebih pendek dan Joo Ri berkata, “Hmm tapi rambutmu ini sudah pendek.” Laki-laki itu berkata, “Potong saja.” Joo Ri mengerti dan mulai memotong rambut laki-laki itu.

Laki-laki itu tiba-tiba berkatan, “Aku akan masuk wajib militer.” Joo Ri terlihat kecewa dan berkata, “Ah kalau begitu kita tidak bisa melakukan hal ini lagi.” Joo Ri tiba-tiba memeluk laki-laki itu dan berkata, “Ini baik-baik saja. Jangan khawatir, aku akan menunggumu…”

Ha Ni memperlihatkan surat dia mengajukan permohonan ganti jurusan kepada Seung Jo. Seung Jo berkomentar, “Tesnya sebentar lagi.” Ha Ni menjawab, “Ya tidak tersisa waktu banyak. Apa yang harus kulakukan? Persaingannya sangat ketat.” Seung Jo berkata, “Berjuanglah.” Seung Jo sudah mau tidur namun Ha Ni melarangnya dan berkata, “Hey pilihkan pertanyaan yang kira-kira akan muncul di ujian. Tolonglah. Aku mohon darimu.”

Akhirnya mereka pun belajar bersama dan Seung Jo menanyakan beberapa pertanyaan yang kira-kira akan keluar di ujian. Ha Ni menjawab semua pertanyaan dan Seung Jo berkomentar, “Ini tergantung padamu. Kau bahkan tujuan hidupmu saja masih aku yang menentukan.” Ha Ni tiba-tiba berkata, “Aku punya tujuan. Jika aku berhasil melewati semua ini maka kencan di malam natal. Kita bahkan menikah tanpa pernah kencan dan saat bulan madu juga. Jika aku melewati semuanya maka ayo kencan di malam natal.” Seung Jo berkata, “Hmm baiklah.” Ha Ni senang dan kembali berkata, “Full day!” Seung jo tersenyum dan berkata, “Baiklah.” Ha Ni benar-benar senang mendengar hal itu.

Ha Ni bertaya, “Ah apakah kita juga harus berlatih praktikum pertolongan utama dengan nafas buatan secara langsung? Aku mempelajari hal itu tapi aku belum mencobanya…”

Akhirnya Seung Jo tiduran di tempat tidur untuk menjadi bahan uji coba latihan Ha Ni dan dia berkata, “Ingat harus 100 tekanan setiap menitnya.” Ha Ni berkomentar, “Baiklah aku mengerti. Pertama cek nafas ah tidak ada lalu buka sumber nafas lainnya yaitu mulut.” Ha Ni mau memberikan nafas buatan namun dia ragu-ragu dan itu membuat Seung Jo berkata, “Hey kau ini apa-apaan? Ini darurat. Kau merasakan itu?” Ha Ni gugup dan berkata, “Apa maksudmu dengan kata ‘merasakan’ hah?” Seung Jo berkata, “Sudah cepat lakukan apa yang harus kau lakukan selanjutnya.”

Ha Ni menekan dada Seung Jo dan Seung Jo berkomentar, “Kau ini sedang memberikan pertolongan pada orang sakit atau orang sehat?” Ha Ni berkata, “Aku pikir ini menyakitkan ah baiklah aku akan mengulangnya lebih keras.” Seung Jo berkata, “Istirahatlah sebentar. Kemari.” Seung Jo memeluk Ha Ni dan Ha Ni berkata, “Tapi aku perlu berlatih.’ Seung Jo berkata, “Ini juga pelajaran.”

Tiba-tiba pintu terbuka dan Eun Jo kaget saat melihat Seung jo sedang memeluk Ha Ni. Seung Jo dan Ha Ni juga kaget sehingga langsung terbangun. Eun Jo berkata, “Aku hanya ingin mengatakan sesuatu… Kakak, Kakak Ipar Oh Ha Ni. Di kamar sebelah itu ada aku yang baru akan menjadi remaja jadi tolong jangan ribut!” Ha Ni dan Seung Jo sama-sama malu dan meminta maaf.

Hari ujian perawat tiba. Seung Jo dan Ibu Seung Jo mengantarkan Ha Ni ke tempat ujian. Ibu Seung Jo berkata, “Ha Ni makan ini. Kau bilang tes ini ada 2 sesi?” Ha Ni menjawab, “Ya. Tes tertulis dan tes wawancara. Aku sangat tegang.” Ibu Seung Jo berkomentar, “Tenanglah kau akan melaluinya.” Seung Jo berkata “Cepatlah waktunya sebentar lagi.” Ha i mengerti dan langsung turun dari mobil setelah di beri semangat oleh Ibu Seung Jo.

Ibu Seung Jo berkomentar, “Dia sebenarnya bisa memilih jalan yang mudah tapi ternyata dia memilih jalan yang sulit.” Sementara itu Seung jo terlihat tersenyum.

Ha Ni dapat mengerjalan ujiannya dengan mudah dan selesai ujian dia langsung menelfon Min Ah dan berkata, “Bagaimaa mungkin dia bisa tahu persis apa yang di tanyakan? Wah aku benar-benar menikah dengan pria yang menakjubkan. Min Ah, bagaimana jika aku diterima di fakultas perawat ini?”

Ha Ni di panggil menuju ruang wawancara dan ternyata yang mewawancarainya itu wanita yang dulu juga mewawancarainya untuk masuk Universitas Parang. Wanita itu berkomentar, “Oh kau si siput itu? Kau beruntung ternyata.” Wanita itu meminta Ha Ni untuk melakukan pertolongan pertama pernafasan buatan dan Ha Ni sangat gugup sehingga dia melewatkan hal-hal kecil yang membuat wanita itu terus berkomentar. Ha Ni mencoba menekan dada boneka pasien dan dia mengingat kata-kata Seung Jo yang meminta di tekan lebih keras sehingga Ha Ni menekan dada boneka itu sangat keras.

Wanita itu berkata, “Cukup. Kau bisa membunuh korban itu jika terlalu keras menekan dadanya. Bahkan tulang rusuknya bisa patah jika kau melakukan hal itu. Kami tidak mungkin menerima seorang yang justru akan membunuh pasien.” Ha Ni benar-benar kecewa medengar hal itu.

Ha Ni memberi tahu keluarga di rumah bahwa dia tidak lolos ujian bahkan dia dibilang tidak pantas masuk jurusan itu karena bisa membuat pasien meninggal. Tentu semua anggota keluarga sedih menengar hal itu. Eun Jo berkomentar, “Bukankah sudah ku bilang bahwa itu tidk cocok untuknya?” Ibu Seung Jo langsung memarahi Eun Jo. Papah bertanya, “Ha Ni lalu apa yang akan kaulakukan sekarang?” Ha Ni berkata, “Aku terlalu mengambil keputusan dengan midah. Ah aku akan memikirkan jurusan apa yang akan aku ambil selanjutnya maka aku akan permisi pergi ke kamar duluan.”

Ha Ni pergi ke kamarnya dan Ibu SeungJo berkata, “Ha Ni pasi sangat kecewa.” Bapa Seung Jo juga berkomentar, “Dia memiliki nasib yang buruk karena bertemu dengan wanita yang mewawancarainya itu.” Seung Jo juga merasa kasihan pada Ha Ni.

Seung Jo masuk ke kamar dan berkata, “Hmm apa yang harus aku lakukan? Aku pikir tidak akan ada kencan.” Ha Ni berkata, “Huh ya tidak ada yang bisa kita lakukan.” Seung Jo berkomentar, “Bagaimana ini? Aku sungguh ingin pergi kencan dengan Oh Ha Ni. Baiklah aku tidak bisa membatalkan ini karena janji adalah janji. Tapi aku pikir makan malam saja tidak cukup.” Ha Ni tersenyum dan bertanya, “Benarkah?” Seung Jo tersenyum dan menganggukan kepalanya.

Joon Gu sedang membuat makanan di Restaurant Papah. Papah berkata, “Apa yang kau lakukan disini? Laki-laki seusiamu seharusnya pergi bermain pada malam natal ini.” Joon Gu bertanya, “Apa yang harus aku lakukan pada malam natal ini?” Papah menjawab, “Ah ya. Chrisitne akan pergi hari ini. Bukankah dia bilang akan pergi pada malam natal? Ah ya katanya dia akan pergi dengan pesawat pukul 7 malam ini.” Joon Gu tetap terdiam dan Papah berkata, “Ah seharusnya dia sekarang ini sedang ada di bandara.” Joon Gu pun mulai memikirkan kata-kata Papah.

Ha Ni memilih baju dan tas untuk makan malam hari ini bersama Seung Jo. Dia melihat jamnya dan terkejut karena dia sudah terlambat sehingga dia terburu-buru kelur kamar dan pergi.

Ha Ni pergi menggunakan taxi dan lalu lintas sedang sangat macet. Ha Ni meminta supir taxi untuk lebih cepat namun supir itu bilang bahwa dia tidak bisa melakukan hal itu karena lalu lintas sedang macet. Ada motor yang melintas dan tertabrak oleh mobil. Ha Ni sangat kaget melihat hal itu.

Si korban adalah seorang wanita dan dia terjatuh dari motornya dan pingsan. Ha Ni menghampirinya untuk memberikan bantuan namun dia ingat kata-kata wanita pewawancara yang bilang bahwa dia ini dapat membunuh pasien. Ha Ni jadi takut menolong dan menghindar namun dia melihat korban itu dan benar-benar kasihan. Ha Ni mengingat kata-kata Seung Jo yang bilang bahwa dalam waktu 5 menit jika korban di diamkan saja maka akan terjadi pendarahan otak dan jika di biarkan 10 menit maka akan meninggal.

Ha Ni pun meminta orang-orang untuk menyingkir karena dia ingin menolong korban itu. Ha Ni memberikan bantuan nafas buatan dan terus berusaha menekan dada korban itu. Ha Ni meminta agar orang-orang segera memanggil ambulan namun orang-orang itu justru kebingungan, akhirnya Ha Ni menunjuk satu orang dan meminta segera di panggilkan ambulan. Ha Ni terus berusaha memberikan pertolongan dan akhirnya korban itu sadar. Ha Ni merasa sangat lega karena hal itu.

Joon Gu berlari masuk ke dalam bandara. Joon Gu ingin masuk ke ruangan check in namun petugas bandara menahannya karena dia tidak memiliki tiket untuk masuk kedalam. Joon Gu meminta wkatu 1 menit saja namun petugas tetap tidak memperbolehkannya.

Joon Gu pun duduk di kursi dan berkata, “Apa yang kau lakukan disini Bong Joon Gu? Kenapa kau ada disini? Apa kau gila?” Ternyata Christine belum pergi, dia duduk di belakang Joon Gu dan sangat senang saan melihat Joon Gu, “Wow Mr Bong. Aku benar ternyata kau datang. Kau datang kemari untuk mendapatkanku kembali dan memintaku agar tidak pergi kan?” Joon Gu gengsi dan berkata, “Aku datang bukan untuk menghentikanmu tapi untuk mengantarmu. Aku datang terlambat karena macet. Kenapa kau ada di sini dan bukannya di dalam? Apa ada salah jadwal?” Christine tersenyum dan berkata, “Aku sudah masuk kedalam tapi aku keluar kembali. Jika aku masuk kedalam, perasaanku akan sangat sakit.”

Papah sedang berada di Restaurant sendirian dan dia berkata, “Malam ini hanya ada aku disini. Ha Ni pergi menemui suaminya. Joon Gu sepertinya pergi ke bandara.” Papah menatap patung cetakan tangannya dan Ibu Ha Ni lalu dia berkata, “Selamat Natal.”

Ha Ni pergi ke Rumah sakit untuk mengantar korban tadi. dokter menghampiri Ha Ni dan berkata, “Kau melakukan pertolongan dengan baik. Apa kau belajar dalam jurusan perawat?” Ha Ni menjawab, “Aku… tidak. Hanya…” Dokter menepuk pundak Ha Ni dan bertkata, “Jika kau tidak melakukannya maka sesuatu yang besar akan terjadi.” Ha Ni tersenyum mendengar komentar baik itu. Ha Ni melihat jamnya dan teringat janji makan malamnya dengan Seung Jo.

Ha Ni pergi ke Restaurant tempat janjian dengan Seung Jo dan ternyata di Restaurant itu sudah sepi. Seorang pelayan berkata, “Nyonya maaf tapi restaurant kami sudah tutup.” Ha Ni sedih dan berjalan keluar dan ternyata dia melihat Seung Jo maish menunggunya. Ha Ni berkata, “Ada kecelakaan di jalan.” Seung Jo berkomentar, “Kau seharusnya segera mengirimkan pesan. Aku sangat khawatir. Kau baik-baik saja? Apa terjadi masalah besar?” Ha Ni langsung berlari memeluk Seung Jo dan berkata, “Aku pikir kau sudah pergi.”

Mereka pulang bersama dan Ha Ni berkata, “Aku lapar. Setidaknya ayo pergi ke Restaurant Hamburger. Ah sudahlah sebaiknya kita pulang saja. Ternyata sulit untuk melakukan satu kali kencan itu.” Seung Jo hanya tersenyum mendengar ucapan Ha Ni.

Joon Gu duduk bersama Christine di bandara. Joon Gu berkata, “Walaupun aku sudah memberi tahumu sebelumnya tapi ya Ha Ni selalu berada dihatiku. Jika bukan karena Ha Ni maka kau tidak akan datang kemari. Ini adalah kesetiaan, persahabatan atau cinta… Apapun mengenai itu Ha Ni sudah terpaku di hatiku. Kamu mengerti? Hmm jadi karena itu aku tidak akan bisa melupakannya. Apa kau menerimanya?” Christine kesal dan berkata, “Aku tidak bisa menerimanya! Bagaimana mungkin aku bisa menerima itu?” Joon Gu berkata, “Baiklah kalau begitu aku akan pergi.”

Christine mencegahnya dan berkata, “Baiklah aku juga dapat terpaku di hatimu. Jika Ha Ni hanya seorang siput maka aku akan menjadi 10, 20, 100 siput. Aku akan terpaku di hatimu!” Joon Gu kebingungan dan berkata, “Apa kau mencoba membunuhku hah? Jika kau memaku-ku maka aku akan mati. Walaupun hanya 1 paku itu akan sakit.” Christine lalu berkata, “Kalau begitu ah bunga! Ya aku akan melindunginya dengan bunga karna aku tidak suka Mr.Bong bersedih.” Joon gu tertawa dna berkata, “Bocah ini… Berhentilah dengan perumpamaan itu.Aku membuat kimchi mentimun, kenapa kau tidak datang dan mencobanya? Ayo pergi.”

Christine merangkul tangan Joon Gu dan Joon Gu berkata, “Hey apa-apaan kau ini? Banyak orang yang melihatnya.” Christine mencium pipi Joon Gu dan langsung pergi. Joon Gu pun langsung mengejarnya.

Seung Jo mengendarai mobilnya dan berhenti di sebuah taman. Ha Ni berkata, “Bukankah pada malam hari mobil tidak boleh kemari?” Seung Jo berkatam “Hmm mungkin saja.” Ha Ni berkata, “Bagaimana jika kita ketahuan?” Seung Jo berkata, “Jangan sampai ketahuan. Bukankah menyenangkan sekali-kali melanggar aturan itu?”

Ha Ni tersenyum dan bertanya, “Baek Seung Jo ada apa denganmu? Aku tidak memiliki ide apapun. Kau sangat keren.” Seung Jo berkata, “Apa kau baru menyadari bahwa aku ini memang sungguh mempesona. Kau dalam masaah besar sekarang karena jatuh dalam pesona Baek Seung Jo.” Ha Ni tertawa mendengar ucapan itu.

He Ra sedang berjalan-jalan dan dia masuk kedalam restaurant Hamburger karena teringat akan Kyung Soo dahulu. Kyung Soo menelfon He Ra dan berkata, “He Ra sedang apa kau?” He Ra tersenyum dan berbohong, “Hmm aku sedang bersama teman-temanku. Apa kau makan dengan baik di tempat wajib militer? Ah apa maksudmu kalau aku sedang memikirkanmu? Ah baiklah sedikit demi sedikit…” He Ra terus menelfon Kyung Soo dan tersenyum ceria.

Ibu Seung Jo, Bapa Seung jo dan Eun Jo melewatkan malam natal bersama di rumah dan Eun Jo sudah tertidur terlebih dahulu. Ibu Seung Jo berkomentar, “Aku pikir natal tahun ini kau akan sibuk.” Bapa Seung Jo berkata, “Bagaimanapun aku ingin melewatkan natal denganmu. Tumben sekali Eun Jo tidak ada acara. Ah selamat natal.”

Seung Jo lalu berkata, “Sekarang kau menajadi senior. Aku bahkan belum mendapatkan pasienku sementara kau sudah menyelamatkan seseorang dan membunuh sebuah boneka.” Ha Ni berkomentar, “Hmm sebenarnya ini berbeda dari saat percobaan dengan boneka. Aku tidak merasa takut dan yang aku pikirkan hanya menolongnya. Aku bahkan lupa dengan janji denganmu. Aku ingin menjadi suster karenamu dan ternyata ini lebih hebat dari yang aku pikirkan. Aku pikir aku akan mencoba mendaftarnya kembali.” Seung Jo tersenyum dan berkata, “Aku akan membantumu.”

Ha Ni berkata, “Ah natal ini menyenangkan.”Seung Jo berkomentar, “Setahun penuh akan terasa natal jika bersamamu. Selamat natal.” Ha Ni tersenyum dan balas berkata, “Ya selamat natal.”

Ha Ni tiba-tiba memeluk Seung Jo dan menciumnya. Seung Jo berkata, “Hey bagaimana jika ada yang melihatnya? Seharusnya pria yang melakukan ini duluan hey! Kenapa kau melakukan ini dengan cepat hah?” Ha Ni tidak mendengarkan protes dari Seung Jo dan terus menciumnya.

Restaurant Joon Gu sangat laris dan kini Joon Gu bersama Christine mengelola Restaurant itu bersama. dan ya Joon Gu terlihat senang saat melihat Christine yang membantunya di Restaurant.

Min Ah mengadakan launching komiknya dan memberikan tanda tangan pada penggemarnya. Min Ah bertanya, “Ah aku akan menandatangani buku ini atas nama siapa?” Seorang laki-laki menjawab, “Lee Jin Ki.” Min Ah menatap laki-laki itu dan tersenyum. Laki-laki itu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dan Min Ah malu-malu menjabat tangan laki-laki itu.

Joo Ri seperti biasa sedang sibuk di salon dan ada yang datang dengan menggunakan seragam tentara. Joo Ri terlihat senang dan menghampiri laki-laki itu. Joo Ri langsung memeluknya dan laki-laki itu balas membalasnya.

Eun Jo berjalan kaki untuk pulang dan ada seorang perempuan yang memberikan surat cinta untuk Eun Jo. Eun Jo tidak mempedulikan surat cinta itu dan langsung pergi. (Omo Baek Seung jo kedua nih kayanya hehe :”)

Sementara itu Ibu Seung Jo, Bapa Seung Jo dan Papah Ha Ni berlibur bersama-sama.

He Ra datang ke camp wajib militer dan membawa banyak makanan. Tentara penjaga bertanya, “Apa ini?’ He Ra menjawab, “Ini untuk tentara Kyung Soo.” Tentara penjaga mempersilahkan He Ra masuk dan He Ra pun langsung melambaikan tangan pada para tentara yang terpesona padanya.

Seung Jo dan Ha Ni maish di dalam mobil dan berciuman. Tiba-tiba Seung Jo berkata, “Aku mencintaimu…”

THE END

Pst : Akhirnya Drama ini selesaaaai 🙂 Mungkin Endingnya kurang Ok ya karna sebenernya drama ini akan di buat 20 episode awalnya tapi karena ratignya kurang bagus maka hanya ada 16 episode jadi ya banyak scene yang di potong.

Sinopsis Playful Kiss Episode 15

Semua anggota keluarga sangat kaget saat mendengar ucapan Ibu Seung Jo yang bilang bahwa Rabu depan akan di adakan pernikahan Seung Jo dan Ha Ni. Seung Jo kesal dan berkata, “Ibu berhentilah mengatur semuanya sesuai dengan yang ibu inginkan.” Ibu Seung Jo berkata, “Omo mengatur apa? Bukankah kau yang bilang ingin menikah?” Seung Jo menjawab, “Aku bilang setelah lulus.” Ibu Seung Jo berkata, “Kapan itu? Kau nanti harus bekerja, kemudian melakukan wajib militer. Jadi untuk apa menundanya? Bukankah lebih baik lebih cepat? Lakukanlah selagi Ha Ni sangat cantik.”

Bapa Seung Jo dan Eun Jo ingin berkomentar namun Ibu Seung Jo langsung berkata, “Hentikan! Pokoknya kosongkan jadwal kalian pada hari rabu depan! Apa kalian tidak tahu betapa sulitnya mencari reservasi gedung untuk pernikahan? Pada rabu depan kosongkan jadwal kalian semua dan ayo saling membantu.” Ibu Seung Jo langsung pergi dan tidak menerima komentar apapun. Sementara itu Ha Ni terlihat tersenyum senang.

Papah Ha Ni belum tidur dan sedang duduk di teras luar. Ibu Seung Jo menghampirinya dan bertanya, “Ada apa? Apa aku berlebihan dengan melakukan hal ini? Aku hanya berfikiran bahwa mereka akan lebih baik jika langsung menikah karena kita sudah tinggal bersama-sama.” Papah berkomentar, “Ah ya aku mengerti. Tapi ya sejujurnya ini sedikit menggangguku. Tapi terima kasih untuk semuanya.” Ibu Seung Jo bertanya, “Tapi kenapa ekspresimu seperti yang tidak senang?” Papah menjawab, “Ah tidak. Aku hanya bingung dengan apa yang harus kupersiapkan.” Ibu Seung Jo berkata, “Apa yang perlu disiapkan? Sudah tenang saja. Semuanya sudah di persiapkan bahkan gedung pernikahan pun sudah aku sewa. Kita hanya memerlukan gaun dan cincin saja.”

Ha Ni memberi tahu rencana pernikahannya dan tentu saja Joo Ri dan Min Ah kaget mendengar hal itu. Joo Ri bertanya dengan berbisik, “Apakah kalian mengalami suatu kecelakaan?” Ha Ni kesal dan berkata, “Tentu saja tidak!”

Joo Ri melihat Joon Gu yang sedang memasak di dapur lalu dia bertanya, “Hmm apa Bong Joon Gu tau?” Ha Ni menjawab, “Ya. Papah memberi tahu padanya.” Min Ah berkomentar, “Pantas saja dia terlihat lesu. Bahkan dia tidak menyadari kehadiran kita.” Joo Ri lalu bertanya, “Ah apa kau sudah mempersiapkan gaun pengantinmu? Bagaimana dengan cincin pernikahanmu?” Ha Ni menjawab, “Aku akan mempersiapkannya hari ini. Benar-benar sibuk sekali kau hari ini.”

Ada seorang tamu asing yang masuk kedalam restaurant Papah dan itu membuat pelayan kebingungan dan langsung memanggil Papah. Ha Ni dan teman-temannya kebingungan dan memilih untuk tetap makan saja. Papah tidak mengerti apa yang harus di katakan pada orang asing itu sehingga dia hanya bisa berkata, “Hi. Thank You.” Papah lalu meminta bantuan Ha Ni karena Ha Ni adalah seorang mahasiswa dan Ha Ni pasti bisa berbahasa Inggris.

Ha Ni kebingungan dan berkata, “Hi. How are you?” Orang asing itu menjawab, “Hi. Aku… Aku ingin makan mie. Tolong berikan aku mie.” Semuanya kaget mendengar itu karena ternyata orang asing itu bisa berbahasa korea dengan fasih. Papah keheranan dan berkata, “Ah ternyata dia bisa berbahasa Korea dengan baik.”

Papah menyediakan Mie untuk orang asing itu dan orang asing itu menikmatinya dan bertanya banyak hal mengenai mie korea. Min Ah bertanya, “Tapi bagaimana bisa kau berbahasa Korea dengan fasih?” Orang asing itu menjawab, “Ibuku orang Korea dan Papahku orang Inggris. Aku datang kemari untuk melihat kampung halaman ibuku dan aku disini hanya 10 hari.”

Orang asing itu menyicipi Kimchi mentimun dan bilang bahwa kimchi itu sangat enak. Papah berkata, “Ah pria itu yang membuat kimchi enak ini.” Pria yang di maksud Papah itu adalah Joon Gu yang hanya bisa mengangguk di dapur dan melanjutkan memasak. Papah berkomentar, “Ah pria itu dari Busan jadi ya sedikit kaku.” Orang asing itu hanya bisa berkata, “Ah yeah….”

Ha Ni dan Seung Jo datang ke toko cincin dan mencari cincin untuk acara pernikahan mereka. Ha Ni memilih cincin namun Seung Jo selalu menolak cincin pilihan Ha Ni. Ha Ni kesal dan berkata, “Kalau begitu kau saja yang memilihnya.” Seung Jo bertanya, “Haruskah kita membeli cincin?” Ha Ni menjawab, “Tentu saja! Cincin itu adalah simbol dari cinta.” Seung Jo berkomentar, “Simbol cinta? Bagaimana bisa benda yang materialistis ini di sebut simbol cinta?Aku tidak akan membelinya!” Ha Ni mencegah Seung Jo dan berkata, “Kau harus membelinya! Ini sebagai tanda bahwa kau adalah laki-laki yang sudah menikah!” Seung Jo bertanya, “Jadi ini bukan simbol cinta, melainkan simbol pengikat?”

Seung Jo langsung pergi dari toko cincin itu meninggalkan Ha Ni yang masih melihat-lihat cincin. ha Ni kesal dan dia mersa cemburu saat melihat ada pasangan yang sedang membeli cincin pasangan juga.

Ha Ni menarik Seung Jo menuju Butik Baju Pengantik. Seung Jo berkomentar, “Untuk apa membeli gaun ini jika kau hanya memakainya satu kali? Aku sudah memiliki jas ini.” Ha Ni merangkul tangan Seung Jo dan berkata, “Ayo masuklah aku ingin melihat-lihat gaun pengantin itu.” Seung Jo berkata, “Kalau begitu masuklah. Aku akan pergi ke suatu tempat dan menunggu.”

Seung Jo berjalan pergi dan Ha Ni mengejarnya lalu berkata, “Ah baiklah kalau begitu kita sekarang pergi ke studio photo saja.” Seung Jo bertanya, “Studio? Untuk apa?” Ha Ni menjawab, “Hmm untuk photo album.” Seung Jo berkomentar, “Tidak mau! Aku tidak mau di foto seperti itu, ‘Suami tolong lihat kemari, istri tolong lebih mendekat.’ Apa kau ingin aku melakukan hal bodoh itu? Tidak akan!”

Ha Ni kesal dan berkata, “Ini tidak adil! Kau menolak cincin, menolak gaun, dan sekarang kau menolak pemotretan? Jika kau tidang ingin melakukannya lalu kenapa kau pergi keluar bersamaku?” Seung Jo menjawab, “Apa kau pikir aku keluar karena keinginanku? Aku kemari hanya karena kalian menginginkannya.” Ha Ni berkata, “Karena sudah terlanjut keluar lalu kenapa kau tidak membantu saja hah? Kau hanya bisa mengeluh dan menolak ini itu!” Banyak orang yang lewat dan memperhatikan mereka. Seung Jo berkata, “Kenapa kau berkata seperti ini di jalan hah? Ini memalukan!” Ha Ni berkomentar, “Memalukan? Aku juga malu! Menurutmu bagaimana pikiran orang di toko cincin tadi hah? Kenapa aku harus selalu mengikuti keinginanmu?”

Seung Jo berkata, “Kalau begitu tidak usah beli!” Ha Ni kesal dan balas berkata, “Lalu bagaimana kita bisa saling mengikat hah?” Seung Jo berkomentar, “Huh sekarang aku mengerti kenapa banyak pasangan yang berpisah sebelum mereka menikah.” Seung Jo berjalan pergi dan meninggalkan Ha Ni yang kebingungan.

Ha Ni dan Seung Jo sedang ada di dalam mobil. Seung Jo berkata, “Aku katakan padamu sekarang. Bahkan setelah menikahimu aku mungkin tidak akan sanggup melihatmu. Aku tidak dapat menyesuaikan diri denganmu.” Ha Ni bertanya, “Kapan kau pernah seperti itu?” Seung Jo berkomentar, “Benar-benar… Ini semua karena Ibuku.” Ha Ni berkata, “Ini bukan karena Ibu! Kalau begitu kenapa kau ingin menikahiku?” Seung Jo berkomentar, “Yeah. Aku menyesal kenapa pernah mengatakan hal itu. Aku pikir kita harus memikirkan kembali hal ini.” Ha Ni benar-benar kecewa mendengar kata-kata Seung Jo.

Ha Ni menceritakan semua ini pada Joo Ri dan Min Ah yang kaget mendengarnya. Joo Ri bertanya, “Benarkah? Jadi kau bahkan belum mendapatkan gaunmu?” Ha Ni menjawab, “Ya. Bahkan kita tidak berbicara di rumah. Jika kita bertemu, maka dia akan menghindariku.” Min Ah bertanya, “Apa? Padahal tinggal beberapa hari lagi waktu pernikahanmu itu.” Ha Ni berkata, “Dia bilang padaku bahwa dia menyesal karena telah memintaku menikah dan ingin memikirkan hal ini lagi.”

Min Ah mencoba menenangkan Ha Ni dengan berkata, “Kau kan tau kalau Baek Seung Jo itu memang dingin. Bahkan jika dia berbicara seperti itu, itu bukan maksud yang ingin dia katakan.”

Papah sedang ada di Restaurant sambil membaca buku. Seung Jo datang ke Restaurant dan bertanya, “Buku apa yang anda baca?” Papah menjawab, “Buku mengenai nasihat ayah pada anak perempuannya. Apa yang membuatmu datang pada jam segini?” Seung Jo terlihat kebingungan dan berkata, “Hmm ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu.”

Ibu Seung Jo membuka bungkusan cangkir dan Ha Ni terlihat lesu. Ibu Seung Jo bertanya, “Kenapa calon pengantin terlihat begitu lesu? Apa Seung Jo bertingkah menyebalkan?” Ha Ni menjawab, “Ah tidak-tidak. Hey cangkir ini terlihat cantik.”

HP Ha Ni berbunyi dan itu telfon dari Papah. Papah bertanya, “Ha Ni… Kau sedang apa? Kalau begitu datanglah kemari.” Ha Ni kebingungan dan balik bertanya, “Sekarang? Kenapa? Apa terjadi sesuatu? Kencan? Ah baiklah aku akan segera kesana.”

Ha Ni datang ke Restaurant dan menemui Papah yang berdiri di luar. Ha Ni melihat kedalam Restaurant dan kaget saat melihat ada Seung Jo di dalam Restaurant.

Mereka bertiga pun pergi ke suatu tempat dengan mobil Seung Jo. Ha Ni bertanya, “Kita akan pergi kemana?” Seung Jo hanya menjawab, “Kau akan mengetahuinya begitu kita sampai.”

Dan ternyata mereka bertiga pergi ke sebuah tempat pemakaman. Seung Jo meletakan bunga di sebuah makam dan Papah berkata pada Ha Ni, “Seung Jo ingin bertemu dengan Nenek dan Ibumu. Aku terlalu sibuk sehingga lupa akan hal ini.” Ha Ni hanya bisa terdiam.

Seung Jo lalu berkata, “Senang bertemu denganmu Ibu. Nenek… Cucu menantumu ada disini. Apa kau menyukaiku? Aku khawatir karena Ha Ni sudah tidak mendengarkanku lagi. Tapi kamu tidak perlu khawatir karena aku akan menjaganya.” Ha Ni bergumam pelan, “Aku benci….” Seung Jo mendengar kata-kata itu dan bertanya, “Benci?” Ha Ni menggeleng dan menjawab, “Aku suka… Terima kasih. Ibu… Nenek… Aku akan menikah.” Seung Jo dan Ha Ni tersenyum sementara Papah terlihat sedih.

Mereka berdua lalu berjalan bersama-sama. Seung Jo berkata, “Kyung Soo akan menjadi pembawa acara karena EO pernikahan kita tidka menyediakan pembawa acara.” Ha Ni bertanya, “Lalu bagaimana dengan rencana bulan madu kita? Kemana kita akan berbulan madu?” Seung Jo berkomentar, “Hmm bulan madu? Apa kita harus melakukannya? Kita tidak memiliki banyak waktu.” Ha Ni kesal dan berkata, “Huh lagi-lagi kau menolak.” Seung Jo pun berkata, “Baik baik… Kemana? Kamu mau pergi kemana?” Ha Ni menjawab, “Hmm Italy? Rome?” Seung Jo berkomentar, “Rome? Dalam mimpimu saja!”

Ha Ni berkata, “Aku bercanda. Walaupun tidak pergi jauh tapi aku harap kita pergi ke sebauah pulau.” Seung Jo berkomentar, “Baiklah. Bagaimana jika Pulau Yeo Eui Do? kenapa? Bukankah itu salah satu pulau yang indah? Atau Pulau Bam? Ah ya baiklah Pulau Ddook?” Ha Ni jelas tidak setuju karena itu Pulau-pulau dekat yang ada di sekitar sungai Han. Seung Jo pun berkata, “Baiklah kita tentukan dengan permainan di HP ini. Jika gambar yang keluar 3 kali sama maka kita akan pergi ke tempat yang kau inginkan. Bagaimana?” Ha Ni berkomentar, “Baiklah. Tapi itu kemungkinannya sangat kecil.” Seung Jo langsung memulai permainan di HP dan ternyata gambar yang keluar itu sama dan tentu saja Ha Ni sangat senang karena dia yang akan memutuskan bulan madu mereka itu ke Pulau Jeju. Seung Jo juga diam-diam ikut tersenyum senang.

Joo Ri dan Min Ah menginap di rumah Seung Jo karena besok adalah hari pernikahan Ha Ni. Joo Ri bertanya, “Bagaimana perasaanmu? Besok hari pernikahanmu.” Ha Ni menjawab, “Entahlah. Aku belum merasakan perasaaan deg degan itu.”

Joo Ri dan Min Ah saling menatap lalu mengeluarkan sebuah kotak hadiah untuk Ha Ni. Ha Ni membuka hadiah iu dan ternyata hadiahnya adalah pakaian dalam, baju tidur dan juga parfume. Joo Ri berkata, “Kami membeli ini di internet. Mereka bilang bahwa hadiah yang cocok untuk pasangan yang akan bulan madu itu adalah pakaian dalam dan pakaian tidur.” Ha Ni langsung tersenyum malu-malu.

Joo Ri berkata, “Kau harus mandi dahulu. Lalu kau pakai pakaian dalam ini dan semprotkan sedikit parfume ini.” Min Ah berkomentar, “Dan kau juga harus memakai make up yang bagus.” Joo Ri berkata, “Ah ya saat kau mandi kau dilarang bernyanyi.” Ha Ni kebingungan dan bertanya, “Hmm kenapa?” Min Ah menjawab, “Karena laki-laki akan menganggap kau lebih kuat.” Semuanya tertawa dan Joo Ri tiba-tiba bertanya, “Hey bagaimana ciuman Baek Seung Jo? Apakah dia pandai melakukan hal itu?” Ha Ni semakin malu saat di tanya seperti itu.

Di ruang keluarga, Papah Ha Ni memberikan satu set perlengkapan makan. Ibu Sueng Jo bertanya, “Apa ini?” Papah menjawab, “Aku dengar jika aku tidak melakukan apa-apa maka setidaknya aku perlu memberikan ini. Ah ya aku juga membeli satu set selimut. Itu ada di kamar tapi aku tidak tahu apakah kau suka atau tidak.” Bapa Seung Jo berkomentar, “Besan, kau sungguh baik sekali pada kami.” Papah tersenyum dan berkata, “Ya. Besan semoga kau juga baik padaku ya.”

Eun Jo bertanya, “Kak, apakah kau sudah tidur?” Seung Jo menjawab, “Belum.” Eun Jo kembali bertanya, “Jadi kau akan menikah dengan Oh Ha Ni?” Seung Jo menjawab, “Sepertinya begitu. Kenapa? Kau tidak menyukainya?” Eun Jo berkomentar, “Tentu saja. Oh Ha Ni itu bodoh dan aneh. Tidak epduli apapun pokoknya dia itu bodoh! Dia tidak bisa berenang tapi mencoba menyelamatkanku. Meskipun kau kejam padanya tapi dia tetap menyukaimu. Suatu saat aku akan menikahi wanita yang lebih pintar dari Oh Ha Ni dan lebih cantik dari dia. Tapi aku mendukungmu menikah dengan Oh Ha Ni karena aku menyukaimu. Tapi sejujurnya… Aku rasa benar jika kepribadianmu itu memiliki banyak masalah dan aku pikir kau memang harus menikahi orang seperti Oh Ha Ni. Kau melakukan hal yang benar. Selamat!” Seung Jo tersenyum mendengar hal itu.

Ternyata malam-malam Joon Gu datang ke rumah Seung Jo dan hanya melihatnya dari jauh. Joon Gu berkata, “Ha Ni… Aku sangat senang sekarang ini karena mungkin kau juga sangat bahagia. Saat kau bahagia maka aku juga akan bahagia. Selamat Oh Ha Ni. Mimpi indah dan sampai jumpa besok.”

Ha Ni selesai mandi dan dia masuk ke kamarnya dan melihat Joo Ri dan Min Ah sudah tertidur. Ha Ni berkomentar, “Huh mereka bilang ingon mengobrol denganku semalaman tapi ternyata mereka tidur terlebih dahulu.” Ha Ni menyelimuti mereka dan pergi keluar kamar.

Papah sedang minum di dapur dan Ha Ni datang menghampirinya. Papah bertanya, “Kenapa kau belum tertidur?” Ha Ni menjawab, “Aku tidak bisa tidur. Bagaimana denganmu?” Papah menjawab, “Hmm ya aku juga tidka bisa tidur.” Ha Ni menggenggam tangan Papah dan berkata, “Pah… Terima kasih karena telah membesarkanku sebaik ini.”

Ha Ni terlihat ingin menangis dan Papah pun berkata, “Jangan menangis, Matamu bisa bengkak. Jika matamu bengkak maka orang-orang akan bilang bahwa pengantin wanitanya tidak cantik. Sudah jangan menangis. Kenapa kau menangis di hari bahagiamu? Papah akan tersenyum jadi kau juga harus tersenyum, ok? Anak tunggal dari Papah yang seorang duda ini jika dia menangis di hari perikahannya maka hari akan hujan.” Ha Ni tersenyum dan berkata, “Baiklah… Aku akan tersenyum.”

Ha Ni lalu berkata, “Pah? Apakah kau mau berlatih untuk besok?” Papah dan Ha Ni berdiri bersama dan latihan berjalan untuk hari pernikahan Ha Ni. Papah sangat gugup dan Ha Ni terus memeluk lengan Papah.

Hari pernikahan akhirnya tiba…. Seung Jo dan keluarganya berdiri di depan aula gedung pernikahan untuk menyambut para tamu yang datang. Sementara pengantin wanita yaitu Ha Ni sedang menunggu di suatu ruangan khusus.

Ha Ni berkumpul bersama teman-temannya dan berfoto bersama. Pintu ruangan terbuka dan datanglah Guru Kang Yi bersama Guru Ji Oh (Ingat mereka? Guru Kang Yi itu wali kelas Ha Ni dan guru Ji Oh wali kelas Seung Jo.) Guru Kang Yi memberikan selamat pada Ha Ni yang akan menikah. Ha Ni melihat Guru Kang Yi yang sedang hamil dan bertanya, “Guru… kau sedang hamil?” Guru Kang Yi tersenyum malu-malu dan menunjuk Guru Ji Oh.

Guru Kang Yi lalu berkata, “Ha Ni kau sungguh hebat karena bisa menikah dengan Baek Seung Jo!” Ha Ni tersenyum malu-malu. Guru Ji Oh lalu mengajak Guru Kang Yi untuk keluar dari ruangan khusus pengantin wanita itu. Joo Ri berkomentar, “Ha Ni kau lihat itu? Suatu saat nanti kau juga akan hamil seperti itu.”

Pintu ruangan khusus pengantin terbuka dan He Ra datang masuk. He Ra melihat Ha Ni dan berkomentar, “Kau cantik.” Ha Ni balas berkata, “Hmm kau juga.” He Ra tersenyum lalu berkata, “Aku senang karena itu adalah kamu. Hmm maksudku ya aku senang karena Seung Jo memilihmu, bukan aku. Inilah sebabnya aku menyukainya. Baek Seung Jo memiliki selera yang bagus dalam masalah perempuan. Berbahagialah, jadi aku iri pada kalian dan ingin segera menikah juga.” Ha Ni berkata, “Baiklah aku akan bekerja keras.” He Ra berkomentar, “Jangan. Kau itu sudah sabar dan sangat gigih, jika kau bekerja keras juga maka semuanya akan mati.”

Mereka berdua tersenyum lalu He Ra berkata, “Selamat.” Ha Ni balas tersenyum dan berkata, “Terima kasih banyak.”

Seung Jo sedang menerima ucapan selamat dari teman-temannya dan datanglah Joon Gu. Joon Gu berkomentar, “Sepertinya kau bahagia. Kau tersenyum sangat lebar. Hingga mulutmu itu terlihat seperti akan robek.” Seung Jo hanya tersenyum dan berkata, “Kau tampan.” Joon Gu berkata, “Tentu saja. Siapa tahu Ha Ni akan berubah pikiran setelah melihatku. Aku bisa berlari bersamanya.” Seung Jo hanya tersenyum.

Kyung Soo menjadi pembawa acara dan dia meminta agar para tamu undangan memasuki aula gedung karena acara akan segera di mulai. Ha Ni sangat gugup dan dia langsung menggenggam tangan Eun Jo. Eun Jo bertanya, “Apa kau gugup?” Ha Ni menganggukan kepalanya. Eun Jo berkomentar, “Jangan membuat kesalahan. Seperti menjatuhkan cincinmu atupun menginjak gaunmu sendiri dan terpeleset.” Ha Ni kesal dan berkata, “Hey jangan katakan seperti itu!”

Eun Jo tiba-tiba berkata, “Apa kau mau aku memberimu hadiah pernikahan?” Ha Ni menjawab, “Ya. Apa itu?” Eun Jo langsung membisikan sesuatu dan itu membuat Ha Ni sangat kaget mendengarnya.

Acara pernikahan di mulai. Ha Ni dan papah memasuki ruangan diiringi Min Ah dan Joo Ri yang menjadi pendamping mempelai wanita. Semua yang melihat mereka ikut senang dan Seung Jo juga terseyum saat melihat Ha Ni.

Kyung Soo berkata, “Karena tidak ada pendeta disini maka mereka sendiri yang akan berjanji. Silahkan…” Seung Jo membuka buku kecil lalu berkata, “Aku Baek Seung Jo akan menghormati dan mencintai Oh Ha Ni apapun yang terjadi. Akan saling peduli, akan menjadi suami yang baik untuknya. Aku berjanji.” Ha Ni lalu berkata, “Aku Oh Ha Ni dengan suami Baek Seung akan saling mencintai dan peduli selamanya apapun yang terjadi. Aku berjanji akan menjadi istri yang baik untuknya.”

Lalu acara selanjutnya adalah sambutan dari Bapa Seung Jo. Bapa Seung Jo berkata, “Sebenarnya Ha Ni ini adalah anak dari teman lamaku. Saat SMP, aku tinggal di rumahnya dan ya keluarganya memperlakukanku dengan sangat baik. Ini seperti kembali ke masa itu. Aku selalu berfikir bahwa tidak ada orang yang akan seperti dia. Sahabat yang hebat ini kini menjadi besanku. Temanku… Terima kasih karena kau telah membesarkan putrimu ini dengan sangat baik dan menikahkannya dengan putraku.”

Giliran Papah yang memberikan sambutan. Papah berkata, “Aku terus memikirkan kata-kata apa yang harus aku katakan. Dan ya aku mengingat saat kehidupan pernikahan saya yang begitu singkat. Pada hari pernikahan kami, salju turun. Dan pada saat malam natal, kami makan mie yang tersisa dan saling mengucapkan selamat natal. Setelah 100 hari, Ha Ni lahir dan istriku meninggal. Aku hanya bisa memeluk Ha Ni dan menangis. Aku masih ingat akan hal itu. Itu mungkin bukan hal besar tapi ya menyenangkan. Ini mungkin karena kesulitan yang di tanggung bersama-sama. Nenek sering sekali memanggil Ha Ni sebagai siput tapi walaupun begitu dia tahu jalan mana yang akan dia tempuh dan dia akan melewatinya dengan tersenyum. Saya selalu sedih dan menyesal akan kesendiriannya tapi mulai hari ini akan ada laki-laki tampan dan yang sayang padanya. Hatiku pun kini menjadi tenang dan yakin. Seung Jo… Terima kasih. Terulah bersama Ha Ni selamanya.”

Kyung Soo sebagai MC lalu berkata, “Saatnya acara tukar cincin.” Seung Jo mengambil cincin dan memasukannya ke jari tangan Ha Ni. dan giliran Ha Ni yang memasukan cincin ke jari tangan Seung Jo tapi cincin itu justru terjatuh dan membuat para tamu undangan tertawa. Bapa Seung Jo menemukan cincin itu dan memberikannya pada Ha Ni. Ha Ni meminta maaf dan memasukan cincin itu ke jari tangan Seung Jo.

Seung Jo berbisik pelan, “Dasar bodoh!” Ha Ni kesal dan berkata, “Huh jangan menggodaku Baek Seung Jo karena kau sebenarnya sangat menyukaiku sejak dulu!” Seung Jo kaget dan bertanya, “Apa? Apa maksudmu hah?” Ha Ni tersenyum dan menjawab, “Ciuman kedua itu. Itu bukan saat hujan bukan? Kau menciumku saat aku tertidur. Huh kekanak-kanakan sekali kau.” Seung Jo kesal dan langsung menatap Eun Jo yang sengaja memalingkan wajahnya.

Ha Ni berkata, “Setelah mealakukan itu kau begitu malu-malu.” Ha Ni tertawa lalu mencium Seung Jo secara tiba-tiba. Semua tamu undangan sangat kaget melihat itu namun mereka semua ikut tertawa. Kyung Soo berkomentar, “Wow pengantin wanitanya sungguh berani sekali.” Seung Jo kesal dan langsung melepaskan ciuman Ha Ni. Ha Ni tersenyum dan berkata, “Lihatlah dirimu sekarang ini.” Seung Jo terlihat malu dan semua tamu masih terus tertawa. Hanya Joon Gu lah yang terlihat sedih saat melihat itu.

Mereka pun memulai acara bulan madunya. Ha Ni dan Seung Jo mengendarai mobil dan melewati pinggir pantai. Ha Ni berkata, “Bisakah kita turun sebentar dan melihat pantainya? Ayolah….” Seung Jo menepikan mobilnya dan Ha Ni pun keluar untuk melihat laut yang begitu bersih dan masih berwarna biru. Ha Ni melihat ke mobil dan ternyata Seung Jo masih diam duduk di dalam mobil. Ha Ni menghampiri Seung Jo dan bertanya, “Kenapa? Apa kau masih marah karena kejadian di pesta pernikahan itu?” Seung Jo hanya menjawab, “Jika kau sudah selesai maka cepatlah kita pergi.”

Ternyata di pesta pernikahan itu ada hal yang membuat Seung Jo lebih malu lagi dari pada dicium Ha Ni secara mendadak. Ya Ibu Seung Jo memperlihatkan foto-foto masa kecil Seung Jo yang di dandani seperti perempuan. Ha Ni dan para tamu undangannya tertawa melihat hal itu. Kyung Soo sendiri kebingungan saat melihat foto Seung Jo yang sangat imut itu. Eun Jo bertanya pada Ibunya, “Apakah itu Kakak?” Ibu Seung Jo tersenyum dan menjawab, “Ya. Itu kakakmu.”

Balik lagi ke pasangan yang sedang berbulan madu ini… Ha Ni berkata, “Ya aku tau Ibu mertua terlalu keterlaluan padahal aku yakin dia mengetahui bahwa kau tidak menyukai hal ini.” Seung Jo kesal dan langsung meninggalkan Ha Ni. Ha Ni kaget dan langsung mengejar mobil Seung Jo sambil terus berteriak, “Hey Baek Seung Jo!!!!”

He Ra sedang berjalan dan Kyung Soo diam-diam terus mengikutinya. He Ra kesal dan bertanya, “Kau sampai kapan mau terus mengikutiku hah?” Kyung Soo kaget dan menjawab, “Hmm aku… He Ra.. Apa kau lapar? Aku tau kalau kau belum makan. Apa aku harus membelikanmu makanan?”

Ha Ni dan Seung Jo jalan-jalan di tempat penginapan mereka. Ha Ni sangat senang sekali karena akhirnya bisa pergi bulan madu bersama Seung Jo. Lalu ada yang lewat di depan mereka, seorang laki-laki dan perempuan yang sepertinya mereka ini pasangan juga dna terlihat jelas kalau si perempuan selalu memarahi si laki-laki. Perempuan itu melihat Seung Jo dan Ha Ni lalu berkata, “Ah kalian disini? Apa kalian masih ingat kami? Kami tadi duduk bersebelahan pada saat di pesawat. Hey kau ternyata cukup tampan, aku tidak menyadarinya. Kau bisa menjadi aktor.” Ha Ni cemburu melihat perempuan itu memuji Seung Jo makanya dia langsung menggandeng Seung Jo dan mengajak Seung Jo langsung pergi.

He Ra dan Kyung Soo pergi ke Restaurant Hot Dog. He Ra berkomentar, “Hmmsepertinya kau begitu menyukai Hot Dog.” Kyung Soo bertanya, “Kenapa? Apa kau tidak menyukainya? Haruskah kita pindah ke Restaurant lain?” He Ra menjawab, “Tidak eprlu.” Kyung Soo mencoba membuat sebuah lelucon tapi justru itu malah membuat He Ra jadi pendiam.

Kyung Soo melihat sebuah poster yang bertuliskan, “Makan 30 Hot Dog dalam waktu 10 menit dan kau akan terbang ke New York untuk mengikuti perlombaan.” Kyung Soo menghampiri He Ra dan berkata, “Makan 30 hot dog dalam 10 menit hmm berarti 1 hot dog 20 detik? Ah aku pasti bisa melakukannya. Jika aku memenangkannya maka aku bisa membelikanmu barang mewah. Ah baiklah kita coba berlatih, aku akan memakan Hot Dog dan kau harus menghitung hingga 20.” He Ra tiba-tiba tertawa dan itu membuat Kyung Soo senang.

Kyung Soo berkata, “Wow kau tertawa,” He Ra langsung menghentikan tawanya dan kembali terdiam. Kyung Soo bertanya, “Apa kau tidak merasa sakit pada hari itu? Kau berlatih tennis sangat keras.” He Ra menjawab, “Ah tidak.” Kyung Soo berkata, “Hey kau itu berlatih tennis selama 4 jam. Itu sangat berat.” He Ra kebingungan dan bertanya, “Apa kau melihatku selama 4 jam itu?” Giliran Kyung Soo yang kebingungan dan mengalihkan pembicaraan, “Ah aku… Aku akan memakan hot dog ini.” He Ra tersenyum melihat hal itu.

Ha Ni melihat Seung Jo sedang duduk di kursi luar tempat penginapan dan dia pun menghampiri Seung Jo lalu berkata, “Hmm disini udaranya sangat bagus. Dan lagi pantai ada di depan kita. Benar-benar indah. Ah ya aku tau kalau aku tidak pandai dalam banyak hal tapi aku akan berusaha keras untuk menjadi istri yang baik.” Seung Jo diam saja dan Ha Ni pun menyenderkan kepalanya di bahu Seung Jo. Ha Ni malu-malu dan berkata dala hati, “Oh my… Apa yang harus aku lakukan?” Tiba-tiba datang pasangan yang tadi dan berkata, “Kamar kalian disini? Kamar kami ada di sebelah sana. Wow ini takdir….”

Ha Ni dan Seung Jo mendatangi petugas hotel untuk melihat beberapa program yang di sediakan oleh hotel. Ha Ni bertanya, “Acara lilin? Apa ini?” Petugas hotel menjelaskan, “Ah ini… Ini adalah program yang paling sering di pilih oleh pasangan yang sedang berbulan madu. Dan kami juga ada program makan malam dengan anggur. Bagaimana?” Ha Ni berkata, “Wow bagus sekali. Bagaimana Sueng Jo?” Seung Jo berkata, “Baiklah kita akan mengambil program itu.” Ha Ni tersenyum senang.

Petugas hotel lalu berkata, “Ah baiklah anda hanya perlu datang ke Restaurant disana. Dan ada juga pasangan yang memesan program ini.” Ha Ni bertanya, “Hmma ada pasangan berbulan madu lainnya?”

Ternyata pasangan yang akan makan malam bersama itu adalah pasangan yang tadi siang bertemu dengan Seung Jo dan Ha Ni. Perempuan itu berkata, “Wow aku kira program ini akan sangat membosankan tapi ternyata sangat romantis. Huh kita ini benar-benar ditakdirkan sepertinya. Ah ya berapa usia kalian? Kalian terlihat masih sangat muda.” Ha Ni menjawab, “Kami 21 tahun.” Perempuan itu berkata, “Wow sama sepertiku. Tapi kalian sepertinya terlalu cepat… Apakah pernikahan paksa?” Ha Ni kesal mendengar kata-kata itu.

Perempuan itu lalu berkata, “Usiaku dan pasanganku beda 11 tahun. Bukankah terlihat jelas?” Seung Jo menuangkan minuman pada laki-laki itu dan si perempuan berkata, “Wow kau baik sekali menuangkan minuman untuknya. Ah karena usia kita sama, haruskah kita berbicara informal?” Seung Jo berkata, “Terserah kau saja.” Ha Ni kesal dan langsung meminum anggurnya dengan terburu-buru. Si perempuan mengejek Ha Ni dengan berkata, “Hey apakah kau berniat meminumnya dengan satu kali teguk?” Ha Ni berkata, “Huh aku tidak begitu tau cara meminum anggur.” Seung Jo diam saja melihat Ha Ni.

Ha Ni dan Seung Jo pergi jalan-jalan dengan mobil dan Ha Ni terasa sangat mual sehingga Seung Jo menepikan mobil. Seung Jo berkata, “Apa kau baik-baik saja?” Ha Ni menjawab, “Ya.”

Joon Gu mengantarkan pesanan mie pada wanita asing yang waktu itu datang ke Restaurant dan ternyata nama waniat itu adalah Christine. Christine meminta Joon Gu membawakan dia garpuh namun Joon Gu jutsru memarahinya dan bilang bahwa Christine harus memakan menggunakan sumpit jika di Korea. JoonGu terus mengajarkan Christine cara memegang sumpit yang benar. Diam-diam Papah Ha Ni tersenyum melihat Joon Gu yang dekat dengan Christine.

Seung Jo dan Ha Ni pergi berjalan-jalan bersama dan Seung Jo yang menjelaskan banyak hal tentang tempat yang mereka datangi. Pasangan itu datang ke tempat itu juga dan seperti biasa si Perempuan menganggu acara Ha Ni dan Seung Jo. Perempuan itu menggandeng Seung Jo dan meminta Seung Jo untuk menjelaskan banyak hal tentang gedung museum yang mereka datangi. Ha Ni sangat kesal melihat itu namun dia diam saja dan berjalan di belakang.

Ha Ni tiba-tiba berkata pada si laki-laki, “Kau sebagai suami harusnya menjaga istrimu itu!” Laki-laki itu berkata, “Aku juga sebenarnya khawatir. Aki pikir Seung Jo terus mengejar istriku.” Ha Ni kesal dan berkata, “Seung Jo? Istrimu lah yang terus mengejarnya!” Si laki-laki berkata, “Ah tidak istriku tidak seperti itu. Dia itu sangat baik dan ramah. Bahkan aku pikir dia itu terlalu baik untukku ini.”

Perempuan itu terus mengikuti Seung Jo dan dia berkata, “Hey lihatlah mereka terlihat sangat serasi sekali bukan?” Seung Jo melihat Ha Ni yang sedang berbicara dengan laki-laki itu dan dia diam saja. Si perempuan itu memeluk tangan Seung Jo dan meminta Seung Jo mengajaknya untuk berjalan-jalan ke museum lagi. Tiba-tiba ada perempuan asing yang menabrak mereka berdua dan itu membuat si perempuan kesal. Dan tentu saja yang menabrak itu adalah Ibu Seung jo yang diam-diam mengikuti mereka.

Ha Ni dan Seung Jo mendatangi tempat oleh-oleh dan Ha Ni melihat sebuah maianan dan berkata, “Haruskah kita membeli ini untuk Eun Jo?” Seung Jo melihat ada seorang anak laki-laki yang berambut coklat dan dia berkata, “Tidak perlu.” Dan ya anak laki-laki berambut coklat itu adalah Eun Jo!

Mereka sudah selesai berjalan-jalan dan kembali ke hotel. Ha Ni berkata, “Wow kita sudah mengunjungi banyak museum hari ini. Apakah kau tidak lelah? Kau bahkan menyetir juga.” Seung Jo berkata, “Ah tidak. Kau apa mau mandi duluan?” Ha Ni panik dan menjawab, “Hmm haruskah aku duluan?” Ha Ni tersenyum dan menyiapkan dalaman yang akan dia pakai dan dia terus berfikir, “Ya ampun apa yang harus aku lakukan sekarang ini?”

Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar dan Seung Jo pun membukakan pintunya. Ternyata yang datang adalah pasangan itu lagi. Si perempuan berkata, “Ayo kita minum anggur ini bersama-sama.” Ha Ni jelas sangat kesal karena hal itu. dan sepertinya Seung Jo juga tidak suka akan hal itu.

Besok paginya mereka berdua pergi sarapan. Ha Ni kesal dan berkata, “Ii hari terakhir kita disini tapi kita bahkan tidka punya foto bersama-sama.” Seung Jo tersenyum dan berkomentar, “Jangan khawatir. ” Ha Ni bertanya, “Kenapa?” Seung Jo diam saja tidak menjawab. (Mungkin maksud Seung Jo jangan khawatir itu karena dia tau kalau Ibunya pasti akan memotret banyak foto mereka.)

Ha Ni berkata, “Huh bahkan kita tidak memiliki waktu berdua saja. Jadi kita akan pergi berdua saja, ok?” Seung Jo tersenyum dan berkata, “Ya baiklah.” Ha Ni pun ikut tersenyum senang.

Ha Ni bersiap-siap untuk jalan-jalan di dalam kamar dan tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Seung Jo membuka pintu dan si laki-laki itu lah yang ternyata mengetuk pintu. Laki-laki itu datang ke kamar Seung Jo untuk meminta bantuan Seung Jo karena istrinya sedang kesakitan.

Seung Jo datang ke kamar pasangan itu dan memeriksa keadaan si perempuan. Ha Ni tidak suka melihat itu dan berkata dalam hati, “Kumohon jangan sentuh dia!” Si perempuan itu terlihat jelas pura-pura sakit dan memegang tangan Seung Jo lalu berkata, “Dadaku sakit.” Ha Ni langsung berkata, “Hentikan! Aku tidak suka kau menyentuh wanita lain!” Seung Jo berkata kejam, “Oh Ha Ni kau ini menikah dengan calon dokter. Bagaimana bisa kau cemburu pada orang yang sakit ini? Kau bahkan cemburu karena aku menyentuhnya? Apa kamu tidak merasa malu hah? Jika kau terus cemburu seperti ini maka kautidak bisa hidup bersamaku. Apa kau mengerti?” Ha Ni sedih mendengar hal itu dan langsung berlari pergi. Si laki-laki meminta Seung Jo mengejar Ha Ni namun Seung Jo tidak mengejarnya sheingga laki-laki itu yang pergi mengejar Ha Ni.

Si perempuan bangun lalu memegang tangan Seung Jo dan dia berkata, “Akhirnya tinggal kita berdua. Bukankah kau tidak menyukai Ha Ni? Bahkan kau tidak ingin menyentuhnya. Kasihan sekali kau. Kau seharusnya bertemu denganku sebelum bertemu dengan Ha Ni. Jika itu terjadi maka…”

Seung Jo tiba-tiba berdiri dan berkata, “Jika itu terjadi maka aku tidak akan menyukaimu! Aku tidak ada pilihan lain kecuali menghadapimu karena situasi ini. Kamu bahkan tidak sebanding dengan Ha Ni!” Si laki-laki itu datang ke kamar dan bilang bahwa dia tidka berhasil mengejar Ha Ni. Seung Jo pun pergi dari kamar itu.

Seung Jo melihat Ha Ni sedang duduk di kursi taman dan dia tersenyum lalu duduk di samping Ha Ni. Ha Ni kaget melihat Seung Jo dan dia langsung menggeser duduknya menjauh dari Seung Jo. Seung Jo berkata, “Aku pikir kau ingin bersamaku hari ini, tapi kenapa kau pergi sendiri? Apakah kau masih marah?” Ha Ni menjawab, “Coba kau ada di posisiku sekarang, kau juga pasti akan marah sepertiku!” Seung Jo berkata, “Tapi kau terlihat cantik jika tersenyum. Jika kau tersneyum maka aku merasa lebih baik.”

Ha Ni kaget mendnegar hal itu. Seung Jo menggelitik Ha Ni dan Ha Ni pun mulai tertawa ceria kembali.

Malamnya…. Ha Ni dan Seung Jo terlihat sama-sama gugup dan mereka duduk terdiam. Ha Ni berkata, “Maafkan aku. Aku bersikap bodoh dengan cemburu hanya karena hal itu” Seung Jo berkomentar, “Aneh! Kamu lucu kini ataupun nanti. Ada saat dimana kamu terlihat cantik. Tapi kenapa aku meyukaimu ya? Kamu tidak cantik dan lucu sekarang ini. Tapi kenapa aku selalu merindukanmu?”

Seung Jo tiba-tiba mendorong Ha Ni ke belakang dan menciumnya lalu Seung Jo menggendongnya dan membawa ke kamar. Ha Ni berkata, “Tunggu sebentar… ” Seung Jo kebingungan dan bertanya, “Ada apa?” Ha Ni menjawab, “Ada yang perlu aku periapkan. Ya sesuatu yang perempuan harus siapkan.” Seung Jo berkata, “Tidak perlu. Aku tidak bisa menunggu.”

Mereka sudah kembali ke rumah dari perjalanan bulan madunya. Ha Ni terbangun dan dia tersenyum senang saat melihat foto dia dan Seung Jo bersama. Tiba-tiba Ha Ni teringat sesuatu dan dia langsung berlari turun menuju dapur.

Ternyata di dapur Seung Jo, Eun Jo dan Ibu Seung Jo sudah berkumpul dan sarapan. Ibu Seung Jo berkata, “Ha Ni tidurlah kembali jika kau lelah.” Ha Ni berkata, “Maaf aku terlambat.” Seung Jo berkata, “Alarm berbunyi jam 5 pagi, aku pikir kau akan membuatkan sarapan pagi untukku.” Eun Jo berkomentar, “Kak seharusnya kau memikirkan kembali kata-katamu tadi.”

Ibu Seung Jo berkata, “Ha Ni ayo saparan bersama. Ah apa kau ingin mandi terlebih dahulu?” Ha Ni menjawab, “Ya aku akan mandi dahulu. Ah Seung Jo kau akan ke perpustakaan bukan? Aku akan cepat-cepat jadi kita bisa pergi bersama.” Ibu Seung Jo berkomentar, “Wow anakku menjadi dokter dan menantuku akan menjadi suster. Bagus sekali ini.” Ha Ni tersenyum dan berkata, “Tapi aku tidak bisa mendapatkan sertifkikat jika tidak masuk program ini. Jika tidak maka aku tidak akan mendapatkan keduanya.” Eun Jo berkomentar, “Hanya karena dia mengambil program ini maka belum tentu ini artinya dia akan lulus.” Ibu Seung Jo langsung memarahi Eun Jo dan bilang bahwa Ha Ni ini sekarang sudah menjadi kakak ipar Eun Jo.

Ibu Seung Jo lalu berkata, “Ah ya Seung Jo kau harus segera mendaftarkan pernikahan kalian ini. Aku tau kau sibuk tapi kau harus pergi bersama Ha Ni mendaftarkan pernikahan kalian berdua.” Seung Jo tiba-tiba berkata, “Tunggu. Aku masih ingin memikirkan hal ini.” Jelas semuanya kaget dan Ibu Seung Jo bertanya, “Apa maksudmu dengan berfikir hah? Apa ini kata-kata dari pasangan yang baru saja selesai berbulan madu bersama?” Seung Jo menjawab, “Kami melakukan pernikahan ini karenamu Ibu. Aku rasa ini terlalu terburu-buru.”

Ha Ni kebingungan dan bertanya, “Lalu apa yang harus aku lakukan hah?” Seung Jo menjawab, “Kau harus mengubar jurusanmu itu menjadi jurusan perawat. Daftarlah terlebih dahulu lalu mengubah jurusanmu.” Ibu Seung Jo berkomentar, “Huh apa hubungannya ini dengan pernikahanmu hah?” Ha Ni berkata, “Tidak mau!” Seung Jo balik bertanya, “Kenapa?Apa kau tidak yakin? Bukankah kau memang ingin jadi perawat?” Ha Ni menjawab, “Bukan. Aku… Aku hanya berfikir mengenai kemungkinanku tidak bisa mendapatkan program itu.” Seung Jo berkomentar, “Huh sudah kuduga hal ini akan terjadi suatu saat nanti.”

Seung Jo langsung berjalan pergi dan dia diam-diam tersenyum. Sementara Ibu Seung jo dan Ha Ni terlihat kebingungan.

Sinopsis Playful Kiss Episode 14

Papah bilang bahwa dia akan meninggalkan rumah karena tidak enak pada Seung Jo yang aan segera menikah. Ibu Seung Jo tentu saja melarangnya dan bilang bahwa Seung Jo ini masih muda jadi tidak mungkin menikah cepat. Bapa Seung Jo juga berkata, “Ya karena ada perjodohan, bukan berarti Seung Jo akan segera menikah.” Papah berkata, “Tapi akulah yang merasa tidak nyaman. Terima kasih atas semua yang sudah kalian berikan pada kami. Aku pasti akan membayarnya suatu saat nanti.”

Seung Jo pulang ke rumah dan Eun Jo langsung menyambutnya. Ibu Seung Jo melihat Seung Jo dan Ha Ni yang basak kuyup sehingga dia berkata, “Kenapa kalian? Cepatlah berganti baju, kalian bisa sakit.” Seung Jo dan Ha Ni mengerti lalu menaiki tangga. Eun Jo tiba-tiba berkata, “Kak, Oh Ha Ni akan segera pindah.” Seung jo terdiam lalu menenggam tangan Ha Ni dan berkata, “Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu.” Papah bertanya, “Hmm padaku? Ganti bajulah terlebih dahulu lalu berbicara padaku.” Seung Jo langsung to the point berkata, “Aku… ingin menikahi Ha Ni.”

Tentu saja semua yang mendengar hal itu kaget. Dan Ibu Seung Jo sangat senang mendengarnya. Seung Jo berkata, “Tentu saja kami tidak akan menikah sekarang, tapi setelah kami lulus dan perusahaan berjalan dengan baik. Itupun jika kau menyetujuinya Papah.” Papah kebingungan dan bertanya, “Apakah kau serius?” Seung Jo menjawab dengan yakin, “Ya.” Papah berkata, “Hmm tapi kau tahu kan bahwa Ha Ni tidak begitu pandai dalam banyak hal…” Seung Jo menjawab, “Ya aku tahu.” Papah kembali berkata, “Dan dia tidak pintar…” Seung Jo lagi-lagi menjawab, “Ya aku tahu.” Papah berkata, “Dan dia juga tidak dapat memasak.” Seung Jo tersenyum dan menjawab, “Ya aku tahu.”

Papah kembali berkata, “Dia juga ceroboh dan sering mengalami masalah. Tapi dia ceria dan melakukan hal yang baik. Dan lagi dia sangat lucu,” Seung Jo menjawab, “Aku sangat tahu hal itu.” Papah akhirnya berkata, “Baiklah. Ha Ni sangat menyukaimu.”

Ibu Seung Jo sangat senang mendengar hal ini dan langsung memeluk Ha Ni, “Ha Ni! Ini benar-benar terjadi! Ini sungguh hebat! Hey Baek Seung Jo! Kau begitu keren!” Ibu Seung Jo terus memeluk Ha Ni dengan gembira. Papah dan Bapa Seung Jo juga senang mendengar hal ini. Dan Eun Jo berkomentar, “Huh aku tau kalau akhirnya akan seperti ini.” Seung Jo pun ikut tersenyum melihat semuanya senang.

Ha Ni sedang berdiri di balkon dan Seung Jo menghampirinya, “Kau belum tidur?” Ha Ni menjawab, “Ya belum.” Seung Jo berkata, “Hmm hujannya sudah berhenti.” Ha Ni menatap langit dan berkata, “Ya. Langitnya terlihat sangat cerah.” Seung Jo bertanya, “Apa kau tidak merasa kedinginan?” Ha Ni hanya menganggukan kepalanya dan Seung Jo berkata, “Hmm kalau begitu aku tidur duluan.”

Saat Seung Jo mau pergi, Ha Ni menahannya dan bertanya, “Jika kau tidur, apakah besok pagi kau akan berubah menjadi Baek Seung Jo yang dingin? Itu saja yang aku pikirkan.” Seung Jo tersenyum dan bertanya, “Apa kita harus tidur bersama?” Ha Ni gugup dan menjawab, “Bukan. Bukan seperti itu…” Seung Jo tersenyum dan berkata, “Baiklah kalau begitu aku akan disini sebentar.” Seung Jo memeluk Ha Ni dari belakang dan Ha Ni tersenyum lalu berkata, “Aku bahkan tidak pernah membayangkan bahwa kau menyukaiku juga.” Seung Jo berkomentar, “Aku juga.”

Ha Ni memeluk Seung Jo dan berkata, “Aku menyukaimu. Sangat sangat menyukaimu.” Seung Jo tersenyum mendengar hal itu.

Diam-diam Ibu Seung Jo memotret Ha Ni dan Seung Jo yang sedang berpelukan. Eun Jo yang melihat itu berkata, “Ibu hentikan.” Ibu Seung Jo hanya berkomentar, “Sut! Diamlah!”

Joon Gu masih ada di Restaurant dan dia sangat menyesal karena tadi memaksa ingin mencium Ha Ni. Dia marah pada dirinya sendiri dan berkata, “Kenapa aku melakukan hal itu? jika aku tiba-tiba seperti itu maka perasaannya padaku akan jatuh. Aiiih Bong Joon Gu apa yang terjadi padamu ini?”

Ha Ni sedang duduk di samping jendela kamar tidurnya dan dia terseyum malu jika memikirkan hal yang terjadi hari ini. Seung Jo juga sedang duduk di samping jendela kamar tidurnya dan mndengar ada suara dari kamar Ha Ni sehingga dia bertanya, “Ha Ni kau belum tidur?” Ha Ni kaget mendnegar itu dan langsung pergi tidur. Seung Jo hanya bisa tersenyum.

Joon Gu membuat bekal makanan dan berkata, “Makanlah ini dan maafkan aku Ha Ni.”

Papah datang ke Restaurant dan melihat Joon Gu sehingga dia bertanya, “Kau kenapa sudah datang pagi-pagi sekali?” Joon Gu justru balik bertanya, “Chef bukankah kau seharusnya pergi ke pasar?” Papah menjawab, “Ya aku sudah dari pasar. Ah apa ini? Kau membuat bekal makan sepagi ini?” Joon Gu berkata, “Ya aku menyiapkan ini untuk Ha Ni. Bahkan aku memberikan nama. Lihat kotak bekal ini sangat manis jadi aku memberi nama Oh Ha Ni, sedangkan kotak yang satu ini ada sayap ayam sehingga aku memberi nama Bong Joon Gu. Ah Chef bagaimana jika kita membuat kotak bekal makan siang untuk restaurant?” Papah hanya berkata, “Ah aku akan memikirkannya.”

Joon Gu tersenyum senang melihat bekal makan siang yang disiapkannya untuk Ha Ni dan terus bernyanyi riang. Sementara Papah merasa tidak enak hati pada Joon Gu karena Ha Ni sudah dengan Seung Jo namun Papah tidak sanggup mengatakan hal itu pada Joon Gu karena Joon Gu terlalu bersemangat.

Ha Ni menceritakan kejadian kemarin pada Joo Ri dan Min Ah. Tentu saja mereka tidak mepercayai bahwa Seung Jo ingin menikah dengan Ha Ni makanya mereka bertanya, “Mengapa dia mau menikah denganmu?” Ha Ni menjawab, “Entahlah. Mungkin dia sudah menyadari perasaanku.” Joo Ri ikut senang dan bertanya, “Jadi kau akan menikah dengannya?” Ha Ni menjawab, “Tidak sekarang. Kami belum lulus.” Joo Ri berkata, “Wow ini hebat. Oh Ha Ni kau seharusnya menjadi penasehat masalah cintaku.” Ha Ni tertawa malu-malu.

Min Ah berkata, “Ngomong-ngomong selamat ya karena cintamu selama 4 tahun ini akhirnya terbalaskan.” Joo Ri juga berkata, “Ya selamat akhirnya kau berhasil Oh Ha Ni.” Ha Ni berteriak kencang saking senangnya.

Lalu Joo Ri bertanya, “Lalu… Bagaimana dengan Bong Joon Gu?” Min Ah juga bertanya, “Ya lalu bagaimana dengan Yoon He Ra?” Ha Ni menjawab, “Hmm Seung Jo bilang bahwa dia akan mengatakan hal ini pada He Ra. dan aku akan mengatakan hal ini pada Joon Gu.”

Joon Gu datang ke kampus Ha Ni sambil membawa bekal makan siang untuk Ha Ni. Joon Gu melihat ada keramaian di dekat sebuah papan informasi sehingga dia menghampirinya dan melihat ada sebuah poster yang bertuliskan, “Oh Ha Ni dan Baek Seung Jo setelah 4 tahun melewati cinta akhirnya akan bertunangan.” Semua mahasiswa mulai berbisik-bisik dan bertanya-tanya, “Siapa yang mengungkapkan cinta lebih dulu? Pasti Oh Ha Ni.” Joon Gu menatap bekal makan siang yang dia bawa dan dia merasa kecewa.

Seung Jo menjelaskan semuanya pada He Ra dan He Ra berkomentar, “Ini lebih cepat dari yang aku pikirkan. Aku tau kalau suatu saat nanti kau akan menyadari perasaanmu padanya, tapi aku tidak menyangka bahwa kau menyadarinya lebih cepat.” Seung Jo berkata, “Aku juga tidak menyangka akan terjadi hal ini. Apakah kau sudah tahu?” He Ra balik bertanya, “Bukankah Ibumu sudah mengetahuinya?”

Seung Jo berkata, “Hmm Oh Ha Ni ini sungguh sulit. Seperti mencari jawaban dari sebuah pertanyaan yang tidak ada jawabannya. Karena itu ini sangat sulit.” He Ra berkata, “Karena itu kau tidak ingin mengakuinya kan? Kau tidak mengakui bahwa Baek Seung Jo berusaha keras menyelesaikan satu masalah dan dia tidak berhasil menemukan jawabannya.” Seung Jo tersenyum dan bertanya, “Bagaimana kau bisa tahu hal itu?” He Ra balas tersenyum dan berkata, “Tapi sekarang sudah tidak sulit lagi bukan?” Seung Jo menjawab, “Ya. Dulu aku merasa kesulitan karena tidak bisa mengontrol perasaan ini tapi akhirnya aku mengakui bahwa aku menyerah karena bocah itu. Setelah menyerah, aku merasa ini tidak sulit lagi. Sekarang ini terasa sungguh menyenangkan.”

He Ra terlihat cemburu dan berkata, “Huh kau ini mendatangiku untuk meminta maaf tapi kenapa kau justru berbicara terlalu banyak hah?” Seung jo berkata, “Benarkah? Baiklah aku benar-benar meminta maaf. Tapi aku tidak bercanda saat aku berkata bahwa kita ini cocok. Saat aku bersamamu, aku merasa nyaman.” He Ra berkomentar, “Huh kau mencoba menghiburku hah?” Seung Jo tersenyum dan berkata sekali lagi, “Aku minta maaf.” He Ra berkata, “Huh tapi baaimana? Aku tidak mungkin mengatakan bahwa aku baik-baik saja. Tapi baiklah aku menerima permintaan maafmu dan selamat atas pernikahanmu.”

Seung Jo berkata, “Itu masih lama.” He Ra berkata, “Tidak apa-apa. Aku memebrikan selamat lebih awal saja.” Seung Jo menjabat tangan He Ra dan tersenyum. He Ra lalu berkata, “Aku mencoba untuk melupakan perasaanku padamu tapi kenapa tanganmu begitu hangat hah?” Seung Jo berkomentar, “Kau adalah gadis yang sangat baik.” He Ra berkata, “Ya aku tau.”

Joon Gu masih bekerja di kantin Kampus dan di saat istirahat, dia terus memandangi foto Ha Ni di HPnya. Koki di kantin mengajak Joon Gu untuk makan bersama namun Joon Gu menolaknya. Seeorang koki ada yang melihat bekal makan siang ang di bawa Joon Gu dan bertanya, “Apa dia tidak makan karena sudah memakan bekal makan siangnya?”

Joon Gu mengambil bekal makan siangnya dan memberikannya pada koki yang sedang makan bersama. Koki itu membuka bekal itu dan langsung mengomentari bahwa makanan buatan Joon Gu sangat enak bahkan bisa di jual. Joon Gu tidak mempedulikan ucapan itu dan dan berfikir, “Ha Ni… Apakah kau sudah makan? Huh aku tidak tahu…”

Ha Ni mencoba menelfon Joon Gu tapi Joon Gu tidak menjawab telfon Ha Ni. Ha NI pun berkata, “Hmm baiklah aku harus mengatakan hal ini secara langsung. Aku pergi begitu saja setelah kejadian kemarin malam. Hmm apakah Seung Jo sudah memberi tahu hal ini pada He Ra? He Ra terlihat sangat menyukai Seung Jo. Mungkin itu alasan kenapa He Ra selalu seperti itu padaku. Huh kenapa pacaran saja sangat sulit?”

Mahasiswa di kampus melihat poster pengumuman Ha Ni dan Seung Jo sudah bertunangan dan tentu saja mereka langsung mengomentari Ha Ni dan Ha Ni mendengar semua komentar itu. Ada yang berkata, “Wow Oh Ha Ni ini hebat ya bisa menaklukan Seung Jo.” tapi ada juag yang berkomentar, “Dia itu kan jelek!”

He Ra benar-benar sedih dan dia melampiaskannya kekesalannya ini dengan bermain tennis. He Ra mengingat kembali semua kejadian yang sudah dia lewati bersama Seung Jo dan itu membuat dia semakin sedih. He Ra terus melampiaskan kekesalannya itu dan diam-diam Kyung Soo melihat hal itu.

Kyung Soo berlari menuju ke supermarket terdekat dan dia sibuk memilihkan air minum untuk He Ra, “Dia pasti sangat haus… Aku harus tahu apa yang dia sukai agar bisa membelikan minuman untuknya. Air mineral? AH tidak tidak ini tidak dingin. Baiklah ini air dingin tapi aku tidak tau apakah dia menyukai ini atau tidak. Apa minuman ini ya? Ah tapi hanya karena dia sedang olahraga maka bukan berarti dia ingin minuman isotonik. Ah ya coke coke coke, ya Diet Coke. Tapi dia tidak perlu mengurangi berat badannya lagi… Aduh apa yang harus aku beli untuknya?”

Kyung Soo benar-benar kebingungan hingga akhirnya dia bertanyapada penjaga supermarket, “Permisi jika anda sedang sangat haus maka anda akan minum apa ya?”

Hingga malam He Ra masih terus melampiaskan kekesalannya itu dengan bermain tennis dan Kyung Soo terus berdiri di samping He Ra sambil memegang minuman.He Ra sudah tidak sanggup memukul bola sehingga dia terjatuh. Kyung Soo menghampirinya dna bertanya, “Kau baik-baik saja?” He Ra melihat Kyung Soo dan dia melihat minuman yang di beli oleh Kyung Soo ternyata beer tapi He Ra meminum itu karena dia sangat haus.

He Ra duduk di bangku lapangan tennis dan berusaha membuka botol bir namun tidak berhasil membukanya. Kyung Soo menawarkan bantuan namun He Ra menolaknya. He Ra mulai menangis dan KyunG Soo berkata, “Tidak apa-apa jika kau menangis terisak seperti itu. Jangan di tahan.” He Ra langsung menangis dan bersandar di bahu Kyung Soo. Kyung Soo pun jadi ikut sedih.

Joon Gu bermain petasan sendirian di pinggir sungai Han dan dia berkata, “Ha Ni aku sangat ingin melakukan ini bersamamu.” Joon Gu lalu menyanyikan lagu dan dia sangat sedih.

Joon Gu duduk di pinggir sungai Han dan minum bir. Ada telfon dari Papah Ha Ni dan dia segera mengangkatnya, “Ya chef? ya aku sekarang sedang mencari udara segar. Baiklah aku akan segera kembali.”

Ha Ni berjalan menuju Restaurant Papah dan dia langsung bersembunyi saat para karyawan yang lainnya berjalan pulang dan tinggal Joon Gu yang ada di Restaurant. Ha Ni mempersiapkan dirinya lalu masuk kedalam Restaurant. Joon Gu kaget melihat Ha Ni dan dia berusaha bersikap biasa, “Ah kau datang. Baguslah ini ada dompet Chef yang tertinggal.” Ha Ni melihat Joon Gu yang sedang membuat mie dan mencoba berbasa basi, “Warnanya bagus. Apa itu?” Joon Gu menjawab, “Ini? Chlorella.”

Ha Ni lalu mulai berkata, “Joon Gu, aku… ada sesuatu yang mau aku katakan.” Joon Gu memotong pembicaraan Ha Ni dan berkata, “Maafkan aku tapi kau sebaiknya cepat pulang karena aku sedang sangat sibuk.”

Tiba-tiba pintu Restaurant terbuka dan Seung Jo datang. Seung Jo menghampiri Joon Gu dan berkata, “Bong Joon Gu, kita harus bicara.” Joon Gu berkomentar, “Apa kau bercanda? Apa yang harus kita bicarakan? Pergi saja kau.” Seung Jo berkata, “Baiklah kalau begitu aku akan mengatakannya disini. Aku… Menyukai Oh Ha Ni. Kami tidak seharusnya meminta ijin padamu untuk berhubungan tapi ini sangat penting bagi Ha Ni. Akan sangat baik jika kau merelakan Ha Ni pergi. Jika kau merelakannya maka semuanya akan berjalan lancar.”

Joon Gu berkata, “Hey ini hal bodoh untuk di ucapkan! Merelakan apa? Hey Baek Seung Jo selama ini kau selalu kejam pada Ha Ni dan sekarang apa yang kau katakan hah? Sepertinya kau tidak mengetahui ini tapi aku menyukainya selama 4 tahun!” Ha Ni tiba-tiba berkata, “Joon Gu… maafkan aku.” Joon Gu berkata, “Kenapa kau meminta maaf?” Ha Ni menjawab, “Tentu saja aku harus meminta maaf dan berterima kasih. Tapi aku benar-benar….”

Joon Gu memotong pembicaraan dan berkata, “Tidak apa-apa. Jangan katakan itu. Aku sudah tahu dan melihatnya. Oh Ha Ni kau sungguh sungguh tidak punya selera dalam memilih laki-laki. Nanti muskipun kau menyesalinya, aku tidak akan menyerah. Apa kau akan baik-baik saja jika begini? Lihat kau bahkan tidak bisa menjawab pertanyaanku dengan cepat. Hey Baek Seung Jo, apa yang akan kau lakukan? Ha Ni bahkan tidak bisa menjawab pertanyaanku dengan cepat.” Seung Jo mejawab, “Ya. Aku mulai gugup.” Joon Gu berkata, “Seung Jo, Kau harus tahu bahwa aku akan selalu mengawasimu. Jika kau membuat Ha Ni menangis maka aku akan membuatmu nangis darah.” Seung Jo berkomentar, “Ya aku akan mengingatnya.”

Papah mencari dompetnya dan dia berjalan ke arah Restaurant. Saat dia masu masuk, dia melihat Seung Jo, Ha Ni dan Joon Gu ada di dalam sehingga dia pun bersembunyi. Ha Ni dan Seung Jo keluar dari restaurant dan Papah langsung mengintip Joon Gu yang ada di dalam restaurant.

Seung Jo dan Ha Ni berjalan menuju mobil dan Ha Ni bertanya, “Mobil siapa ini?” Seung Jo menjawab, “Ini mobil perusahaan dan mulai saat ini aku akan memakainya karena aku tidak nyaman jika menggunakan yang Papah.” Ha Ni tersenyum senang dan bertanya, “Ini bagus. jadi apa kita bisa jalan-jalan?” Seung Jo menjawab, “Tidak. Ini hanya di gunakan untuk keperluan perusahaan.” Ha Ni kesal dan langsung cemberut.

Papah mencoba menghibur Joon Gu yang sedang sedih. Joon Gu berkata, “Chef, kau tau? Aku ingin sekali memanggilmu Papah mertua.” Joon Gu mulai menangis dan Papah menenangkannya.

Bapa Seung Jo bertemu dengan Tuan Yoon dan dia meminta maaf karena Seung Jo tidak bisa menikahi He Ra. Bapa Seung Jo berkata, “Ini semua salahku. Mengenai kemunduran perusahaan dan semuanya. Seung Jo mungkin bisa di andalkan tapi dia maish terlalu muda dan lagi dia…” Tuan Yoon memotong pembicaraan dan berkata, “Jangan berbasa-basi. Aku akan memutuskan investasiku.” Bapa Seung Jo berkata, “Tapi project permainan ini sudah hampir selesai dan bukankah kau menyukainya?” Tuan Yoon berkomentar, “Aku bukan orang sehebat itu. Aku tidak bisa membedakan apa yang aku rasakan dan apa yang akan aku lakukan. Aku tidak tau apa pendapat pasar mengenai permainan buatanmu ini.”

Seung Jo datang ke perusahaan Tuan Yoon dan Bapa Seung Jo sangat kaget. Tuan Yoon bertanya, “Untuk apa kau datang kemari? Untuk melihat hukuman yang akan kau terima hah?” Seung Jo menjawab, “Aku sudah menyelesaikan semuanya dengan cucumu, He Ra. Hari ini aku datang untuk membicarakan mengenai bisnis. Berkata maaf atas semua yang terjadi mungkin He Ra tidak menyukainya. Untuk alasan apapun karena telah menempatkan dia dalam posisi yang tidak mengenakan ini dan aku pikir dia tidak akan suka jika di tempatkan pada posisi yang harus meminta maaf. Aku memiliki kepribadian yang sama dengan dia jadi aku tau yang dia rasakan.”

Tuan Yoon bertanya, “Jadi kau tidak ingin meminta maaf pada He Ra dan kau ingin aku tetap berinvestasi pada perusahaanmu?” Seung Jo menjawab, “Ya. Tolong berinvestasilah tapi aku rasa anda tidak perlu menginvestasikannya pada perusahaan kami. Aku bisa menawarkan permainan ini pada perusahaan lain atau pun pada perusahaanmu. Apapun kemungkinannya, aku hanya meminta agar anda tetap memperbolehkan kami memiliki layanan permainan. Dua bulan terakhir ini karyawan kami selalu bekerja keras dan hasilnya pun sudah sangat bagus. Tidak apa-apa jika kau tidak menginginkan perusahaan kamu tapi aku harap kau tetap ingin melihat permainan ini. Dan kumohon selamatkan pera pengembang permainan ini. Jika ini semua berakhir hanya karena anda membenciku, bukankah ini kekanak-kanakan?”

Tuan Yoon marah, “Kau mencoba mengajariku hah?” Seung Jo menjelaskan, “Bukan begitu…” Tuan Yoon berkata, “Baek Seung Jo aku sungguh tidak menyukaimu! Kau seharusnya memohon padaku dan mengaku salah. Jika kau memohon maka aku akan bersimpati dan menandatangani kontrak. Dasar bodoh! Sekertaris tolong bawakan stempel untuk tanda tangan kontrak.” Seung Jo dan Bapanya langsung tersenyum senang.

Tuan Yoon berkata, “Kau harus mengembalikan uangku ini berlipat ganda!” Seung Jo menjawab dengan senang, “Tentu saja! Aku akan melakukannya.” Bapa Seung Jo sangat senang dan mengucapkan terima kasih.

Keluarga Baek dan Keluarga Oh semuanya berkumpul bersama membicarakan kesuksesan Seung Jo yang minggu depan akan mengadakan peluncuran permainan. Bapa Seung Jo berkata, “Seung jo aku berhutang banyak padamu.Ini membuatku berfikir, Apakah kau sungguh anakku? Kau sangat keren. Tapi kau pikir aku hanya melewati ini sekali atau dua kali hah? Ya dan aku pikir kau bisa berhenti sekarang. Kau sudah cukup baik melakukannya dan kau bisa berhenti. Ini saatnya kau memilih jurusanmu untuk tahun depan. Bukankah kau ingin masuk kedokteran? Kau harus masuk!” Semuanya senang.

Seung Jo tiba-tiba berkata, “Tapi belum ada jaminan jika permainan ini akan sukses. Jika kita berhutang maka kesehatanmu…” Bapa Seung Jo memotong pembicaraan dan berkata, “Sudah jangan banyak bicara! Aku ini terkenal dalam industri game jadi jangan meremehkanku. Kau jangan berani-berani mencuri kursi direkturku! Aku akan tetap menjadi direktur untuk 20 tahun kedepan!” Papah bertanya, “Lalu setelah itu?” Eun Jo menjawab, “Aku ada disini! Aku lebih baik dalam bidang game dari pada Kakakku. Dia tidak menyukai game dan tidak pandai dalam hal itu. Jika aku bekerja keras dari sekarang maka aku akan menjadi pewaris perusahaan yang hebat. Jadi Kak Seung Jo sebaiknya menjadi dokter saja yang bisa menyembuhkan pasien seperti No Ri.”

Seung Jo berkomentar, “Sepertinya aku langsung di tendang keluar setelah aku menyelamatkan perusahaan yang hampir runtuh ini.” Semuanya tertawa dan Ibu Seung Jo berkata, “Ayo kita dukung Seung Jo masuk ke jurusan kedokteran!”

Tangan Joo Ri terluka karena memotong rambut sehingga Ha Ni mengobatinya. Joo Ri berkata, “Sebentar lagi aku akan lulus sekolah memotong rambut dan kalian harus membelikan aku satu set gunting khusus untuk memotong rambut.” Min Ah berkomentar, “Itu sangat mahal.” Joo Ri merengek, “Tapi itu barang yang orang-orang dapatkan setelah lulus. Jadi kalian berdua harus mulai menabung untuk membelikan aku satu set gunting khusus.”

Ha Ni berkata, “Baiklah aku akan mulai mencari kerja sambilan.” Min Ah berkomentar, “Kalau begitu belikan aku apan untuk menggambar di komputer.” Ha Ni lalu berkata, “Ah Min Ah aku sudah melihat web desaign-mu. Benar-benar lucu dan itu menceritakan tentang kita.” Joo Ri marah, “Huh tapi Min Ah menggambarku dengan sangat besar. Apa aku sebesar itu hah?” Ha Ni berkata, “Tapi karaktermu paling terkenal Joo Ri.” Joo Ri tersenyum senang dan berkata, “Wah Min Ah apa kau akan menjadi komikus terkenal? Aku harus meminta tanda tanganmu dari sekarang sepertinya.”

Seung Jo mulai meluncurkan produk permainan terbaru dan itu benar-benar terkenal hingga dia di wawancarai di TV karena hal ini. He Ra dan Tuan Yoon sedang menonton tayangan itu. He Ra berkata, “Kakek, bukankah dia hebat?” Tuan Yoon berkomentar, “Ya. Dia sungguh idaman semua wanita.” He Ra berkata, “Tentu saja. Apa mungkin aku menyukai laki-laki biasa?” Tuan Yoon berkata, “Tapi itu masa lalu. Apakah kau sudah menghapus dia dari perasaanmu? Kau terlihat marah padanya.” He Ra berkomentar, “Jika aku melihatnya maka aku akan terlihat serakah. Ah sungguh melelahkan.”

Joon Gu sedang mencuci piring sambil melihat Seung Jo yang sedang di wawancarai di TV. Joon Gu tersenyum dan berkata, “Baek Seung Jo kau adalah yang memotivasiku untuk menjadi orang sukses. Tunggu dan lihat saja, aku akan menjadi sukses.”

Bapa Seung Jo, Ibu Seung Jo, Eun Jo dan Ha Ni sedang sarapan bersama. Bapa Seung Jo bilang bahwa Seung Jo sangat mengangumkan. Ibu Seung Jo lalu bilang bahwa permainan yang di luncurkan oleh Seung Jo ini sangat baik perkembangannya di Internet dan web design yang di buat oleh Min Ah juga sangat lucu. Ha Ni bilang bahwa Web design buatan Min Ah memang sangat terkenal dan mungkin Min Ah bisa menjadi seorang komikus terkenal.

Bapa Seung Jo bilang bahwa saat ini sulit sekali menjadi pekerjaan jadi beruntung sekali teman-teman Ha Ni jika sudah mempunyai pekerjaan karena masih ada saja orang yang tidak peduli akan pekerjaan. Eun Jo berkomentar, “Sepertinya di rumah ini juga ada orang yang tidak peduli akan hal itu.” Ibu Seung Jo jelas langsungmemarahi Eun Jo. Ibu Seung Jo lalu berkata, “Ah ya Ha Ni ada surat yang dikirim oleh Universitasmu. Ini.”

Ha Ni menerima surat itu dan membukanya. Ibu Seung Jo bertanya, “Apa itu?” Ha Ni sedih melihat surat itu dan berkata, “Ini rapot…” Eun Jo berkomentar, “Ini terlihat jelas bagaimana hasilnya.”

Ha Ni membawa rapot itu ke kamarnya dan dia benar-benar kesal. Seung Jo masuk ke kamar Ha Ni dan Ha Ni langsung mengeluh, “Bagaimana ini? Aku sudah menghitung nilaiku dan aku pikir nilaiku bagus. Tapi kenapa hasilnya seperti ini?” Seung Jo berkomentar, “Mungkin ada kesalahan hitung. Tapi jika memang hasilnya seperti itu maka kau harus lebih bekerja keras. Percuma kau datang padaku dan menangis. Kau yang menyebabkan hal ini jadi hanya kau yang bisa bertanggung jawab.”

Saat Seung Jo mau keluar kamar Ha Ni, Ha Ni mencegahnya dan berkata, “Hmm aku pikir aku tidak pandai belajar… Haruskah aku menyerah kuliah saja? Aku sudah berusaha tapi nilaiku sepertinya tidak membaik.” Seung Jo berkomentar, “Lalu jika kau berhenti maka kau akan memiliki waktu lebih banyak untuk mengikutiku hah? Bagaimana mungkin kau bisa berfikiran seperti itu sementara orang di sekitarmu berusaha dengan keras untuk mendapatkan pekerjaan. Apa yang akan kau lakukan nanti hah? Apa kau sudah memikirkan masalah karirmu untuk masa depan? Kau tidak pernah memikirkan hal itu sehingga perhitunganmu pun salah dan nilaimu tidak pernah bertambah. Apa yang aku katakan ini salah?”

Ha Ni kesal dan menjawab, “Baek Seung Jo kau tidak mengerti aku. Kau hebat dalam segala hal walaupun kau tidak berusaha keras. Bahkan kau populer di kalangan wanita. Kau tidak mengerti perjuangan seseorang. Orang sepertimu tidak pernah mengerti perasaanku!” Seung Jo berkata, “Jika kau tidak memiliki ketekunan maka apa yang akan kau lakukan hah? Maka kau tidak akan memiliki kelebihan apapun.” Ha Ni berkata, “Kau… Kau orang yang sangat dingin Baek Seung Jo!”

Ha Ni mengambil mantelnya dan langsung memakainya. Seung Jo bertanya, “Kau mau pergi kemana?” Ha Ni menjawab, “Kemanapun.” Seung Jo bertanya kembali ,”Apa ada tempat untumu selarut ini?” Ha Ni menjawab, “Ada. Aku bisa pergi ke laki-laki lain.” Seung Jo tersenyum dan berkata, “Benarkah? Jadi kau memiliki kebarnian seperti itu? Bong Joon Gu atau Kyung Soo?” Ha Ni berkata, “Meskipun kamu akan menyesal, aku tidak akan peduli.” Seung Jo keluar kamar Ha Ni dan berkata, “Lakukan apa yang kau inginkan.”

Ha Ni keluar rumah dan membawa kopernya. Ha Ni berkata, “Kau keterlaluan Baek Seung Jo! Aku sudah sedih karena nilaiku dan kau menambah kesedihanku! Sebahagia apapun aku, aku tetap merasa sedih. Aku ingin kau membuatku senang walaupun sedikit! Baek Seung Jo si darah dingin!!”

Ibu Seung Jo memarahi Seung Jo dan dia berkata, “Apa yang kau lakukan padanya? Bukankah kau tau bahwa dia itu tipe wanita yang tidak pantang menyerah walaupun kau mengatakan hal kejam. Apa yang kau katakan padanya hah? Apa yang kau katakan hingga dia pergi?” Seung Jo menjawab, “Dia mungkin pergi ke temannya, lagi pula aku tidak mengatakan apapun. Aku hanya memberinya motivasi karena dia mendapatkan peringatan dari kampus.” Ibu Seung Jo berkomentar, “Kau ini keterlaluan. Aku pikir kau sudah lebih baik. Kenapa kau seperti ini lagi?” Seung Jo menjawab, “Ini kesempatan yang bagus. Dia harus berpisah denganku sementara waktu agar dia bisa memikirkan dirinya sendiri.”

Ha Ni datang ke tempat kerja Joo Ri dan Joo Ri sangat kaget melihat Ha Ni, dan dia semakin kaget saat Ha Ni bilang bahwa dia pergi dari rumah.

Akhirnya Joo Ri, Min Ah dan Ha Ni pergi ke bar dan berbicara. Min Ah bertanya, “Jadi kau gagal dalam satu kelas dan kalian bertengkar?” Joo Ro bertanya juga, “Jadi ini pertengkaran pasangan hah?” Ha Ni kesal dan menjawab, “Huh aku sedang tidak ingin bercanda.” Min Ah berkomentar, “Sepertinya hanya kau yang berfikiran keluar rumah hanya karena hal seperti ini.” Joo Ri berkata, “Mungkin dia nanti akan menjemputmu Ha Ni.” Ha Ni tersenyum dan bertanya, “Hmm benarkah?” Min Ah menjawab, “Entahlah. Sudah minum saja. Kau bisa menginap di tempatku untuk hari ini.”

Sepulang dari bar itu, Ha Ni, Joo Ri, Min Ah naik taxi untuk pulang. Ha Ni berfikir, “Apakah Seung Jo sudha tidur? Tidak mungkin. Karena aku pergi seperti ini pasti dia khawatir dan tidak bisa tidur. Apakah dia akan mencariku? Apakah aku harus mengirim dia sms agar dia tahu keberadaanku? Tidak peduli bagaimanapun seperti aku keterlaluan karena bilang padanya bahwa aku akan pergi kepada laki-laki lain. Apakah dia akan menjemputku besok? Apakah dia khawatir? Baek Seung Jo… Aku kesepian tanpamu. Ini mungkin menyedihkan tapi… aku meindukanmu Seung Jo!”

Ha Ni, Min Ah dan Joo Ri pergi ke kampus bersama. Min Ah berkata, “Ha Ni sepertinya kau tidak tidur dengan nyenyak semalam. Jika kau merindukan Seung Jo maka pulanglah.” Ha Ni berkata, “Huh aku tidak boleh menyerah sekarang karena sudah sejauh ini. Ini kesempatan untukku membuat dia menyadari arti penting kehadiranku. Aku tidak bisa menjadi prang yang selalu berkata suka padanya.” Joo Ri berkomentar, “Ya ampun Oh Ha Ni sepertinya ini pertama kali kau berfikir menggunakan akal sehatmu.”

Joo Ri lalu pamit untuk pergi kerja dan Min Ah berkata, “Kau mengambil keputusan yang benar dan kau harus tetap berjuang.” Ha Ni bertanya, “Hmm tapi bagaimana dengan Seung Jo? Haruskah aku diam-diam melihatnya drai jauh?” Min Ah berkata, “Oh Ha Ni….” Ha Ni berkomentar, “Kenapa? Ini menyenangkan untuk melihat wajahnya yang merindukanku. Ayo lah.”

Min Ah dan Ha Ni pergi ke fakultas kedokteran dan dia diam-diam mengintip Seung Jo. Ha Ni melihat Seung Jo yang sedang mengobrol dengan teman-temannya dan Min Ah berkata, “Huh dia terlihat bersenang-senang. Dia tidak terlihat menderita karena kau tinggalkan.” Ha Ni benar-benar kesal dan bekata, “Aku tidak akan kembali ke rumah! Tidak akan!”

Ibu Seung Jo sedih karena Ha Ni sama sekali tidak menghubungi rumah sejak kemarin. Seung Jo pulang dan Ibu Seung Jo bertanya, “Bagaimana dengan Ha Ni? Apakah kau melihatnya?” Seung Jo menjawab, “Tidak.” Ibu Seung Jo berkata, “Bagaimana ini? Pergilah menyelesaikan masalah dan pulang dengan membawa Ha Ni. Huh kenapa Ha Ni menjadi keras kepala begini? Ha Ni pasti ingin kembali tapi dia tidak mempunyai kesempatan. Dia pasti kesulitan saat ini. Kau bahkan tidak tahu hal ini?” Seung Jo tidak berkomentar apapun dan langsung pergi kekamanya.

Ibu Seung Jo kesal dan berkata, “Huh bagaimana mungkin ada orang sedingin dia? Kasihan sekali Ha Ni.” Papah berkomentar, “Sudah biarkan saja. Ini masalah mereka jadi biarkan mereka yang menyelesaikan masalahnya. Mungkin sesuatu yang baik akan terjadi pada Ha Ni setelah mereka berpisah untuk sementara waktu.” Ibu Seung Jo berkata, “Jika kau berkata seperti itu amka apa yang bsia kita lakukan lagi? Ha Ni baru satu hari meninggalkan rumah ini tapi aku sudah sangat merindukannya.”

Min Ah meminta maaf pada Ha Ni karena Ha Ni tidak bisa tinggal di rumahnya lagi karena keluarga Min Ah datang . Min Ah berkata, “Kau akan pulang ke rumah kan? Jnagan seperti itu… Pulanglah. Dia mungkin sedikit kejam tapi aku rasa ini untuk kebaikanmu. Pulanglah. Maafkan aku ya Ha Ni. Cerialah….” Ha Ni menjawab, “Ya aku mengerti. Masuklah kau kedalam rumah dan aku akan segera pergi.”

Setelah Min Ah pergi menuju rumahnya. Ha Ni berkata, “Huh kemana aku harus pergi sekarang? Si Jelek Baek Seung Jo bahkan tidak mengkhawatirkanku! Bagaimana mungkin dia bahkan tidak menelfonku?”

Seung Jo sedang di kamarnya dan dia berniat menelfon Ha Ni. Namun dia masih gengsi sehingga dia tidka jadi menelfon Ha Ni.

Ha Ni memutuskan untuk tidka pulang ke rumah dan dia terus berkeliling kota sendirian. Dia ketakutan karena banyak sekali orang yang mengganggunya.

Seung Jo melihat Ibunya yang mau pergi dan dia bertanya, “Ibu mau kemana malam begini?” Ibu Seung Jo menjawab, “Karena kau tidak mencarinya terus maka aku yang akan mencarinya!!!” Seung Jo berkomentar, “Aku juga mengkhawatirkannya tapi ini adalah masalah dia jadi ibu harus membiarkan dia menyelesaikan masalahnya sendiri. Ini adalah hal yang terbaik untuk Ha Ni.” Ibu Seung Jo menjawab, “Huh ya aku mengerti. Tapi apa kau tau sesuatu hah? Perasaan seseorang itu tidak seperti matematika yang mempunyai jawaban. Apa jawaban yang benar… Aku juga tidak tahu.”

Ha Ni berjalan sendirian dan berkata, “Huh Seung Jo benar. Aku selalu bergantung pada orang lain dan tidak pernah memikirkan diriku sendiri. Atau memikirkan masa depanku. Tapi tetap aku tidak akan pulang. Jika aku pulang maka ini tidak akan mengubah semuanya. Lihat saja, sebelum aku menikah, aku akan menjadi wanita yang pantas untuk Baek Seung Jo!”

Ha Ni melihat sebuah Restaurant yang kebetulan sedang mencari pekerja sehingga dia pun melamar pekerjaan di restaurant itu sebagai pelayan. Bibi Restaurant itu sangat baik dan bertanya, “Apa gadis muda sepertimu bisa melakukan pekerjaan ini? Ini cukup berat dan jika Restaurant sedang ramai maka kau juga harus memasak. Apa ini tidak apa-apa?” Ha Ni menjawab, “Tenang saja. Ayahku adalah koki Restaurant juga jadi aku pasti bisa melakukannya. Aku akan melakukan yang terbaik.”

Min Ah dan Joo Ri sedang berbicara di taman kampus. Min Ah berkata, “Aku pikir dia akan pulang ke rumahnya tapi ternyata dia bekerja paruh waktu di Restaurant.” Joo Ri berkomentar, “Uh Oh Ha Ni mencari masalah kembali.” Min Ah berkata, “Ha Ni bilang kita harus merahasiakan ini dari Seung Jo.” Joo Ri berkata, “Oh jadi dia ingin membuat sesuatu yang berarti hingga dia bertemu Seung Jo?’ Min Ah menjawab, “Entahlah. restaurantnnya terlihat kumuh. Bahkan celemek kotor itu sangat tiak cocok di pakai Ha Ni.”

Joo Ri lalu bertanya, “Lalu bagaimana dengan kuliahnya? Dia bilang dia ingin keluar. Apakah dia akan terus bekerja di Restaurant itu?” Min Ah tiba-tiba kaget karena ternyata Seung Jo mendengar semua pembicaraan mereka tadi.

Ha Ni benar-benar bekerja keras di Restaurant. Dia mengantarkan makanan, mencuci piring, mengelap sendok, bahkan dia juga ikut membantu memasak.

Saat sedang mengantarkan makanan, Ha Ni bertemu dengan He Ra yang baru keluar dari toko buku. Ha Ni mencoba menghindar namun He Ra mengenali Ha Ni. He Ra berkata, “Jadi sekarang kau bekerja?” Ha Ni mengalihkan pembicaraan, “Hmm aku dengar kau akan masuk jurusan hukum. Selamat. Tapi aku dengar ujian lisensinya sangat sulit.” He Ra menjawab, “Jika kau tidak sejenius Seung Jo maka itu akan sulit jika hanya mencobanya sekali. Bahkan ada yang mencoba tes itu hingga 12 tahun.” Ha Ni berkomentar, “Kalian beruntung karena segalanya terlihat mudah untuk kalian.” He Ra berkata, “Banyak yang mengatakan seperti itu tapi tidak penting seberapa pintar engkau jika kau tidak bisa mengikutinya. Aku tidak yakin tapi aku rasa Seung Jo juga bekerja keras untuk ujiannya.”

He Ra berkata, “Tidak ada yang gratis dalam hidup ini. Karena kau merasa kesulitan dalam belajar… Apa kau mencoba mencari hal lain? Hmm apa itu? Ah apakah menjadi ibu rumah tangga? Itu sempurna. Kau dan nampan itu sangat cocok sekali. Bekerja keraslah, aku akan mendoakanmu. Sampai Jumpa Ha Ni…”

Ha Ni kembali ke Restaurant dan Bibi Restaurant bilang bahwa ada pelanggan yang memesan sup. Ha Ni menyiapkan supnya dan mengantarkannya ke pelanggan yang memesan. pelanggan itu mencicipi sup dan berkomentar, “Rasanya hambar.” Ha Ni kaget dan berkata, “Benarkah? Aku akan memasaknya kembali.” Ha Ni melihat pelanggan itu dan sangat kaget saat melihat kalo pelanggan itu adalah Seung Jo. Seung Jo berkata, “Percuma kau memasaknya beberapa kali juga. Temanmu bilang ini Restaurant yang enak, apa temanmu itu memiliki selera yang aneh.”

Ha Ni dan Seung Jo pergi ke luar restaurant untuk berbicara. Seung Jo bertanya, “Apa yang akan kau lakukan di masa depan?” Ha Ni menjawab, “Berpisah denganmu untuk sementara… Aku sadar bahwa ini melelahkan dan aku begitu kekanak-kanakan. Aku terlalu memikirkan kesenanganku saja.” Seung Jo kembali bertanya, “Jadi kau sudah membuat keputusan? Apa itu” Ha Ni mengangguk dan berkata, “Ya aku memikirkannya. Seung Jo mungkin kau akan merasa ini konyol dan menertawakannya. Tidak peduli seberapa banyak aku memikirkannya, ini adalah hal yang kuinginkan. Yaitu membantu Baek Seung Jo bekerja. Aku akan menjadi perawat karena ini berhubungan dengan kehidupan, mungkin kau berfikir ini tidak cocok denganku. Tapi aku sungguh serius memikirkan ini. Aku ingin menjadi istri yang cocok untukmu.”

Seung Jo tersenyum dan berkata, “Jadi kau telah memikirkannya? Berusahalah yang terbaik untuk menjadi perawat.” Seung Jo lalu memeluk Ha Ni dan berkata, “Berhentilah seperti ini dan kembali ke rumah.” Ha Ni bertanya, “Bolehkah? Sebenarnya aku sangat merindukanmu dan aku pikir aku akan mati hanya karena hal ini.” Seung Jo berkata, “Aku tau. Aku tau semuanya.”

Semua sudah kembali seperti awal dan mereka berkumpul di ruang makan untuk makan bersama. Papah berkata, “Seung Jo kau sepertinya sangat sibuk karena aku jarang sekali melihatmu.” Seung Jo berkata, “Ya aku sepertinya akan sangat sibuk hingga tahun depan ini.” Ha Ni mau berbicara namun Bapa Seung Jo mendahuluinya, “Ah ya Seung Jo pasti akan sangat sibuk karena game buatannya akan di pamerkan dalam acara Amerika Game Show pada tahun depan.” Semuanya pun senang mendengar hal itu.

Ibu Seung Jo lalu berkata, “Semuanya tolong dengarkan. Tolong kosongkan jadwal kalian semua pada hari rabu depan!” Bapa Seung Jo berkomentar, “Hmmm Rabu? Aku ada janji bermain golf dengan Tuan Yoon.” Papah berkomentar, “Hmm aku juga tidak bisa karena ada janji dengan karyawan Restaurantku untuk pergi berlibur bersama.” Eun Jo juga berkata, “Aku tidak bisa karena aku di undang ke ulang tahun temanku.” Seung Jo berkomentar, “Aku juga tidak bisa.” Ibu Seung Jo berkata, “Baiklah pokoknya kalian harus membatalkannya!” Seung Jo bertanya, “Memangnya ada apa rabu depan?” Ibu Seung Jo tersenyum dan menjawab, “Pernikahanmu.” Semuanya jelas kaget mendengar hal itu.

Sinopsis Playful Kiss Episode 13

Tuan Yoon mempersilahkan Seung Jo duduk. He Ra tersenyum dan berkata, “Kau tidak perlu kaget begitu. Aku juga tidak menyangka bahwa kau adalah calon yang di pilihkan oleh Kakekku. Pada mulanya aku tidak ingin mengikuti pertemuan pernikahan yang di buat oleh Kakekku ini bahkan aku selalu menolaknya tapi karenamu sekarang aku pasti terlihat memalukan di depan Kakekku.” Tuan Yoon berkata, “Aku tidak menyangka kau dan He Ra ternyata sudah saling mengenal.” Seung Jo berkomentar, “Ya kami teman satu kelas dan satu angkatan juga.”

Tuan Yoon berkata, “Pada mulanya aku kebingungan karena bisa mengajak dia ke acara pertemuan ini dengan begitu mudah. Sepertinya kau dan He Ra memang berjodoh. Kalau begitu mari kita makan bersama, He Ra tolong kau yang memilihkan makanannya. Seung Jo kau juga silahkan pilihlah makanan yang kau sukai.” He Ra tiba-tiba berkomentar, “Seung Jo tidak suka makanan berminyak. Seung Jo bagaimna menurutmu dengan paket makanan ini? Porsinya tidak terlalu banyak, bagaimana?” Seung Jo menjawab, “Kelihatannya enak.

Tuan Yoon melihat tingkah He Ra dan Seung Jo, dan dia berkomentar, “Ya ampun sikap kalian ini seperti sudah menikah saja.” He Ra tertawa senang sementara Seung Jo kebingungan. Tuan Yoon berkata, “Maafkan aku jika mengangguk kenyamanan kalian maka aku akan pergi dahulu.” He Ra bertanya, “Apa Kakek ada urusan lain?” Tuan Yoon menjawab, “Kau pikir aku ini tidak punya perasaan?” (Maksud omongan Tuan Yoon itu “Apa kau pikir Kakek tidak punya perasaan untuk tetap disini dan membuat kalian berdua merasa terganggu karena kehadiran Kakek?”)

Ibu Seung Jo pulang dengan terburu-buru dan Ha Ni bertanya, “Ada apa?” Ibu Seung Jo justru balik bertanya, “Dimana Seung Jo?” Ha Ni menjawab, “Dia tadi pergi katanya ada pertemuan. Dia memakai pakaian yang sangat rapih dan langsung pergi. Ada apa?” Ibu Seung Jo menatap Ha Ni sedih.

Seung Jo dan He Ra pergi ke taman dan Seung Jo membelikan minuman untuk He Ra. He Ra bertanya, “Kau pasti terkejut?” Seung Jo menjawab, “Ya. Sedikit.” He Ra berkata, “Kau sepertinya berhasil membuat Kakekku senang. Ini pertama kalinya dia mendatangiku untuk memperlihatkan foto seorang pria. Aku awalnya melihat foto itu dengan tidak peduli tapi dia bilang bahwa pria itu adalah pewaris perusahaan Game yang terkenal. Dan saat aku melihat foto pria itu ternyata itu kamu. Jadi kenapa aku tidak datang jika pria itu adalah kamu? Aku pikir ini menyenangkan. Aku sangat ingin tau ekspresimu.”

Seung Jo tersenyum dan bertanya, “Lalu bagaimana?” He Ra menjawab, “Hmm ekspresimu… ya begitulah.” Seung Jo kembali bertanya, “Lalu apa yang harus kita lakukan selanjutnya? Jika perusahaanku ingin didanai oleh Kakekmu itu berarti aku harus menikah denganmu?” He Ra menjawab, “Ya mungkin saja… Tapi pasti kau tidak mau. Bukankah begitu?” Seung Jo berkata, “Aku pikir kau yang tidak akan menyukai hal ini.”

 
Seung Jo sedang minum air lewat keran dan He Ra menganggunya sehingga air itu mengenai Seung Jo. Seung Jo pun melakukan hal yang sama pada He Ra dan mereka tertawa. Seung Jo lalu berkata, “Saat ini… Perusahaan kami sedang krisis bahkan tidak bisa membayar pegawai. Karena itu aku sengaja datang ke pertemuan ini agar Tuan Yoon mau menginvestasikan dananya pada perusahaan. Tapi karena orang itu adalah kau maka aku merasa lega. Tapi apa kau tidak membenci ini?” He Ra berkomentar, “Hmm aku tidak percaya bisa mendengar kata-kata itu dari Baek Seung Jo.” Seung Jo berkata, “Benarkah? Hidup ini sungguh sulit. Bukan sebatas permainan biasa saja.”

He Ra berkata, “Tapi.. aku datang ke pertemuan ini karena tau itu adalah kau. dan kau merasa lega karena perempuan itu adalah aku dan ya aku tau alasanmu datang. Sebenarnya aku tau alasanmu ini dan aku merasa harga diriku terluka dan tidak ingin datang tapi… entahlah aku tiba-tiba saja ingin datang. Bukankah ini terlihat seperti aku sangat menyukaimu? Tapi tenang saja. Walaupun keadaan ini terlihat nyata tapi aku tidak ingin sejauh itu. Jadi ayo kita ambil kesempatan satu sama lain ini. Ayo kita coba…” Seung Jo kelihatan bingung tapi dia menjawab, “Hmm baiklah. Aku pikir itu bagus.” He Ra tentu sangat senang mendengar hal itu karena itu artinya Seung Jo mau mencoba berhubungan dengannya.

 

Ibu Seung Jo tau mengenai pertemuan Seung Jo dan cucu Tuan Yoon. Dia menceritakan semuanya pada Ha Ni dan meminta Ha Ni agar sabar dan menerimanya. Ibu Seung Jo berkata, “Tenang saja, perempuan itu pasti hanya melihat ketampanannya dan jika perempuan itu tau sikap asli Seung Jo maka dia akan meninggalkannya. Seung Jo itu dingin, tidak manusiawi, dan tidak bersikap baik pada perempuan. Jadi tenang saja.”

Ha Ni bertanya, “Lalu bagaimana dengan keadaan Bapa Seung Jo?” Ibu Seung Jo menjawab, “Dia saat ini sudah membaik.”

Seung Jo pulang ke rumah dan ibunya mengajak Seung Jo untuk berbicara namun Seung Jo menolak dan bilang bahwa Ibunya itu harus cepat pergi ke rumah sakit untuk menemani Bapanya. Seung Jo langsung pergi ke kamarnya dan Ibu Seung Jo berkata pada Ha Ni, “Kau lihatkan sikapnya yang angkuh itu? Sepertinya hanya kau yang dapat mengontrolnya jadi tetap kuat, mengerti?”

Ha Ni berjalan menuju kamarnya dan melihat Seung Jo. Ha Ni bertanya, “Kau pulang cepat?” Seung Jo balik bertanya, “Kenapa? Tidak boleh?” Ha Ni hanya berkata, “Maaf. Ah kau selesai datang dari acara petemuan perjodohan?” Seung Jo menjawab, “Ya.” Ha Ni bertanya, “Bagaimana itu?” Seung Jo balik bertanya, “Apa kau tau siapa itu?” Ha Ni menjawab, “Ya. He Ra. Dia adalah cucu dari pemilik Windy Media yang akan menginvestasikan dananya pada perusahaan game Bapamu.”

Seung Jo berkata, “Ya. Bukankah itu bagus?” Ha Ni sedih dan bertanya, “Apa.. Apa kau akan menikah dengannya?” Seung Jo menjawab, “Hmm menikah? Mungkin. Bukankah biasanya setelah ada perjodohan maka akan ada pernikahan?” Seung Jo langsung masuk ke kamarnya.

Ha Ni sangat sedih mendengar hal itu dan dia terjatuh. Dia menangis dan diam-diam Eun Jo melihat hal itu. Sementara itu Seung Jo diam di dalam kamarnya dan memikirkan hal yang tadi dia katakan pada Ha Ni.

Ha Ni pergi ke kampus dengan lesu. Joo Ri dan Min Ah melihat Ha Ni lalu memanggil Ha Ni. Joo Ri bertanya pada Min Ah, “Apa ada sesuatu yang terjadi?” Min Ah menjawab, “Mungkin.”

Min Ah bertanya, “Ha Ni… Kenapa kau sedih?” Joo Ri ikut bertanya, “Apa karena Baek Seung Jo lagi?” Min Ah juga bertanya kembali, “Apa kau di pecat dari perusahaannya?” Ha Ni emnajwab, “Tidak. Aku bilang bahwa aku sedang sakit dan meminta libur.” Joo Ri berkata, “Kau sedang skait ternyata.” Min Ah menyarankan agar Ha Ni ke rumah sakit saja jika memang sedang sakit. Ha Ni menyentuh dadanya dan berkata, “Ini… Terasa sakit disini.” Joo Ri kebingungan, “Hmm kenapa?” Ha Ni menjawab, “Karena akan ada pernikahan.”

Joo Ri dan Min Ah sama-sama kaget dan bertanya, “Pernikahan? Mungkinkah Baek Seung Jo? Dengan siapa?” Ha Ni menajwab, “Yoon He Ra.” Min Ah bertanya, “Kenapa bisa tiba-tiba dengan dia?” Ha Ni menjawab, “Ini perjodohan. Kakek He Ra adalah salah satu investor yang akan menginvestasikan dananya ke perusahaan Bapa Seung Jo.” Joo Ri berkomentar, “Ya ampun. Ternyata He Ra bukan gadis biasa.” Min Ah memukul Joo Ri dan bertanya pada Ha Ni, “Lalu apakah mereka akan menikah?” Ha Ni menjawab dengan sedih, “Ya. Dia bilang ini bukan ide yang buruk. Ini pertama kalinya aku mendengar Seung Jo berkata seperti itu.” Joo Ri berkomentar, “Kalau begitu bagus. Kau harus bisa melupakan Baek Seung Jo! Dan kau bisa menemukan laki-laki yang lebih baik!”

Seung Jo sedang di ruangannya dan Manager bertanya, “Hmm bagaimana pertemuan kemarin dengan cucu Tuan Yoon?” Seung Jo menjawab, “Baik.” Manager berkata, “Aku dengar kalian sudah saling mengenal. Tuan Yoon sepertinya snagat menyukai anda jika menjadi mempelai pria untuk cucunya.” Seung Jo tidak suka masalah itu terus di bahas makanya dia mengalihkan pembicaraan dengan bertanya, “Apa power point itu sudah selesai?” Manager menjawab, “Sedang di persiapkan. Baiklah aku permisi pergi.”

HP Seung Jo berbunyi dan ada SMS dari He Ra yang berbunyi, “Walaupun kau sibuk tapi kau harus tetap makan. Semangat! Bersikap seperti pacamu.” Seung Jo menutup HPnya dan meletakan di atas meja. Tapi dia langsung mengambil HPnya kembali.

Ha Ni dan Min Ah sedang ada di perpustakaan dan HP Ha Ni berbunyi yang membuat semua orang melihat ke arahnya. Ha Ni sendiri tidak menyadari HPnya itu berbunyi. Min Ah berkata, “Ha Ni ada sms.” Ha Ni membuka HPnya dan ternyata itu SMS dari Seung Jo yang berbunyi, “Tampaknya kau mengambil cuti. Aku akan memotong gajihmu!” Ha Ni sedih dan langsung menunduk. HP Ha Ni lagi-lagi berbunyi dan semua orang langsung melihat ke arahnya.

Ternyata telfon ke HP Ha Ni itu berasal dari Joon Gu. Joon Gu membuat Mie special untuk Ha Ni dan Ha Ni memuji Mie buatan Joon Gu yang sangat enak. Joon Gu senang dan bilang bahwa mie buatan dia khusus di buat untuk Ha Ni. Ha Ni berkata, “Kau keren Bong Joon Gu. Kau sudah siap menjadi koki hebat.” Joon Gu senang dan berkata, “Bagaimanapun juga aku ingin kau yang pertama mencoba mie yang aku buat. Sebelum aku mulai memasaknya, aku mencuci tanganku dan menenangkan hatiku. Aku meletakan semuanya di mangkok itu.”

Ha Ni bertanya, “Siapa aku ini hingga kau melakukan semua ini padaku?” Joon Gu menjawab, “Siapa dirimu? Kalau bukan karena kau maka aku tidak akan mau mencuci wajahku. Itu benar. Karena aku tidak tau kapan kau akan datang maka aku berpakaian rapih setiap hari, menata rambutku, dan tekun belajar memasak. Secara singkat, Ha Ni kau adalah alasanku untuk hidup.” Ha Ni tersenyum dan berkata, “Terima kasih. Karenamu aku merasa special. Dan Mie ini sangat enak. Kau sungguh keren Joon Gu.”

Joon Gu lalu berkata, “Jika begitu seharusnya kita pergi kencan lain waktu. Akan bagus jika kita pergi kencan bersama…” Ha Ni tersenyum dan berkata, “Baiklah ayo kita lakukan. Mari pergi kencan.” Joon Gu merasa tidak percaya sekaligus senang, “Hmm benarkah? Kencan? Kencan? Terima kasih Ha Ni! Kapan kita akan pergi bersama untuk kencan?”

Seung Jo pergi sarapan dan dia tidak melihat Ha Ni makanya dia bertanya pada Eun Jo, “Dimana Oh Ha Ni?” Eun Jo menjawab, “Dia pergi kencan. Dia benar-benar mempersiapkan dirinya bahkan dia memakai mantel merah dan sepatu merah. Benar-benar merah.” Seung Jo berkomentar, “Benarkah? Sepertinya dia pergi bertemu dengan laki-laki yang seleranya aneh.” En Jo hanya diam melihat kakaknya itu.

Joon Gu datang ke tempat Game Center dan dia sangat bersemangat saat melihat Ha Ni. Ha Ni bertanya, “Kau datang lebih awal?” Joon Gu menjawab, “Hmm aku baru disini 3 jam saja.” Ha Ni kaget mendengar itu dan bertanya, “Apa jamku salah?” Joon Gu menjawab, “Tidak. Aku terus melihat Jamku tapi sepertinya tidak bergerak terus jadi aku memutuskan untuk pergi duluan saja. Kau ternyata benar-benar datang dan aku sangat tersentuh seperti mau mati. Dan Ha Ni kau sangat cantik hari ini.”

Ha Ni tersenyum dan bertanya, “Kemana kita akan pergi pertama?” Joon Gu menjawab, “Hal pertama… ayo menonton film. Aku selalu mengharapkan bisa menonton bersamamu.” Ha Ni berkata, “Aku juga… Ah ini film yang sedang aku ingin tonton.” Joon Gu senang dan berkata, “Benarkah? Kalau begitu ayo kita masuk dan ah apa kau ingin membeli pop corn?”

Selesai menonton. Mereka berjalan-jalan bersama dan saing berebut tas. Joon Gu imgin membawakan tas Ha Ni dan akhirnya dia berhasil merebut tas Ha Ni dan membawakannya. Lalu mereka makan bersama dan Joon Gu yang menatanya lalu menyuapi Ha Ni. Kemudian mereka pergi ke toko topi dan toko kacamata dan bermain baseball.

Lalu mereka berjalan-jalan di taman dan mengambil beberapa bunga. Joon Gu sangat senang dan menyelipkan bunga itu di rambut Ha Ni. Joon Gu melihat ada tukang foto dan meminta agar mereka berdua di foto bersama.

Tuan Yoon datang ke Rumah Sakit tempat bapa Seung Jo di rawat dan dia mengatakan maksud agar Seung Jo menikahi He Ra. Tentu saja yang paling kaget mendnegar hal ini adalah Ibu Seung Jo. Tuan Yoon berkata, “Aku dengar bahwa mereka masuk ke Universitas Parang dengan peringkat 1 dan 2. Dan saat SMA juga mereka sudah pernah bertemu dalam pertandingan Tennis. Bukankah ini artinya mereka berjodoh?” Ibu Seung Jo berkata, “Jika kau berfikir seperti itu maka setiap pasnagan itu di turunkan dari surga. Jadi…”

Bapa Seung Jo menyela ucapan istrinya dan berkata, “Tapi mereka ini masih sekolah. Bagaimana jika mereka menyelesaikan sekolahnya dahulu?” Tuan Yoon menjawab, “Bisakah mereka seperti itu? Hmm aku pikir mereka bisa melanjutkan sekolahnya di luar negeri. Jika mereka berdua menikah, pikirkan lah bakat-bakat yang akan ada di anak mereka. Melakukan bisnis dengan segala hal. Aku sudah meneliti dan berfikir bahwa manusia adalah faktor terpenting. Satu orang pintar bisa melakukan pekerjaan 100 orang. Untuk sekarang kau tidak perlu mengkhawatirkan masalah dana investasi.”

Seung Jo dan He Ra pergi kencan dan mereka menonton pertunjukan badut di taman. Seung Jo melihat ada yang sedang bermain bulu tangkis dan dia jadi teringat Ha Ni yang pernah marah-marah dan memukul-mukulkan raket tennisnya. Saat Ha Ni marah-marah tiba-tiba terdengar tepuk tangan yang berasal dari Seung Jo dan Eun Jo yang berkata, “Itu sangat menghibur. Lanjutkanlah.” Ha Ni kesal dan langsung menutup pintu kamarnya.

Pertunjukan badut selesai dan semua bertepuk tangan kecuali Seung Jo yang sedang melamun.

Ha Ni sedang berjalan bersama dengan Joon Gu. Ha Ni bilang bahwa dia akan meneraktir Joon Gu makan malam namun Joon Gu menolaknya karena seorang pria lah yang harus membelikan makan malam. Ha Ni tersenyum lalu bilang bahwa hari ini sangat menyenangkan dan film yang tadi mereka tonton juga sangat menyenangkan. Joon Gu juga senang dan berkata, “Hari ini sangat menyenangkan dan menjadi hari terbaik dalam hidupku.”

Ha Ni berhenti berjalan dan tersenyum. Joon Gu berkata, “Ha Ni senyummu adalah yang terbaik di dunia ini. Jika aku bisa melihat senyummu setiap hari maka mungkin aku sangat kenyang walaupun aku tidak makan.” Ha Ni hanya tertawa dan terus menatap Joon Gu. Joon Gu kebingungan dan bertanya, “Ada apa? Apa ada sesuatu di wajahku?” Ha Ni menggelengkan kepalanya. Joon Gu kembali bertanya, “Lalu apakah aku terlihat aneh?” Ha Ni menggelengkan kepalanya lagi dan menjawab, “Terima kasih. Kamu benar-benar orang yang sangat baik. Aku tau kalau kau orang baik tapi… aku benar-benar baru merasakannya belakangan ini.” Joon Gu menggaruk kepalanya karena malu lalu mengajak Ha Ni pergi ke Sungai Han.

He Ra dan Seung Jo juga pergi ke sebuah Cafe dekat sungai Han. He Ra sangat senang dan bilang bahwa Sungai Han sangat indah. Seung Jo berkomentar, “Ya kau benar.” He Ra menghampiri Seung Jo dan bertanya, “Pikiranmu sedang tidak disini, bukan? Ah bagaimana dengan perkembangan Game-mu? Kakekku bilang bahwa idemu itu sangat bagus sekali.” Seung Jo menjawab, “Tidak juga. Aku hanya akan membuat sesuatu yang berbeda. Mungkin lebih dari 3D. Seperti animasi.” He Ra memuji ide Seung Jo itu karena ide itu memang sangat bagus sekali.

Mereka membicarakan mengenai Game terbaru yang akan di buat oleh Seung Jo dan He Ra berkata, “Pantas saja jika Kakekku sangat menyukaimu.” Seung Jo hanya terdiam dan meminum kopinya.

Joon Gu dan Ha Ni berjalan menuruni tangga dan Joon Gu berkata, “Ha Ni ayo lihat Sungai Han ini.” Ha Ni berkomentar, “Wow bagus sekali.” Joon Gu melihat sebuah bangunan dekat Sungai Han dan dia bertanya, “Hmm Ha Ni bangunan apa itu?” Ha Ni menjawab, “Sepertinya Cafe.” Joon Gu lalu berkata, “Bagaimana jika kita kesana? Ayo Ha Ni.”

Joon Gu dan Ha Ni berjalan menaiki tangga Cafe itu. Joon Gu berkata, “Ini pertama kalinya aku menuju ke cafe seperti ini. Jika aku tidak mengenalmu mungkin aku tidak akan pernah kemari.” Ha Ni bertanya, “Kau menyukainya?” Joon Gu menjawab, “Tentu saja aku menyukai hari ini. Ha Ni ini dingin sekali kau seharusnya memakai pakaian lebih tebal.”

Di saat yang sama Seung Jo dan He Ra sudah mau pergi dari Cfe dan mereka bertemu dengan Ha Ni dan Joon Gu. Seung Jo bertanya, “Apa kalian sedang kencan?” Joon Gu menjawab, “Apa kau tidak bisa melihatnya hah? Ah sepertinya kau dan He Ra juga sedang menikmati waktu yang menyenangkan ya.” Seung Jo berkata, “Ya menyenangkan.” Ha Ni diam saja mendnegar kata-kata Seung Jo. He Ra lalu berkata, “Sepertinya Seoul ini kecil ya sehingga kita bisa bertemu disini.” Ha Ni berkata, “Ya aku juga heran.”

He Ra merangkul lengan Seung Jo dan berkata, “Kalian mau bergabung dengan kami? Kami mau pergi ke bar Jazz. Tempatnya sangat santai.” Seung Jo berkata, “Untuk apa? Akan menyebalkan jika ada mereka. Kalian berdua seharusnya pegrgi ke tempat seperti taman bermain saja. Bukankah itu lebih cocok untuk kalian?” Joon Gu kesal dan berkata, “Hey apa maksudmu hah? Aku dan Ha Ni juga memiliki telinga dan bisa mendengarkan music dengan baik.” Ha Ni menahan Joon Gu dan berkata, “Seung Jo kau benar. Joon Gu ayo kita pergi ke tempat lain saja.”

Saat Ha Ni dan Joon Gu akan pergi, Seung Jo berkata, “Oh Ha Ni… Kalian berdua sangat serasi.” Ha Ni jelas sedih mendengar hal itu. Joon Gu berkomentar, “Benarkah kamu serasi? Ah kau dan He Ra juga serasi karena kepribadian kejam kalian sangat cocok.” Ha Ni menarik Joon Gu dan mengajak Joon Gu segera pergi saja.

Setelah Joon Gu dan Ha Ni pergi, He Ra melihat Seung Jo yang terlihat sedih.

Ha Ni dan Joon Gu berjalan bersama di pinggir pantai dan Ha Ni terlihat sedih. Joon Gu berkata, “Ha Ni…” Ha Ni tersadar dari lamunannya dan langsung tersenyu, “Ah sangat indah sekali pemandangan sungai Han ya.” Joon Gu juga berkata, “Ya sangat cantik.” Ha Ni tersenyum dan berkata, “Terima kasih sudah membawaku kemari.”

Joon Gu terlihat gugup dan dia menuruni beberapa tangga lalu berkata, “Menikahlah denganku! Yang aku katakan… Menikahlah denganku.” Ha Ni yang mendengar hal itu sangat kaget.

Seung Jo dan He Ra pergi dari cafe dan Seung Jo membukakan pintu mobil untuk He Ra. He Ra tertawa dan Seung Jo bertanya, “Hmm ada apa?” He Ra menjawab, “Apa kau tidak punya tangan? Mungkin kau akan mengatakan seperti itu jika aku Ha Ni. Mengapa kau begitu kasar pada Ha Ni?” Seung Jo kebingungan menjawabnya, “Karena…” He Ra tertawa dan berkata, “Apa aku aneh?Aku merasa lebih senang jika kau juga bertindak kasar seperti itu padaku.” Seung Jo hanya tersenyum.

Ha Ni sedang duduk di kamarnya dan memikirkan kata-kata Joon Gu tadi, “Maukah… Maukah kamu menikah denganku? Aku selama ini selalu memperhatikanmu dan kau memperhatikan Seung Jo. Hal ini sudah terjadi 4 tahun. Tentu saja aku akan menunggumu tapi… Baek Seung Jo sudah memiliki orang lain. Kita berdua sama-sama memperhatikan seseorang. Kita hentikan saja ini dan mulai saling melihat Ha Ni. Yang kau perlu lakukan hanya menatapku karena aku ada disini. Ha Ni… Ayo kita menikah.”

Kembali ke Ha Ni yang sedang duduk di dalam kamarnya. Ha Ni melihat foto kelulusan dia bersama Seung Jo dan dia berfikir, “Hmm sepertinya dia akan pulang malam. Apa yang sedang dia lakukan saat ini? Hmm Jazz Bar? Pasti menyenangkan. Aish kenapa aku memikirkan Baek Seung Jo lagi?” Ha Ni langsung naik ke tempat tidurnya dan menutup dirinya dengan selimut.

Seung Jo pulang ke rumah dan melihat ibunya yang sedang duduk di tangga dan bertanya, “Jam berapa sekarang?” Seung Jo menjawab dengan santai, “Hmm jam 11.” Ibu Seung Jo marah, “Apa yang kau lakukan hingga larut malam begini baru pulang? Kamu pergi ke acara perjodohan tanpa memberi tahu keluargamu terlebih dahulu. Lalu sekarang kau pergi kencan dengannya? Apa yang sedang kau rencanakan hah?”

Ha Ni keluar dari kamarnya dan mendengar omongan Ibu Seung Jo dan Seung Jo. Ibu Seung Jo berkata, “Bapamu baik-baik saja lalu mengapa kau mengambil keputusan ini?” Seung Jo menjawab, “Aku tidak melakukan ini demi Bapa.” Ibu Seung Jo berkata, “Kau tidak jujur! Kamu melakukan ini demi perusahaan Bapamu!” Seung Jo berkomentar, “Aku? Tidak mungkin! Ibu tau kan bagaimana sifatku.”

Ibu Seung Jo bertanya, “Lalu apa alasanmu menemui cucu Tuan Yoon hah?” Seung Jo melihat ke atas sesaat lalu menjawab, “Ibu benar-benar ingin tau? Itu karena aku menyukai cucu Tuan Yoon.” Ha Ni mendengar itu dan sangat kaget. Ibu Seung Jo berkata, “Itu alasan yang tidak masuk akal!” Seung Jo tidak mempedulikan ibunya dan langsung naik tangga menuju kamarnya.

Ha Ni mendengar suara Seung Jo naik ke tangga dan dia pun langsung berlari seolah-olah baru keluar dari kamarnya. Ha Ni berkata, “Kau pulang larut malam?” Seung Jo balik berkata, “Dan kau pulang cepat? Kalian berdua cocok.” Ha Ni berkata, “Ya benar. Aku sangat menikmati kencan yang menyenangkan dan Joon Gu sangat baik. Tidak seperti seseorang yang selalu jahat padaku. Aku menyukainya.” Seung Jo berkomentar, “Baguslah. Semoga kau sukses.” Seung Jo langsung masuk ke kamarnya dan menutup pintu dengan keras.

Seung Jo masuk kamarnya dan langsung bersender ke pintu kamar. Eun Jo belum tidur dan dia heran melihat sikap Kakaknya itu.

Ha Ni menceritakan masalah lamaran Joon Gu ini pada Min Ah dan Joo Ri. Tentu saja reaksi mereka berdua sangat kaget mendengar hal ini. Joo Ri berkomentar, “Wow Bong Joon Gu sangat hebat.” Min Ah bertanya, “Lalu apa yang akan kau katakan padanya?” Ha Ni menjawab, “Hmm aku tidak mengatakan apapun. Aku tau Joon Gu sangat baik, tapi… Aku tidak punya perasaan apapun padanya. Bahkan saat aku mendapatkan lamaran itu… Aku sedikit terkejut tapi sekarang aku sudah merasa tenang.”

Min Ah berkata, “Hey mana ada orang yang begitu memperhatikanmu seperti Joon Gu!” Joo Ri juga berkomentar, “Yeah dia benar. Jujur saja ya dari pada Seung Jo, kau akan lebih baik jika bersama Joon Gu saja.” Ha Ni terdiam memikirkan Seung jo dan He Ra. Joo Ri berkata, “Lagi pula Seung Jo dan He Ra akan segera menikah juga.” Min Ah berkomentar, “Ya benar. Kali ini kau pikirkan baik-baik tentang Joon Gu. Dia ini selalu memikirkanmu selama 4 tahun. Kau mungkin lebih mengerti perasaannya. Kau mengerti maksudku kan?” Ha Ni menjawab, “Ya aku mengerti.”

Seung Jo dan He Ra pergi ke toko olah raga dan Seung Jo mencoba beberapa jaket. He Ra bertanya pada Seung Jo, “Menurutmu baju yang lebih bagus yang mana? Yang putih atau pink?” Seung Jo menjawab, “Yang putih.” He Ra senang dan berkata, “Ya aku pikir ini lebih bagus.” Lalu mereka membayar belanjaan di kasir dan Seung Jo lah yang membayarnya.

He Ra lalu berkata, “Karena kau sudah meneraktirku ini maka aku akan meneraktirmu makan malam. Aku tau tempat yang enak.”

Ha Ni sedang berjalan sendirian dan dia berfikir, “Orang bersamaku bukan Baek Seung Jo melainkan Joon Gu. Meski aku tidak tertarik padanya tapi dia menyenangkan sperti keluarga sendiri.” Ha Ni menabrak seorang pria dan tasnya terjatuh. Lalu ada yang mengambil tas Ha Ni dan itu adalah He Ra yang baru keluar dari toko olah raga bersama Seung Jo.

He Ra berkata, “Kau ada disini? Ah kamu mau makan bersama.” Seung Jo berkata, “Kau mau ikut?” Ha Ni diam saja dan He Ra pun mengajak Ha Ni untuk bergabung makan bersama dia dan Seung Jo. Tiba-tiba Seung Jo berkata kejam, “Jangan menganggap bahwa aku sedang memohon padamu untuk ikut makan bersama!” Seung Jo langsung berjalan pergi disusul dengan He Ra yang menggandeng lengan Seung Jo.

Di Restaurant, Joon Gu sedang melihat foto ia bersama Ha Ni dan Papah memarahi Joon Gu yang sejak tadi hanya melihat foto itu saja. Seung Jo, He Ra dan Ha Ni datang ke Restaurant itu dan He Ra baru tau kalau Restaurant itu milik keluarga Ha Ni. Papah bertanya pada Seung Jo, “Ah kau datang bersama temanmu?” Joon Gu menjawab, “Apa itu teman? Mereka ini akan segera menikah.” Papah kaget mendengar hal itu. He Ra basa basi bilang bahwa dia tau Restaurant Papah ini dari internet makanya datang kemari.

Joon Gu menyajikan makanan untuk He Ra, Seung Jo dan Ha Ni. HeRa melihat makanan itu dan bilang bahwa makanannya sangat cantik dan sagat sayang jika di makan. Joon Gu berkomentar, “Koki(Papah Ha Ni) membuat sesuatu yang special karena kedatangan kalian.” Papah berkata, “Ya jika Seung Jo datang bersama temannya maka kalian adalah tamu VIP. Silahkan makan”

He Ra memakan Mie-nya dan Joon Gu langsung berkata, “Bukan begitu caranya. Kau harus menuangkan minyak ini terlebih dahulu, mengaduknya lalu kau bisa memakannya.” Ha Ni berkomentar, “Oh seperti itu? Bahkan aku pun tidak tau cara memakannya yang benar.” Joon Gu tersenyum dan berkata, “Tidak apa-apa. Banyak orang yang tidak mengetahui hal itu. Makanlah yang banyak.” Joon Gu pergi ke dapur dan He Ra berkomentar, “Dia membuat penilaianku berubah.”

Seung Jo tiba-tiba berkata, “Kau pasti bahagia Oh Ha Ni karena memiliki kekasih yang tahu banyak hal.” Ha Ni dan He Ra sama-sama kaget mendengar hal itu. He Ra berusaha menghilangkan ketegangan dan berkata, “Ah aku tidak begitu hebat memegang sumpit jadi kau tidak boleh menertawakan aku.” He Ra menyuapi Seung Jo dan Ha Ni hanya bisa terdiam menatap Seung Jo. He Ra berkata, “Ha Ni kenapa kau terus melihat Seung Jo seperti itu? Jika kau seperti itu terus wajah Seung Jo bisa terjatuh.” Papah diam-diam melihat hal itu juga

Seung Jo melakukan persentasi mengenai permainan yang akan di buat oleh perusahaan. Tuan Yoon tentu sajasenang melihat itu dan memuji Seung Jo, “Wow ini sangat hebat. Walaupun ini sulit tapi ternyata kau bisa menyelesaikan permasalahan ini dengan begitu cepat.” Seung Jo tersenyum dan berkomentar, “Ah tidak. Ini semua berkat karyawan yang bekerja hingga larut malam.”

Persentasi selesai dan Tuan Yoon berkata, “Kau sangat bekerja keras. Haruskah aku menelfon He Ra untuk mengajak He Ra makan bersama kita?” Seung Jo menjawab, “Ah maaf. Hari ini Bapaku keluar dari rumah sakit sehingga aku akan makan di rumah bersama keluarga.” Tuan Yoon berkata, “Oh itu waktu yang tepat. Aku akan meminat He Ra untuk datang ke rumahmu untuk memberikan salam kepada Bapamu yang baru pulang dari rumah sakit.” Seung Jo terlihat kaget mendengarnya.

He Ra datang ke rumah dan langsung memberikan salam pada Bapa Seung Jo dan Ibu Seung Jo. Ibu Seung Jo tidak suka He Ra makanya dia sengaja terus dekat-dekat dengan Ha Ni. He Ra berkata, “Sebelumnya aku sudah pernah bertemu dengan Ibu Seung Jo.” Ibu Seung Jo berkomentar, “Benarkah? Sepertinya kesan pertama bertemu denganmu tidak begitu menyentuh jadi aku tidak begitu ingat. Ah kau sudah tau kan kalau Ha Ni tinggal bersama Seung Jo?” He Ra menjawab, “Ya aku tau.”

Ibu Seung Jo melihat ada kue di ruang tengah dan berkata, “Ini kau yang membawa? Sayang sekali Bapa Seung Jo tidak boleh makan manis dan Seung Jo juga tidak menyukai makanan yang manis.” Ha Ni tiba-tiba berkata, “Hmm itu aku yang membawanya.” Ibu Ha Ni berkata, “Benarkah? Wah bagus.” He Ra lalu mengeluarkan barang bawaannya yang merupakan kue beras agar semua dapat memakannya.” Eun Jo berkomentar, “Wow dia sangat berbeda dari Oh Ha Ni.” Ibu Seung Jo kesal dan berkata, “Huh aku lebih suka Kue yang di bawa oleh Ha Ni ini.”

Bapa Seung Jo berkata, “Ah aku akan ke kamar untuk beristirahat. Kalian silahkan berbicang-bincang.” Eun Jo juga berkata, “Ya aku juga akan pergi ke kamar.”

Akhirnya di ruang tengah hanya ada Ha Ni, Ibu Seung Jo, He Ra dan Seung Jo. Ha Ni terlihat lemas dan He Ra terlihat senang. He Ra mengambil kue dan menyuapi ke Seung Jo, Seung Jo mengambil kue itu dan memakannya sendiri. Ibu Seung Jo berkata, “Seung Jo ini anakku tapi ya dia ini pemarah, egois, angkuh dan dia sama sekali tidak menyenangkan.” He Ra berkata, “Dia tidak seperti itu. Dia menyenangkan dan bisa berkomunikasi dengan sangat baik.”

Ibu Seung Jo kesal dan berkata, “Huh kau juga pasti tipe yang membosankan. Bicaramu bagus dan kau hanya membicarakan mengenai buku. Kau orang seperti itu kan?” He Ra menjawab, “Ya kau benar. Kami ini orang yang rasinal dan logis. Tapi walaupun orang-orang melihat kami seperti itu, Kami tetap merasa bahwa ini menyenangkan.” Ibu Seung Jo berkata, “Dan lagi dia ini tidak pernah bersikap baik pada wanita, dia tidak pernah mengatakan hal-hal yang baik dan dia tipe orang yang mengoreksi surat cinta seseorang.” He Ra berkomentar, “Benarkah? Wow aku juga melakukan hal yang sama.”

Ibu Seung Jo benar-benar kehilangan akal lagi dan berkata, “Ya kalian terlihat serasi. Muskipun Seung Jo terlihat pandai tapi dia itu bodoh. Dia tidak tahu perasaannya sendiri. Jika dia menyukai seseorang maka dia akan bersikap dingin dan menyakiti orang itu. Dan bahkan dia berusaha menyingkirkan orang itu, itulah yang aku lihat. Itu artinya dia takut. Dia takut tidak bisa menyelesaikan masalah ini seperti menyelesaikan persamaan matematika. Apa kau orang yang seperti itu juga He Ra?”

Seung Jo sudah lelah mendengar semua kata-kata ibunya sehingga dia sedikit membentak “Ibu!” He Ra terdiam dan melihat Seung Jo.

Malamnya, Seung Jo bilang pada Ibunya “Kau kekanak-kanakan!” Ibu Seung Jo tentu tidak terima di sebut seperti itu. Seung Jo berkata, “Aku tidak pernah mengatakan apapun mengenai Ibu yang menyukai Ha Ni. Tapi kenapa Ibu selalu mendorongku untuk menyukainya?” Ha Ni mendengar hal itu dan merasa sedih. Ibu Seung Jo berkata, “Apa kata-kataku salah? Kau adalah putraku dan aku mengetahui dirimu tapi kau lah yang tidak mengetahui dirimu sendiri.” Seung Jo kesal dan berkata, “Biarkan aku lakukan apa yang aku inginkan! Karirku dan kehidupan cintaku, aku mohon kau jangan ikut campur lagi.”

Ibu Seung Jo berkata, “Ikut campur? Aku selalu menghargai keputusanmu. Tapi apa ini? Kau bahkan tau perasaan Ha Ni tapi kenapa kau masih membawa perempuan itu kemari? Ini adalah masalah sopan santun! Apa kau tidak memiliki sopan santun hah?” Ha Ni mendengar hal itu dan berkata, “Ibu.. Aku baik-baik saja.” Bapa Seung Jo mendengar hal ini juga dan marah pada Seung jo. Seung Jo berkata, “Baiklah jika ibu menghormati keputusanku maka tolong lakukan hal ini pada keputusanku sekarang ini.” Seung Jo langsung pergi menuju kamarnya.

Eun Jo sedang belajar di ruang belajar dan dia mendengar obrolan ibunya dan bapanya, “Aku yakin bahwa Seung Jo pasti menyukai Ha Ni. Karena dia anakku maka aku yakin dia akan menyukainya.” Bapa Seung Jo berkomentar, “Tapi kau tidak boleh memaksakan keinginanmu ini pada anakmu.” Ibu Seung jo bertanya, “Tapi bukankah mereka berdua sangat serasi? Mereka itu saling mengisi dan melengkapi. Bukankah begitu?” Bapa Seung Jo menjawab, “Ya itu juga hal yang aku lihat tapi sepertinya Seung Jo tidak seperti itu.” Ibu Seung Jo sedih dan berkata, “Apa yang ahrus aku lakukan? AKu merasa melakukan hal yang buruk pada Seung Jo dan Ha Ni.”

Eun Jo tiba-tiba menghampiri Ibu dan Bapanya lalu berkata, “Dia menyukainya. Dia menyukai Oh Ha Ni. Jadi Ibu tidak perlu sedih.” Ibu Seung Jo kaget mendnegar itu dan berkata, “Eun Jo, apa yang kau katakan?” Eun Jo langsung berlari pergi ke kamar Seung Jo.

Eun Jo masuk ke kamar Eun Jo dan bertanya, “Kak… Apa kau akan menikah dengan He Ra?” Seung Jo balik bertanya, “Bukankah dia cantik? Kau tentu senang memiliki kaka ipar yang cantik.” Eun Jo bertanya, “Kau suka yang seperti dia?” Seung Jo menjawab, “Hmm jika tidak seperti itu apakah akan tetap terjadi?” Eun Jo berkata, “Tapi kau kan menyukai…” Seung Jo menjawab, “Dia sangat baik. Dia pintar, dan juga bermian tennis dengan baik. Jika kau bertemu dengannya beberapa kali maka kau akan menyukainya.”

Seung Jo terdiam sesaat untuk merenung dan melihat pekerjaannya. Eun Jo melihat Kakaknya itu dan berkomentar pelan, “Pembohong!”

Flashback saat Ha Ni dan Eun Jo pergi ke sebuah tempat dimana Seung Jo menjadi pemandu wisata. Eun Jo sedang mencari serangga dan dia melihat Ha Ni yang sedang tertidur di kursi. Eun Jo melihat ada serangga di tangan Ha Ni dan ingin menangkapnya sehingga dia berjalan pelan-pelan ke arah Ha Ni tapi ternyata ada yang datang yaitu Seung Jo. Akhirnya Eun Jo pun bersembunyi di dekat pohon dan melihat Seung Jo duduk di samping Ha Ni yang tertidur.

Seung Jo terlihat tersenyum dan mencium Ha Ni. Eun Jo sangat kaget melihat hal itu. Seung Jo selesai mencium Ha Ni yang masih tertidur dan ya dia melihat Eun Jo. Seung Jo hanya berkata pelan “Sut!” Eun Jo mengangguk mengerti lalu bersembunyi dan Seung Jo pergi.

Eun Jo sedang di balkon dan dia berkata, “Kakak mencium Oh Ha Ni. Tapi aku tidak bisa memberi tahukan hal ini pada Ibu. Walaupun Kakak mengatakan tidak menyukai Ha Ni tapi aku yakin bahwa dia menyukai Oh Ha Ni.”

Tuan Yoon berkata, “Apa ada sesuatu yang terjadi?” He Ra menjawab, “Hmm tidak. Tidak ada yang terjadi. Aku hanya bermain datang kemari.” Tuan Yoon berkata, “Apa itu Yoon He Ra si jenius? Apa aku harus menaruh kecepatan dalam hal ini hah?” HHe Ra tidak mengerti dan bertanya, “Kecepatan? Apa maksud Kakek?” Tuan Yoon menjawab, “Kita ini pisaunya dan dia adalah yang berusaha, bukan kita.” He Ra berkata, “Tidak perlu. Jika kau melakukan itu maka itu akan melukai harga diriku. Jika aku mendapatkan kesulitan maka aku akan meminta bantuanmu Kakek.”

Ibu Seung Jo ingin mengetahui apa maksud ucapan Eun Jo semalam sehingga dia sengaja membuat puding kesukaan Eun Jo untuk membuat Eun Jo mengatakan sebuah rahasia. Ibu Seung Jo menyuapi Eun Jo puding dan bertanya, “Eun Jo… Apa maksud ucapanmu bahwa Kakak-mu itu menyukai Ha Ni?” Eun Jo kaget dan berkata, “Aku tidak akan memakan puding itu lagi.” Eun Jo langsung berlari dan Ibu Seung Jo mengejarnya.

Ha Ni dan Papah sedang di balkon dan menatap langit malam. Ha Ni bertanya, “Papah, apa pendapatmu jika aku berpacaran dengan Joon Gu?” Papah balik bertanya, “Kenapa? Apa ada sesuatu?” Ha Ni menjawab, “Hmm tidak.Aku kan hanya bertanya bagaimana jika seandainya aku berpacaran dengan Joon Gu.” Papah berkomentar, “Hmm aku tidak begitu menyukainya karena dia kasar tapi dia itu benar-benar laki-laki karena jika dia memasak maka dia akan benar-benar fokus. Sebagai koki aku pikir dia itu hebat. Dan dia selalu memikirkanmu lebih dari apapun Ha Ni. Dia juga selalu menjagamu jadi tidak ada yang tidak aku sukai dari dia.” Ha Ni hanya berkomentar, “Benarkah?”

Papah lalu bertanya, “Apa Seung Jo akan segera menikah?” Ha Ni menjawab, “Hmm ya.” Papah kembali bertanya, “Apa dengan wanita yang waktu itu datang ke Restaurant? Sepertinya aku mengambil keputusan yang tidak bijaksana. Seharusnya kita tidak kembali kemari, walaupun mereka terus membujuk. Kau tau? Jika kita tetap disini maka akan terasa aneh. Ini akan membuat ketidaknyamanan. Seung Jo… Huh Oh Ha Ni adalah perempuan yang baik. Hal ini membuatku banyak berfikir.”

Ha Ni sedang duduk di taman dan dia mendapatkan telfon dari Joon Gu. Joon Gu meminta Ha Ni untuk datang ke Restaurant karena dia ingin meminta Ha Ni mencicipi masakannya dan jika masakan itu enak maka Joon Gu akan meminta Papah Ha Ni mencicipinya juga.

Kyung Soo sedang melatih para anggota klub dan Seung Jo datang menghampirinya. Kyung Soo berkata, “Wow kau datang Seung Jo? sejak kau tidak datang ke klub maka anggota klub wanita pun pergi. Lihatlah hanya ada anggota pria. Karena kau sudah datang bagaimana jika kita bermain sebentar?” Seung Jo menjawab, “Maaf aku datang kemari untuk membersihkan lokerku karena tidak akan datang kemari untuk beberapa lama.”

Seung Jo melihat ke sekeliling lapangan Tennis dan bertanya, “Hmm aku tidak melihat pengambil bola. Kemana dia?” Kyung Soo menjawab, “Apa Ha Ni maksudmu? Dia sudah beberapa hari tidak datang karena sibuk berkencan dengan pria yang bekerja di Restaurant milik Papahnya.” Seung Jo langsung berjalan pergi.

Min Ah menunjukan lapangan tennis Universitas kepada Joo Ri. Joo Ri bertanya, “Jadi ini lapangan tennis dimana selama ini Ha Ni selalu di abaikan dan menderita?” Min Ah menjawab, “Ya kau benar.”

Seung Jo berjalan di depan Min Ah dan Joo Ri, lalu Joo Ri bertanya, “Baek Seung Jo sedang apa kau disini?” Seung Jo balik bertanya, “Bukankah seharusnya aku yang bertanya seperti itu?” Min Ah berkata, “Hmm dia benar.” Joo Ri lalu bertanya, “Hmm bukankah kau akan menikah dengan Yoon He Ra?” Seung Jo mengabaikan pertanyaan itu dan berjalan pergi.

Min Ah dan Joo Ri mengikuti Seung Jo dari belakang dan sengaja berbicara dengan suara yang besar. Joo Ri berkata, “Hey kau tau? Joon Gu itu laki-laki yang sangat baik bahkan selalu memberikan makanan enak pada Ha Ni.” Min Ah menjawab, “Ya aku tahu hal itu. Siapa yang menyangka bahwa dia sudah melamar Ha Ni .” Seung Jo tiba-tiba berhenti berjalan. Joo Ri berkata, “Wow bukankah hari ini Ha Ni akan menjawab lamaran Joon Gu?” Min Ah berkata, “Ya benar karena itu Ha Ni berdandan dengan sangat cantik hari ini.” Joo Ri membalas berkata, “Ya benar. Jangan-jangan Ha Ni yang akan menikah duluan.” Min Ah dan Joo Ri langsung pergi setelah berkata seperti itu dan Seung Jo teridam.

Ha Ni datang ke Restaurant dan mencicipi masakan Joon Gu dan berkomentar, “Aku sangat kenyang. Bilanglah pada Papah bahwa masakanmu ini pasti akan membawa keberuntungan untuk Restaurant. Joon Gu kau sangat hebat dan sepertinya kemampuanmu ini lebih hebat dari Papahku.” Joon Gu berkata, “Banyak hal yang harus aku pelajari agar menjadi koki. Tapi ya pujianmu itu memberikan semangat padaku.”

Ha Ni menatap hujan deras di luar Restaurant dan Joon Gu berkata, “Ha Ni… mengenai yang aku katakan padamu beberapa hari lalu itu…. Apa kau sudah memikirkannya? Apa kau tidak bisa? Hmm aku membicarakan mengenai Seung Jo. Dia sudah pergi ke perjodohan dan akan segere menikah, Apa kau masih tetap memikirkannya? Ha Ni… Dia itu laki-laki dingin, apa kau begitu menyukainya? Aku pernah bilang padamu bahwa aku ini rumahmu yang akan selalu menerimamu kapan saja. Tapi jika kau membiarkan rumah ini kosong maka kau tidak bisa menggunakannya lagi.”

Ha Ni berkata, “Aku….” Terdengar ada suara petir dan itu membuat Ha Ni takut sehingga dia hampir jatuh menimpa Joon Gu. Joon Gu memegang lengan Ha Ni dan berkata, “Ha Ni aku benar-benar menyukaimu.” Joon Gu memaksa ingin mencium Ha Ni namun Ha Ni terus memberontak dan berkata, “Jangan seperti ini Joon Gu!” Joon Gu berkata, “Aku tebak… Aku tidak ada kesempatan.” Ha Ni merasa bersalah dan berkata, “Maafkan aku Joon Gu.” Ha Ni langsung berlari keluar dari Restaurant.

Ha Ni turun dari bis dan berteduh di sebuah tempat karena hujan sedang turun. Ha Ni berkata, “Aku benar-benar tidak baik pada Joon Gu. Setelah selama ini memberikan harapan padanya akhirnya dia kini merasakan sakit hati. Apakah aku melakukan ini semua? Apakah karena itu bukan Seung Jo maka aku menolaknya?”

Ha Ni berjalan walaupun sedang hujan dan dia bertemu dengan Seung Jo yang sedang duduk di halte. Ha Ni bertanya, “Apa yang kau lakukan disini?” Seung Jo menjawab, “Apa maksudmu? Apa ini tidak nyata? Tidak mungkin kau membawa payung.” Ha Ni bertanya, “Apa kau menungguku?” Seung Jo tidak menjawabnya dan langsung membuka payung yang dia bawa. Seung Jo terus diam hingga akhirnya Ha Ni berjalan ke sisinya dan berjalan bersama-sama.

Seung Jo bertanya, “Apa kau habis bertemu dengan laki-laki itu? Lalu apa jawaban yang kau berikan padanya? Aku dengar dia melamarmu.” Ha Ni balik bertanya, “Apa aku tidak bisa melakukannya?” Seung Jo kembali bertanya, “Itu sebabnya kenapa aku bertanya padamu, Jawaban apa yang kau berikan pada dia?” Ha Ni menjawab, “Apa jawaban yang aku berikan itu bukan urusanmu.” Seung Jo berkata, “Hmm benar.”

Ha Ni lalu berkata, “Aku akan segera pindah dai rumahmu. Aku sudah mengatakan hal ini pada Papah. dan aku akan pergi dai hidupmu…” Seung Jo langsung berjalan dengan cepat dan meninggalkan Ha Ni. Ha Ni mengejar Seung Jo dan berkata, “Sangat melegakan karena Joon Gu bekerja keras dan Papahku menyukainya. Sekarang seharusnya aku membantu dia dan Papah di Restaurant.”

Seung Jo tiba-tiba berhenti berjalan dan bertanya, “Apa kau menyukainya? Bong Joon Gu?” Ha Ni menjawab, “Hmm tentu saja. selama 4 tahun dia menyukaiku.” Seung Jo kembali bertanya, “Lalu jika ada seseorang yang mengatakan menyukaimu, maka kau juga akan menyukainya?” Ha Ni menjawab, “Hmm kenapa? Apa aku tidak boleh melakukannya? Aku lelah selalu menyukai seseorang, Aku ingin melihat laki-laki yang menyukaiku, aku suka Bong Joon Gu.”

Seung Jo berkata, “Kamu menyukaiku! Kamu tidak akan bisa menyukai orang lain!” Ha Ni berkomentar, “Apa itu? Kau terlalu percaya diri!” Seung Jo bertanya, “Apa aku salah?” Ha Ni menjawab, “Tidak. Kau memang benar! Aku hanya menyukaimu, jadi apa yang harus aku lakukan hah? Kau bahkan tidak pernah melihatku! Seseorang sepertiku….”

Seung Jo tiba-tiba menjatuhkan payungnya dan memegang wajah Ha Ni lalu langsung mencium Ha Ni. Ha Ni jelas sangat kaget.

Seung Jo : “Jangan katakan bahwa kau menyukai laki-laki lain!”
Ha Ni : “Ini kedua kalinya…”
Seung Jo : “Kedua kalinya apa?”
Ha Ni : “Kau menciumku.”
Seung jo : “Ini yang ketiga. Baiklah aku tidak akan menghitungnya kembali.”

Sinopsis Playful Kiss Episode 12

Seung Jo mampir ke rumah sebentar untuk mengantar Eun Jo dan Ha Ni lali akan segera kembali lagi ke apartemennya. Ibu Seung Jo meminta Seung Jo untuk menginap saja karena sudah larut malam namun Seung Jo tetap ingin pulang karena ada beberapa buku yang ingin dia baca.

Saat Seung Jo akan pergi, Ibu Seung Jo berkata, “Kau harus berhenti dan kembalilah kemari. Ibu mengerti bahwa keputusanmu pergi dari sini itu untuk mencapai tujuan hidupmu. Tapi bagaimana dengan impian hidup Ibu yang ingin hidup bahagia dengan bersama-sama? Dan lagi jika kau seperti ini hanya akan membuat Ha Ni tidak baik. Ha Ni berfikir bahwa kau meninggalkan rumah ini karena kehadirannya. Jadi bersikaplah baik padanya.”

Seung Jo hanya berkomentar, “Aku mohon biarkan aku membuat keputusan mengenai hidupku sendiri. Aku tidak ingin di manipulasi dan aku tidak ingin tinggal di rumah ini itulah yang membuat aku ingin pergi. Kau membawa Ha Ni kembali ke rumah ini tanpa bertanya padaku dan memikirkan perasaanku. Karena itu lakukan apapun yang Ibu suka.” Ibu Seung Jo sedih mendengar hal itu namun Seung Jo tidak peduli dan hanya mengatakan, “Maaf. Aku pergi sekarang.”

Ibu Seung Jo masih sedih melihat sikap Seung Jo tadi. Bapa Seung Jo melihat itu dan berkata, “Kau harus mengerti dia.” Ibu Seung Jo kesal dan berkata, “Ini bukan mengenai dia tidak kembali ke rumah ini. Dia pergi dari rumah ini untuk mencari impiannya dan merubah dirinya. Tapi pada akhirnya kita tidak melihat perubahannya sama sekali. Dia bahkan masih tetap bersikap dingin pada Ha Ni. Ah Suamiku… Bagaimana jika kau mengajaknya berbicara? Setidaknya dia akan mendengarkan apa yang Bapanya katakan.” Bapa Seung Jo menjawab, “Jika aku bicara dia hanya mendengarkannya saja. Jadi kita hanya bisa menunggu dan melihat keputusan apa yang akan dia ambil.”

Ibu Seung Jo jadi sedih mendengar hal itu dari suaminya sendiri. Bapa Seung Jo bertanya, “Tapi… Apakah dia selama ini makan dengan baik?” Ibu Seung Jo menjawab, “Yang aku lihat sepertinya dia semakin kurus.” Bapa Seung Jo berkata, “Kalau begitu kita tunggu saja hingga dia membuat sebuah keputusan.”

Ha Ni, Joo Ri dan Min Ah mampir untuk makan siang bersama di Restaurant Papah Ha Ni. Joo Ri kepanasan saat memegang sumpitnya dan dia bilang bahwa tangannya sangat pedih karena setiap hari bisa mencuci 50 rambut orang. Tentu saja Ha Ni dan Min Ah sangat kasihan padanya. Tapi Joo Ri berkata, “Hmm ini setidaknya lebih baik dari pada duduk di kelas dan belajar hal yang membosankan. Tapi ya aku tetap bahagia. Ah ya Min Ah bagaimana tugas Web-mu itu?” Min Ah menjawab, “Aku sedang membuat karakter komik dan bekerja paruh waktu.” Ha Ni ikut senang mendengar itu.

Joo Ri tiba-tiba memukul meja dan berkata, “Kalian selalu sibuk dan meninggalkanku sendiri.” Ha Ni berbisik pelan, “Untuk saat ini aku tidak bisa. Setelah aku mengacaukan sesuatu maka aku akan berakhir dengan menulis laporan.” Min Ah berkomentar, “Kau harus lebih bekerja keras Ha Ni.”

Papah datang dan bertanya, “Bagaimana masakannya? Enak?” Tentu saja Joo Ri dan Min Ah bilang bahwa masakan Papah Ha Ni sangat enak. Mereka berbicang-bincang mengenai Mie yang di buat oleh Papah dan akhirnya Min Ah meminta tambahan satu porsi lagi. Ha Ni bertanya, “Papah, dimana Joon Gu?” Papah menjawab, “Akhir-akhir ini dia sedang senang memasak. Bahkan dia pergi ke pasar untuk mencari bahan-bahannya sendiri.” Joo Ri berkomentar, “Benarkah itu Bong Joon Gu? Wah dia yang sekarang ini sangat berbeda dengan dia saat SMA ya.”



Min Ah lalu bilang bahwa nanti SMA mereka akan mengadakan acara resuni dan ada dress codenya yaitu memakai seragam SMA mereka kembali. Joo Ri berkata, “Aku sudah mendengar hal itu tapi… Seragmu sudah sempit karena berad badanku bertambah. Bagaimana ini?” Ha Ni berkomentar, “Aku tidak tau siapa yang membuat ide ini tapi aku menyukainya. Kenanagan dengan seragam kita. Seung Jo pun terlihat sangat tampan jika memakai seragam sekolah, Khususnya seragam musim dingin.” Min Ah dan Joo Ri berkata, “Hah? Baek Seung Jo lagi?” Ha Ni hanya tersenyum.

Ha Ni datang ke kampus menggunakan sepedah dan dia bertemu dengan Seung Jo. Ha Ni bertanya, “Apa kau sdah mendengarnya?” Seung Jo justru balik bertanya, “Apa?” Ha Ni pun menjawab, “Akan ada Reuni SMA dan dress codenya adalah seragam sekolah. Bukankah ini menarik?” Seung Jo berkomentar, “Siapa yang memiliki ide kekanak-kanakan seperti ini hah? Aku sudah mendengar hal itu dan aku tidak tertarik sama sekali.” Ha Ni berkata, “Tetap saja menyenangkan bertemu dengan teman-teman lama. Apa kau tidak penasaran dengan apa yang mereka kerjakan sekarang?” Seung Jo menjawab, “Kalau menurutmu menarik maka pergi saja.”

Seung Jo berjalan meninggalkan Ha Ni dan Ha Ni bergumam, “Huh benar-benar… Aku tidak pernah mengerti apa yang dia pikirkan.” Seung Jo mendengar hal itu makanya dia langsung berbalik dan menatap Ha Ni. Ha Ni kaget dan tersenyum.

Ha Ni sedang membantu Ibu Seung Jo menyetrika dan Eun Jo sedang belajar. Ibu Seung Jo bertanya, “Apa Seung Jo tidak akan datang ke acara reuni SMA?” Ha Ni menjawab, “Ya. Dia bilang acara ini kekanak-kanakan.” Ibu Seung Jo lalu mulai bercerita tentang dia yang penah kencan saat musa mudanya ke Restaurant di dekat sekolahnya. Eun Jo bertanya, “Apa? Kau berkencan pada saat masih SMA?” Ibu Seung Jo tertawa dan menjawab, “Aku kencan dengan Bapamu! Dia pada saat muda sangat lucu.”

Ha Ni lalu berkata, “Kalau aku… Aku tidak bisa melupakan saat Seung Jo berpidato kelulusan sekolah.’Semuanya dimanapun, hiduplah dengan bahagia.'” Ibu Seung Jo mendapatkan ide dan berkata, “Ha Ni aku pikir ide bagus untuk mengajak Seung Jo ke reuni SMA.” Eun Jo mencium bau sesuatu dan bertanya, “Hmm bau apa itu?” Ibu Seung Jp panik karena baju yang di setrikanya sedikit terbakar dan dia pun langsung berteriak-teriak panik.

Hari Reuni SMA tiba dan Ha Ni pun siap-siap menggunakan seragam SMAnya dulu. Ha Ni menemukan sebuah daun di dalam saku bajunya dan dia pun teringat kedalam mimpinya (Episode 1). Ya pada saat itu ada daun yang jatuh di pundaknya Seung Jo. Ha Ni berkata, “Ah ternyata yang membuatku bertemu dengan Seung Jo di dalam mimpi adalah daun.”

Ha Ni lalu melihat surat cinta yang dulu pernah dikirim ke Seung Jo. Ha Ni tersenyum dan berkata, “Setidaknya dia tidak memberikanku nilai F.”

Ha Ni datang ke acara Reuni Sekolah dan berfikir, “Apakah Seung Jo tidak datang?” Joo Ri dan Min Ah menghampiri Ha Ni dan bertanya, “Kau kenapa datang terlambat? Bahkan telfon kami tidak kau angkat.” Ha Ni menjawab, “Maaf. Ibu Seung Jo memintaku agar tidak membawa HP.” Min Ah kebingungan, “Tidak membawa HP? Kenapa?” Ha Ni menjawab, “Entahlah tapi sepertinya dia merencanakan sesuatu.”

Ha Ni bertanya, “Hey bukankah ini aneh datang kemari dan memakai seragam sekolah?” Joo Ri menjawab, “Kenapa aneh? Ini sangat menyenangkan, seperti kita sedang membolos, bukankah kita jarang melakukannya di sekolah?” Mereka semua tertawa senang. Joo Ri bertanya, “Ah dimana Joon Gu?” Ha Ni menjawab, “Di Restaurant sedang sangat ramai sehingga dia tidak bisa datang kemari.” Min Ah berkomentar, “Wow dia sekarang sudah menjadi koki ya.”

Ha Ni bertanya, “Ngomong-ngomong apakah Baek Seung Jo tidak datang?” Joo Ri menjawab, “Astaga… Jika kau datang kemari untuk melihat Seung Jo lalu kenapa kau tidak mencarinya hah?” Min Ah berkata, “Dia disana. Sepertinay dia tidak merasa nyaman.” Ha Ni kaget sekaligus senang melihat Seung Jo dan dia berkata, “Tunggu sebentar. Aku akan menyapanya.” Joo Ri menggodanya, “Hanya menyapa?” Ha Ni tersenyum dan berjalan ke arah Seung Jo duduk.

Ha Ni menghampiri Seung Jo dan berkata, “Kau bilang kau tidak akan datang kemari…” Seung Jo berkomentar, “Kenapa kau tidak membawa telfonmu hah? Ini kunci rumah. Ibu bilang bahwa dia akan pergi ke Busan untuk bertemud engan keluarga dan kau lupa membawa kunci rumah. Dia memintaku untuk memberikan ini padamu makanya aku datang kemari.” Ha Ni berkata, “Benarkah? Ah maaf sepertinya kau keluar hanya karena aku saja. Terima kasih. Jika kau tidak datang aku mungkin tidak bisa pulang ke rumah.”

Seung Jo berdiri untuk pulang dan Ha Ni menahannya, “Karena kau sudah datang… Maka bersenang-senanglah dengan teman-temanmu.” Seung Jo dengan dinginnya berkata, “Tidak perlu.”

Seung Jo langsung pergi meninggalkan Ha Ni. Lalu ada teman Seung Jo yang datang dan mengajak Seung Jo berbincang-bincang sehingga Seung Jo pun tidak jadi pulang. Teman-teman Seung Jo bilang bahwa Seung Jo harusnya masuk Universitas Tae San saja dari pada Universitas Parang karena di Universitas Parang itu Seung Jo masih di sebut ‘Ajaib’ karena terlalu pintar.

Seeorang teman Seung Jo melihat ada Oh Ha Ni dan dia pun bertanya, “Loh bukankah itu Oh Ha Ni? Dia pacarmu Seung Jo?” Teman Seung Jo yang lainnya pun ikut berkomentar, “Dia sudah lama sekali menyukaimu bahkan mengikutimu hingga masuk Universitas Parang dan ternyata keinginannya terwujud.” Ha Ni mendengar pembicaraan itu dan dia mulai senyum-senyum. Seung Jo tentu saja merasa tidak nyaman dan langsung berkata kejam, “Pacar? Dia sangat menganggu jadi hilangkan omong kosong itu.” Teman Seung Jo berkomentar, “Ya kau benar lagi pula dia tidak cocok dengan Baek Seung Jo yang sempurna.”

Ha Ni mendengar kata-kata kejam Seung Jo itu dan langsung pergi dari dekat Seung Jo. Seung Jo melihat itu dan diam saja. Teman Seung Jo bertanya, “Seung Jo, apa kau sudah memutuskan jurusan yang akan kau ambil?” Seung Jo menjawab, “Tidak ada. Aku masih ragu.” Teman Seung Jo lainnya berkomentar, “Kau bisa mewarisi perusahaan ayahmu bukan? Posisi Direktur untukmu itu hanya menunggu waktu saja.” Seung Jo terdiam.

Di dalam acara Reuni ini ada band yang tampil yaitu Bye Bye Sea. Semuanya menikmati suasana kecuali Seung Jo yang hanya diam saja. Ha Ni diam-diam terus melihat ke arah Seung Jo yang sedang berfikir. Tapi saat Ha Ni melihat lagi ke arah Seung Jo, Seung Jo sudah tidak ada dan yang ada hanya jasnya Seung Jo.

Ha Ni akhirnya pulang sendiri naik Bis dan dia berkata, “Pasti menyenangkan bertemu teman-teman lamanya, tapi dia pergi tanpa sepatah kata pun. Apa dia sakit? Aish.”

Seung Jo sedang berjalan kaki dan dia duduk di kursi pinggir jalan. Dia berfikir mengenai permintaan ayahnya yang meminta dia agar mau meneruskan perusahaan game milik ayahnya itu. Namun di lain sisi dia juga memikirkan permintaan Ha Ni yang meminta dia menjadi dokter agar bisa menyembuhkan penyakit.

Ha Ni melihat Seung Jo dan berkata, “Kau meninggalkan jasmu.” Seung Jo mengambil jasnya dan mengucapkan terima kasih. Ha Ni bertanya, “Boleh aku duduk disini?” Seung Jo menjawab, “Seperti yang kau inginkan.” Ha Ni pun duduk di samping Seung Jo dan bertanya, “Kau sedang mengkhawatirkan sesuatu? Katakan saja padaku. Jika kau membaginya menjadi dua maka kekhawatiranmu itu akan berkurang. Aku mungkin bisa membantumu.” Seung Jo hanya tersenyum tipis. Ha Ni melanjutkan lagi omongannya, “Aku saat mengkhawatirkan sesuatu atau pun saat bahagia maka aku selalu membaginya dengan Joo Ri dan Min Ah. Setelah melakukan itu maka bebanku terasa berkurang. Tapi kadang aku memberi tahu terlalu banyak hal pada mereka dan tu menjadi masalah.”

Seung Jo tiba-tiba berdiri dan berkata, “Aku akan mengambil jurusan medis. Entah itu cocok atau tidak bagiku. Untuk pertama kalinya… Aku menemukan apa yang menarik untukku. Jangan memberi tahu hal ini pada siapapun. Terutama orang tua-ku. Dan juga jangan menyebarkan rumor yang tidak benar di sekelilingku. Apa kau mengerti?” Ha Ni berkata, “Aku mengerti. Untuk apa menyebarkan rumor?” Seung Jo langsung pergi meninggalkan Ha Ni yang masih duduk. Ha Ni berfikir, “Omo… Hanya aku yang mengetahui rahasia ini?” Ha Ni langsung tersenyum senang.

Kyung Soo berbicara di lapangan tennis bahwa mereka akan memperingati 10 tahun berdirinya klub tennis jadi mereka akan merayakannya dengan cara mengundang para alumni dan berpesta. Dan ternyata Kyung Soo itu sedang berbicara sendiri, tidak ada anggota di lapangan itu kecuali Ketua Tennis. Ketua Tennis bertanya, “Minggu depan libur. Apa kau pikir He Ra akan datang?” Kyung Soo menjawab, “Tapi aku mendapatkan harga khusus karna sedang liburan.”

Ketua Tennis berkata, “Dan lagi jika pesta dengan alumni… aku berfikir untuk tidak datang.” Ketua Tennis lalu menyarankan agar Kyung Soo harus bisa membuat Seung Jo datang ke pesta ini agar He Ra juga mau ikut datang. Kyung Soo sangat senang dengan ide itu dan bilang, “Ah kau hebat pantas saja kau bisa menjadi Ketua Tennis. Baiklah Seung Jo… He Ra… Aku akan mendiskusikan hal ini dengan Ha Ni.”

Ha Ni datang ke fakultas kedokteran dan dia berfikir, “Hmm jadi ini jurusan yang akan di ambil oleh Seung Jo. Kudengar disini sangat sibuk. Jadi ini artinya aku akan jarang bertemu dengan dia?”

Kyung Soo datang ke fakultas kedokteran dan bertemu Ha Ni. Ha Ni bertanya, “Kau ngapain ada disini?” Kyung Soo balas bertanya, “Aku mencarimu. Dan sedang apa kau disini?” Ha Ni menjawab, “Seung Jo… Ups maksudku aku hanya melihat-lihat. Apa yang ingin kau katakan?” Kyung Soo pun menceritakan bahwa dia mempunyai acara untuk perayaan 10 tahun klub tennis dan dia ingin He Ra datang tapi kalau ingin He Ra datang maka mereka harus membujuk Seung Jo datang juga. Ha Ni tentu tidka setuju karena Kyung Soo menjadikan Seung Jo sebagai umpan.

Kyung Soo bilang bawa jika dia tidak memakai cara ini maka dia akan kehilangan kesempatan menyatakan perasaannya itu pada He Ra. Kyung Soo benar-benar memohon pada Ha Ni.

Kyung Soo melihat Seung Jo dan dia langsung mendorong Ha Ni ke dekat Seung Jo. Seung Jo bertanya, “Apa kau mengikutiku?” Ha Ni menajwab, “Ah tidak…” Seung Jo terus berjalan dan Ha Ni mengikutinya dari belakang. Ha Ni melihat Kyung Soo memohon padanya sehingga dia pun jadi tidak enak pada Kyung Soo.

Ha Ni berkata pada Seung Jo, “Aku ingin melihat-lihat fakultas ini ya mungkin aku nanti akan sering kemari. Tapi disini benar-benar hebat. Sepertinya mereka disini akan menjadi dokter yang hebat di masa depan.” Seung Jo berkomentar, “Mungkin juga tidak.” Ha Ni bertanya, “Tapi apa yang kau lakukan disini? Inu belum waktunya memilih jurusan, bukan?” Seung Jo menjawab, “Aku kemari untuk bertemu dengan professor.” Ha Ni bertanya kembali, “Untuk apa?” Seung Jo balik bertanya, “Jika aku memberitahumu apakah kau akan mengerti?” Ha Ni kesal dan berkata, “Jangan merendahkanku begitu!”

Ha Ni berkata, “Ah ya hari ini Bapa-mu pergi ke rumah sakit untuk check up tapi aku tidak tau hasilnya. Mau pergi ke rumah bersamaku?” Seung Jo berkomentar, “Hadiah apa yang akan mereka bawa kali ini?” Ha Ni bingung dan bertanya, “Hadiah? Kue? Tunggu apa ini hari ulang tahunmu?” Seung Jo berkata, “Bodoh! Penyakit maksudku!”

Seung Jo mampir ke rumah. Bapa Seung Jo berkata, “Huh aku benar-benar bosan dan lelah dengan Rumah Sakit.” Ibu Seung Jo bertanya, “Bagaimana hasilnya? Biar aku lihat. Hmm apa ini indeksi? Gula darah? Apa maksudnya?” Seung Jo mengambil hasil periksa dan berkata, “Tekanan darah Bapa tinggi dan detak jantungnya juga tinggi. Bapa memiliki sedikit tekanan jantung dan kolestrol juga tinggi. Bapa kau harus menjaga kesehatan jantungmu.”

Bapa Seung Jo berkomentar, “Huh aku mendengar hal yang smaa seperti yang di katakan dokter.” Ibu Seung Jo berkata, “Suamiku… Kau harus menjadi sehat dan menjaga kesehatanmu itu. Ah Seung Jo Bagaimana kau bisa mengerti kata-kata rumit itu? Anakku benar-benar mengangumkan.” Eun Jo berkomentar, “Kakak bisa menjadi dokter karena pintar.” Ibu Seung Jo berkata, “Hey Baek Eun Jo… pintar bukan segalanya.”

Ha Ni datang ke Restaurant dan Papah senang menyambutnya tapi Papah merasa sedikit aneh pada Joon Gu yang tidak menyapa Ha Ni. Ha Ni bertanya, “Mana Joon Gu?” Papah menjawab, “Dia sedang ada di dapur. Dia sedang membuat makanan. Kau mau lihat? Ayo kita lihat ke dapur.”

Papah dan Ha Ni diam-diam melihat Joon Gu di dapur dan Ha Ni berkomentar, “Awalnya aku pikir dia hanya bisa bermain-main saja tapi ternyata dia bisa seperti ini.” Papah berkata, “Lihatlah seberapa kerja kerasnya dia membuat itu semua. Kemampuannya bisa di katakan lumayan. Dan dia ingin menunjukan kemampuannya itu padamu, bukankah itu pantas di puji?” Ha Ni tersenyum dan di dalam hati dia berkata, “Ini pertama kalinya aku melihat dia seperti ini. Bahkan dia tidak menyadari kehadiranku.”

Joon Gu selesai memasak dan dia meminta Ha Ni untuk mencobanya. Ha Ni memuji masakan Joon Gu dan bilang bahwa ini sangat enak dan Joon Gu sukses membuat makanan. Joon Gu berkata, “Jika aku sukses membuat makanan maka aku ingin orang pertama yang menyicipinya adalah kau Ha Ni. Tunggu sebentar… Ini adalah mie pangsit buatanku. Pangsit dalam mie ini ada 3 warna dan mie-nya pun sangat enak. Jika kau mencobanya pasti kau akan menyukainya. Makanlah yang banyak. Sekarang aku sudah menemukan sesuatu yang membuatku percaya diri. Ah ada lagi, tunggu sebentar disini.”

Joon Gu masuk kedapur dan Ha Ni berkata dalam hati, “Hari ini aku melihat sisi lain dari Joon Gu. Aku selalu mengabaikannya tapi… Maafkan aku Joon Gu.”

Ha Ni melihat He Ra di kampus dan dia bertanya, “Hmm apa kau sedang menunggu seseorang?” He Ra menjawab, “Duduk lah.” Ha Ni duduk di samping He Ra dan dia bertanya, “Apa kau akan datang ke acara perayaan 10 tahun klub tennis?” He Ra balik bertanya, “Kenapa kau ingin tau?” Ha Ni menjawab, “Hmm ini mengenai klub dan banyak alumni yang datang jadi ya akan sangat bagus jika banyak yang datang.” He Ra berkata, “Aku tidak tertarik untuk datang ke acara seperti itu. Ah kenapa kau tidak pergi saja dan menikmatinya untuk mengantikan aku? Itu pasti sangat menyenangkan.” Ha Ni hanya diam saja.

He Ra merasa ada sesuatu yang aneh makanya dia bertanya, “Apa ada sesuatu yang ingin kau tanyakan?” Ha Ni menjawab, “Hmm begini aku ingin tau sesuatu.” He Ra berkata, “Kita sudah membicarakan tentang perayaan klub tennis. Lalu apa yang ingin kau tau lagi?” Ha Ni Menjawab, “Begini… Kau dulu bimbang kan menentukan jurusan yang ingin kau ambil. Apa sekarang kau sudah memutuskannya?” He Re kebingungan dan bilang, “Kau sangat lucu hari ini. Untuk apa kau mengetahui jurusan yang akan aku ambil?” Ha Ni berkata, “Hmm sesjujurnya kau bisa mengambil jurusan apapun yang kau mau dengan kemampuanmu sendiri…” He Re memotong dan bertanya, “Lalu?” Ha Ni melanjutkan pertanyaannya, “Lalu… Apakah kau berfikir untuk mengambil jurusan yang sama dengan Seung Jo?” He Ra langsung tertawa.

He Ra berkata, “Kenapa kau berfikir seperti itu? Kau benar-benar bodoh! Hanya karena orang yang kamu sukai itu pergi maka kamu juga harus pergi ke neraka bersama dia? Walaupun aku tertarik pada Seung Jo tapi aku tidak tertarik pada jurusan yang dia ambil. Aku… Aku akan lakukan apa yang ingin aku lakukan karena ini hidupku. Kau tidak perlu bersamanya jika unuk pacaran saja. Aku pergi… Sampai jumpa.” He Ra pergi dan Ha Ni berkata, “Huh dia selalu seperti itu tapi ya aku akui pendapatnya.”

Ha Ni sedang naik sepedah dan dia menabrak kursi di taman kampus. Seung Jo melihat itu dan berkomentar, “Hati-hatilah.” Seung Jo duduk di kursi dan Ha Ni masih terdiam. Seung Jo berkata, “Jika kau ingin pergi maka pergilah, jika kau ingin tetap disini maka duduklah.” Akhirnya Ha Ni pun duduk di kursi samping Seung Jo.

Ha Ni berkata, “Joon Gu… dia masih bekerja keras untuk menjadi koki dan He Ra juga memiliki sesuatu yang bisa dilakukan… Bahkan Joo Ri dan Min Ah juga. Eun Jo juga terlihat khawatir dengan masa depannya.” Seung Jo bertanya, “Dan maksudmu itu adalah kau tidak memiliki apapun yang ingin kau lakukan?” Ha Ni menganggukan kepalanya. Seung Jo berkata, “Aku iri padamu. Kcerobohanmu itu.” Ha Ni berkata, “Aku.. Aku juga punya impian. Tapi…” Seung Jo memotong pembicaraam, “Tapi apa?Sesuatu yang ingin kau lakukan bersamaku? Beritahu padaku mengenai impianmu. Aku akan mendengarkannya.”

Ha Ni pun menjawab, “Jika kau menjadi dokter di sebuah desa maka aku akan menjadi perawatnya yang membantumu. Kau pasti terkenal jika di rumah sakit, bukan rumah sakit yang besar seperti rumah sakit di kampus ini tapi tetap saja aku akan terus bekerja keras dan membantumu. Seperti mengurus anak kecil yang menangis dan sebagainya. Tapi ada sebuah masalah dengan impian itu. Jika kau bilang ingin menjadi pilot maka aku akan menjadi pramugari. Jika kau ingin menjadi pemain golf maka aku akan menjadi caddy. Pada akhirnya impianku sangat sederhana dan melakukan apapun yang diinginkan. Aku hanya bergerak dengan arahan Baek Seung Jo. Ini tetap saja diriku tidak nyata.”

Seung Jo berkomentar, “Tepat seperti yang kau katakan, Saat aku memutuskan untuk menjadi dokter, aku juga banyak memikirkan hal itu. Lalu apa? Impian yang tidak realistis itu.. impian tetap impian. itu cocok untukmu.” Ha Ni bertanya, “Hah? Apa kau pikir impianku ini tidak realistis?” Seung Jo menjawab, “Apa kau pikir kau bisa menjadi perawat hanya karena aku menjadi dokter? Tapi lagi-lagi ini mengenai impian…semakin sulit untuk di capai maka semakin ingin kau mencoba menggapainya. Benar bukan?” Seung Jo menepuk punggung Ha Ni dan pergi. Ha Ni mengejarnya tapi dia ingat sepedahnya sehingga dia mengambil sepedahnya lalu mengikuti Seung Jo.

Seung Jo sedang ada di kelas dan dia mendapatkan telfon dari Bapanya yang meminta Seung Jo untuk datang ke rumah.

Seung Jo pulang ke rumah dan Bapanya meminta berbicara sebentar. Bapa Seung Jo bertanya, “Tadi ada yang menelfonku dari seorang professor di kampusmu. Apa benar kau akan mengambil jurusan kedokteran?” Seung Jo menjawab, “Ya. Aku berencana masuk kedokteran pada semester depan.” Bapa Seung Jo kaget mendengar itu dan berkata dengan marah, “Kau memutuskan hal itu tanpa mendiskusikannya terlebih dahulu denganku? Apa kau tidak menghiraukan apa yang aku katakan padamu?” Diam-diam Ibu Seung Jo dan Eun Jo mendengar semua itu.

Seung Jo berkata, “Aku juga memikirkan perusahanmu. Tapi sepertimu dan seperti Papah Ha Ni, aku memutuskan apa yang ingin aku lakukan. Aku sudah memutuskan untuk menjadi dokter, apa yang Bapa katakan itu tidak ada gunanya. Aku tidak akan meneruskan perusahaanmu itu.” Bapa Seung Jo sangat kecewa dan dia mendapatkan serangan jantung. Seung Jo, Ibu Seung Jo dan Eun Jo pun sangat panik melihatnya.

Akhirnya Bapa Seung Jo di bawa ke rumah sakit dan dia di rawat. Ibu Seung Jo bilang pada Papah Ha Ni bahwa dokter bilang ini tidak begitu serius dan hasil medis belum keluar. Papah Ha Ni bertanya, “Sebenarnya apa yang terjadi sehingga bisa seperti ini?” Ibu Seung Jo menjawab, “Ini semacam angin duduk atau penyakit jantung. Akhir-akhir ini keadaan perusahaan sedang buruk dan itu pasti membuatnya banyak pikiran. Yang paling penting saat ini adalah mejaga kestabilan. Dia akan tinggal disini untuk sementara waktu.” Papah berkata, “Benar. Disini banyak dokter hebat yang akan merawatnya. Ini pasti sulit untukmu. Aku tidak pernah membayangkan hal ini karena dia selalu tersenyum ceria.”

Ha Ni bilang pada Ibu Seung Jo bahwa dia akan pulang duluan ke rumah karena kasihan Eun Jo ada di rumah sendirian. Ha Ni mengingatkan Ibu Seung Jo agar istirahat juga. Ibu Seung Jo meminta Seung Jo juga pulang dan akhirnya Seung Jo dan Ha Ni pulang bersama.

Ha Ni bertanya pada Seung Jo, “Apa Bapamu akan baik-baik saja?” Seung Jo menjawab, “Mungkin akan sulit baginya karena besok akan ada pemeriksaan. Aku akan menggunakan kesempatan ini untuk beristirahat dan cuti kuliah.” Ha Ni berkata dalam hati, “Keadaan ini sangat sulit untuk semuanya. Meskipun sedikit tapi aku juga ingin membantunya.”

He Ra selesai latihan tennis dan dia berjalan menghampiri Kyung Soo. Kyung Soo bertanya, “He Ra kau tidak datang ke acara perayaan klub tennis?” He Ra menjawab, “Aku tidak pernah bilang akan pergi. Ah aku dengar yang datang hanya kau dan ketua tennis, jadi sepertinya pesta itu akan menyedihkan ya. Aku dengar pesta ini juga banyak menggunakan uang pribadimu jadi ini aku akan membayarnya walaupun aku tidak datang, aku harap kau mau menerimanya.”

Kyung Soo menerima uang itu. Lalu He Ra berkata, “Kau sudah makan? Ayo makan bersamaku aku akan meneraktirmu.” Kyung Soo gugup dan berkata, “Tidak perlu. Aku sudah membeli hot dog ini dan ada daging sapinya. Jika memakannya dengan sekaligus maka tidak akan lapar lagi.” Kyung Soo memakan hot dog itu dan He Ra berkata, “Oh baiklah kalau begitu aku pergi.”

Seung Jo berbicara dengan dokter yang menangani Bapanya. Dokter bilang bahwa ini bukan seragam jantung tapi jika Bapanya itu terlalu kelelahan maka mungkin saja ini bisa menjadi serangan jantung yang berbahaya bagi kesehatan Bapa Seung Jo dan cara pengobatannya dengan operasi. Seung Jo bilang bahwa ada pengobatan dengan cara pembuluh darah. Dokter memuji Seung Jo yang tau banyak masalah medis dan bilang bahwa cara pembuluh darah itu akan dihindari dan pengobatan selanjutnya akan menggunakan obat biasa saja.

Seung Jo masuk kedalam kamar Bapanya di rawat dan melihat ada seseorang yang sedang berbicara dengan Bapanya. Seung Jo bertanya pada Ibunya, “Dia itu siapa?” Ibu Seung Jo menjawab, “Itu Manager di perusahaan.” Seung Jo berkata, “Bukankah kondisinya harus tetap stabil dulu? Ini dilarang membicarakan pekerjaan.” Seung Jo mau berdiri namun Ibunya melarang dan berkata, “Ini pekerjaan yang penting sepertinya. Kau kau tau bahwa Bapamu tidak akan tenang jika tidak melakukan keputusannya sendiri.” Seung Jo berkomentar, “Dia terlalu memikirkan pekerjaannya sehingga dia jatuh sakit.”

Tiba-tiba Bapa Seung Jo kesakitan dan dokter pun langsung datang untuk turun tangan. Untuk kali ini Bapa Seung Jo tidak boleh di kunjungi dahulu sampai keadaannya benar-benar pulih. Ibu Seung Jo berkata pada Seung Jo, “Hampir saja. Tinggal beberapa hari lagi permainan baru akan di luncurkan. Karena Bapamu sakit maka perusahaan yang ingin mengembangkannya itu pergi dan Bapamu mendengar hal itu sehingga dia semakin sakit. Apa yang harus kita lakukan? Bapamu terbaring disana dan perusahaan dalam banyak masalah.”

Seung Jo berkata, “Aku akan menanganinya. Walaupun aku masih muda dan tidak ada pengalaman tapi aku akan menanganinya sampai Bapa sehat.” Ibu Seung Jo senang mendengar hal itu.

Ibu Seung Jo sedang di rumah dan dia menceritakan hal itu pada Ha Ni, “Seung Jo untuk sementara akan menangani perusahaan. Bapa Seung Jo sangat senang dan kesehatannya pun mulai stabil dan membaik.” Ha Ni ikut senang mendengar hal itu dan Ha Ni tambah senang saat Ibu Seung Jo bilang bahwa Seung Jo akan kembali lagi ke rumah itu. Ibu Seung Jo berkata, “Hmm mungkin ini yang di sebut kemalangan berubah menjadi keberuntungan. Ah Ha Ni aku akan kerumah sakit, apa kau tidak apa-apa jika aku menyerahkan semua ini padamu?” Ha Ni menjawab, “Tentu saja. Percayakan padaku.”

Ibu Seung Jo berkata, “Ha Ni ini adalah kesempatan untukmu karna tidak ada yang menganggu. Coba bayangkan saja ini sebagai bulan madumu!” Ha Ni tersenyum malu-malu.

Seung Jo datang ke perusahaan Bapanya dan kaget saat melihat suasana kantor ang berantakan. Manager menghampirinya dan berkata, “Ah kau sudah datang. hey semuanya ini adalah direktur baru. Ah maaf suasana perusahaan game memang seperti ini. Ayo ikut aku menuju ruanganmu.”

Karyawan perempuan di perusahaan Bapa Seung Jo itu langsung senang melihat Seung Jo dan bilang bahwa Seung Jo memiliki senyuman yang manis dan IQnya itu 200. Sementara itu karyawan laki-laki berkomentar, “Dia tidak akan memecatku kan karena aku ini sudah tua?”

Manager membawakan setumpuk berkas yang harus Seung Jo pelajari mengenai perusahaan dan permaian baru yang akan di buat. Seung Jo meminta agar Manager bicara dengan dia dengan nyaman saja namun manager bilang bahwa Seung Jo ini adalah di rektur untuk sementara jadi dia harus tetap sopan berbicaranya.

Manager keluar dari ruangan Seung Jo dan para karyawan langsung menghampirinya. Karyawan laki-laki bertanya, “Dia tidak akan mengubah struktur karyawan kan? Apa kita akan di pecat?” Sedangkan karyawan perempuan bertanya, “Apa dia sudah punya pacar atau sedang kencan dengan seseorang hah?” Manager langsung menjawab, “Sudahlah jangan mengurusi urusan orang lain. Urus saja pekerjaan kalian!”

Seung Jo menghampiri Manager dan mereka membahas tentang perusahaan yang secara pendapatannya mulai menurun dari tahun lalu. Manager bilang bahwa pendapatan mereka menurun karena ada perusahaan game yang skalanya lebih internasional dan lagi permainan yang akan mereka luncurkan ini kehilangan dana sponsor jadi kemungkinan terburuk perusahaan bisa bangkrut.

Ha Ni sedang memasak dan meminta Eun Jo untuk menunggu beberapa menit lagi. Eun Jo sudah sangat lapar dan berkata, “Kita pesan dari restaurant saja.” Ha Ni tentu saja langsung menentangnya dan berkata, “Apa maksudmu? Makanan di Restaurant itu tinggi kalori, dan lagi mereka tidak menaruh sayuran tau.” Eun Jo berkata, “Y akau mengerti jadi cepatlah memasaknya. Lain kali jangan pura-pura mengetahui banyak hal!”

Tiba-tiba Ha Ni jadi panik karena masakannya gosong. Eun Jo berkata, “Aku penasaran dengan masakanmu. Aku harap kau tidak membuatku dan Kak Seung Jo sakit.”

Seung Jo sudah pulang dan Ha Ni langsung menyambut Seung Jo pulang. Ha Ni mau melepas jas Seung Jo namun Seung Jo langsung bertanya, “Hah ? Apa yang ingin kau lakukan?” Ha Ni menjawab, “Aku hanya ingin melepas jasmu.” Eun Jo berkomentar, “Dia ingin bersikap seperti pengantin baru.” Ha Ni berkata, “Apa maksudmu hah? Aku tidak mungkin berfikir seperti itu apalagi Paman(Bapa Seung Jo) sedang di rumah sakit. Ah Seung Jo cepatlah ganti baju sana.”

Ha Ni memasak banyak makanan dan Eun Jo bilang bahwa sup yang di masak Ha Ni itu terlalu asin jadi sebaiknya Seung Jo tidak memakannya. Seung Jo mencoba masakan Ha Ni dan ternyata belum matang. Eun Jo meminta Seung Jo untuk memuntahkannya agar tidak sakit perut. Namun Seung Jo terus menelannya dan bilang pada Eun Jo agar makan juga dan tidak berkomentar. Seung Jo memakan sup asin itu tanpa komentar dan Ha Ni tersenyum sambil berkata dalam hati, “Seung Jo memakan makanan mengerikan ini tanpa komentar.”

Ha Ni menelfon Papah dan bilang bahwa dia ingin membuat bekal makan siang untuk Seng Jo dan Eun Jo. Joon Gu mendengar hal itu dan tentu saja dia tidak suka hal itu karena Ha Ni akan membuat makanan untuk Seung Jo.

Seung Jo sudah mau pergi ke kantor dan Ha Ni memberikan bekal makan siang pada Seung Jo. Seung Jo bilang bahwa dia akan makan di kantin saja. Tapi Ha Ni melarang Seung Jo makan siang di kantin karena dia sudah membuat telur gulung khusus untuk Seung Jo dan Seung Jo pasti kaget jika membuka bekal makan siang yang sudah Ha Ni buat sejak subuh. Akhirnya Seung Jo mengambil bekal makan siang itu dan pergi. Ha Ni senang dan berkata, “Sampai jumpa!”

Eun Jo menghampiri Ha Ni dan berkata, “Mungkin kau lain kali akan memanggilnya “Suamiku.” Dan kau akan di panggil sebagai Pengantin baru Oh Ha Ni.” Ha Ni berkomentar, “Apa maksudmu? Kita tidak boleh berfikir seperti itu karen Bapamu masih di rumah sakit.” Eun Jo pamit pergi ke sekolah dan berkata, “Terserah kau. Aku pergi.”

Ha Ni keluar dari kelas dan langsung di hampiri oleh He Ra yang bertanya, “Ha Ni apa benar Bapa Seung Jo dirawat di rumah sakit?” Ha Ni menjawab, “Hmm ya. Tapi kau dilarang mengunjunginya dia harus tetap stabil sehingga tidak boleh ada pengunjung.” He Ra bertanya, “Lalu bagaimana keadaan Seung Jo? Aku pikir dia juga dilarang menemui Bapanya.” Ha Ni kebingungan dan menjawab, “Dia… Dia bekerja di perusahaan Bapanya sekarang.” He Ra berkomentar, “Oh. Terima kasih infonya,” Ha Ni langsung memukul mulutnya karena telah memberikan informasi penting pada He Ra.

Seung Jo membuka bekal makan siangnya dan dia tersenyum. Manager datang dan Seung Jo mengajak makan bersama namun Manager menolaknya. Manager mlihat bekal makan siang Seung Jo dan bertanya, “Apakah ini pacarmu yang membuatnya?” Seung Jo tertawa kaku dan menjawab, “Ah iya.” Manager berkata, “Kalau begitu aku akan datang lagi kemari setelah makan siang.”

Saat Seung Jo mau memakan bekal makan siangnya, Joon Gu datang dan mengambil bekal makan siang yang dibuat Ha Ni lalu mengganti dengan bekal makan siang buatannya sendiri. Seung Jo mau protes namun Joo Gu langsung bilang bahwa dia tidak akan membiarkan Seung Jo memakan masakan Ha Ni dan mulai sekarang dia akan ke kantor Seung Jo untuk mengambil bekal makan siang buatan Ha Ni.

Seung Jo bertanya, “Makanan buatanmu ini tidak di racuni kan?” Joon Gu menjawab, “Tentu saja! Aku tidak pernah main-main dengan makanan!” Seung Jo tersenyum dan berkata, “Baiklah kalau begitu aku akan makan dengan lahap.”

Joon Gu duduk di taman dan membuka bekal makan siang buatan Ha Ni. Joon Gu melihat bekal itu dan berkomentar, “Bekal ini tidak terlalu buruk. Tapi melihat hati Ha Ni untuk Seung Jo… hatiku tersayat-sayat. Tapi aku akan tetap mencoba makan siang buatan Ha Ni ini.”

Joon Gu memakan bekal itu yang ternyata rasanya tidak enak. Joon Gu berkata, “Ha Ni apa kau begitu tidak menyukai Seung Jo hingga rsanya seperti ini? Tapi… Ini masakan Ha Ni dan aku harus menghabiskannya. Tapi… aku tidak bisa memakan ini.”

Ha Ni menuruni tangga dan dia kaget saat melihat ada Seung Jo di ruang makan, “Apa yang kau lakukan disini tanpa lampu menyala?” Seung Jo menjawab, “Aku sedang berfikir.” Ha Ni bertanya, “Ada apa? Apa ada sesuatu? Aku bisa membantumu… ah mungkin juga tidak. Kalau begitu aku tidur dulu.” Seung Jo tiba-tiba berkata, “Bapa belum membaik keadaannya. Dia mungkin akan butuh operasi jantung. Aku mungkin akan bekerja di perusahaannya sementara karena terlalu banyak hal yang harus di atasi.”

Ha Ni bertanya, “Lalu bagaimana dengan sekolah kedokteranmu?” Seung Jo menjawab, “Tidak ada lagi alasan bagiku untuk melakukannya.” Ha Ni berkata, “Tentu ada! Bukankah ini pertama kalinya kau ingin melakukan sesuatu, mimpimu.” Seung Jo berkomentar, “Ini bukan mimpi. Aku hanya sedikit kagum saja. Tapi jika aku sekali masuk maka aku tidak tau bagaimana selanjutnya.”

Ha Ni bertanya, “Apa menyenangkan bekerja di perusahaan?” Seung Jo menjawab, “Tidak.” Ha Ni bertanya, “Lalu bagaimana kau bisa menjalani hidupmu dengan bahagia? Bukankah kau pernah berjanji akan menjalani hidpmu dengan bahagia?” Seung Jo menjawab, “Aku tidak peduli asalkan orang lain bahagia.” Ha Ni mendekati Seung Jo dan memeluknya dari belakang, “Apa yang harus aku lakukan?”

Ha Ni sedang duduk di kursi taman dan dia mendengar seorang mahasiswa yang sedang membicarakan Seung Jo yang akan keluar kuliah. He Ra menghampiri Ha Ni dan berkata, “Hmm sepertinya Seung Jo akan meneruskan usaha Bapanya. Seperti yang aku duga… Kupikir jika itu Seung Jo, akankah dia melakukannya? Lagipula keadaan Bapanya sedang tidak baik.” Ha Ni heran dan bertanya, “Dari mana kau tau hal itu?” He Ra tersenyum dan menjawab, “Apakah itu hal yang mengejutkan? Ini adalah hal yang mudah terfikirkan jika kau memikirkannya dengan benar. Khususnya bagaimana perasaan Seung Jo saat ini. Ya aku lihat dia mengambil cuti dan aku mengerti…”

Ha Ni bertanya, “Mengerti apa? Apa yang kau tahu mengenai Seung Jo?” He Ra menjawab, “Aku berfikir mengenai bagaimana cara agar aku bisa membantunya. Oh Ha Ni Bagaimana cara kau membantu Seung Jo dalam keadaan sulit begini? Dengan terus mengikuti kemana pun dia pergi? Atau merengek dan bialng bahwa semuanya akan baik-baik saja. Apakah seperti itu? Benar… Hanya itu yang kau bisa lakukan pada Seung Jo. Aku pergi.” He Ra meninggalkan Ha Ni yang duduk berfikir.

Seung Jo memimpin rapat dan bilang bahwa bermain game 2D diabad 21 ini sudah sangat membosankan jadi sebaiknya perusahaan mereka mencoba membuat game terbaru 3D. Karyawan memuji Seung Jo yang benar-benar jenius dengan IQ 200nya itu. Seung Jo hanya berkomentar, “Anda hanya tidak menggunakan otak anda secara maksimal saja. Otak akan berkarat jika tidak digunakan secara maksimal jadi apa nama permainan yang akan kita buat ini?” Para karyawan mulai berfikir dan ada yang berkata, “Bagaimana dengan Rusty?” Seung Jo setuju dan semua bertepuk tangan.

Seung Jo sangat bekerja keras untuk membangkitkan kembali perusahaan Bapanya ini hingga dia membawa pekerjaannya ke rumah dan mempelajarinya. Ha Ni diam-diam mengintip ke kamar Seung Jo dan melihat Seung Jo yang sedang serius bekerja.

Ibu Seung Jo pulang ke rumah dan Ha Ni bertanya, “Apa ada sesuatu yang terjadi?” Ibu Seung Jo menjawab, “Tidak. Aku kemari hanya untuk mengambil beberapa pakaian. Ha Ni terima kasih karena kau sudah mau membantuku. Aku juga sangat lega karena Seung Jo mau mengambil alih perusahaan Bapanya. Aku sangat terbantu sekali karena kalian.”

Ha Ni berkata, “Seung Jo selalu pergi pagi-pagi sekali dan pulang larut malam bahkan dia masih bekerja hingga saat ini di kamarnya.” Ibu Seung Jo berkomentar, “Benarkah itu? Ini pasti sangat sulit untuk dia. Tapi kau baik-baik saja kan? Kau harus tetap kuliah dan juga mengerjakan pekerjaan rumah.” Ha Ni berkata, “Tidak apa-apa itu memang harus aku lakukan. Tapi… Ah ada sesuatu yang ingin aku diskusikan denganmu.” Ibu Seung Jo bertanya, “Hah? Apa itu?”

Pagi-pagi Ha Ni terburu-buru berlari menuruni tangga dan menghampiri Seung Jo yang sudah mau pergi. Seung Jo bertanya, “Kenapa terburu-buru?” Ha Ni menjawab, “Boleh aku menumpang? Aku akan pergi ke tempat yang sama dengan tempat yang akan kau datangi.” Seung jo kebingungan dan dia langsung bilang, “Kau? Tidak!!!” Ha Ni tersenyum dan berkata, “Aku di terima bekerja paruh waktu di kantor Bapamu. Jadi mohon bantuannya ya.”

Manager memperkenalkan Ha Ni pada karyawan lainnya dan Ha Ni memperkenalkan diri dengan ceria. Sementara Seung Jo hanya melihat Ha Ni dari jauh dan terlihat kesal.

Manager berbisik pada Seung Jo, “Investor sudah ada di bawah dan ingin bertemu dengan anda.” Seung Jo pun langsung menemui investor itu. Investor itu berkata, “Selama ini Baek Su Chan(Bapa Seung Jo) selalu membanggakan anaknya dan ternyata kau memang pantas di banggakan. Ah bagaimana keadaan Bapamu saat ini?” Seung Jo menjawab, “Dia sudah mulai membaik tapi kurasa dia memerlukan waktu istirahat.” Investor itu berkomentar, “Hmm sepertinya sudah saatnya aku membantu.”

Seung Jo memperlihatkan dokumen mengenai permainan yang akan di buat dan Investor senang dengan ide permainan itu. Investor berkata, “Aku rasa Bapamu akan sangat merasa lega karena memiliki anak sepertimu. Kau harus bisa membuat perusahaan ini menjadi lebih besar lagi.” Seung Jo berkomentar, “Kami akan memikirkan hal itu setelah melewati masa krisis kami terlebih dahulu.”

Ha Ni masuk ke ruangan Seung Jo untuk mengantarkan kopi untuk Investor itu. Investor itu bertanya, “Seung Jo, berapa umurmu?” Seung Jo menjawab, “Aku 20 tahun.” Investor kemabli bertanya, “Apakah kau memiliki pacar?” Ha Ni tersenyum senang dan merapihkan rambutnya. Seung Jo langsung menjawab, “Tidak.” Ha Ni kecewa mendengar hal itu. Investor bertanya, “Kenapa tidak punya? Aku lihat kau sangat terkenal.” Ha Ni menjawab, “Ya dia sangat terkenal tapi dia tidak pernah mempedulikan mereka karena dia lebih senang mendengarkan musik dan membaca. dia juga hebat dalam tennis dan memenangkan beberapa pertandingan. IQnya 200 dan dia bisa memasak seperti masakan koki. Dia sangat sempurna.”

Investor senang mndnegar itu dan memuji Seung Jo. Seung Jo lalu berkata, “Nona Ha Ni… Bisakah kau keluar sekarang?” Ha Ni tersenyum dan menjawab, “Ya baiklah.”

Seung Jo sedang di rumah sakit menunggui Bapanya. Manager datang dan meminta berbicara sebentar dengan Seung Jo. Manager berkata, “Sepertinya pertemuan dengan Tuan Yoon(Investor) itu berjalan lancar. Karyawannya datang dan menanyakan mengenai dana yang kita butuhkan untuk game kita.” Seung Jo bertanya, “Jadi menurutmu dia akan menginvestasikan uangnya pada kita?” Manager menjawab, “Hmm tapi ada sesuatu. Tuan Yoon sangat menyukaimu. Dia memiliki cucu perempuan dan dia bertanya apakah kau bisa menemui cucunya itu?”

Seung Jo bertanya, “Apa maksudmu ini seperti kencan yang sudah di atur?” Manager menjawab, “Ya. Dia mengatakan bahwa akan percuma jika menikahkan cucunya dengan orang lain. Dan kita membutuhkan dana dari dia. Aku sangat bingung karena ditanya secara mendadak, bagaimana menurutmu?” Seung Jo diam saja tidak berkomentar.

Ha Ni pulang ke rumah dan membawa belanjaan. Seung Jo membantu membawakan belanjaan itu dan Ha Ni tersenyum senang. Ha Ni berkata, “Ayo kita masak Bulgogi yang banyak. Aku rasa kau lelah jadi aku harus memanjakanmu dengan memasakan makanan untukmu.” Seung Jo menyimpan belanjaan itu dan kembali ke kamarnya. Ha Ni sangat senang dan berteriak, “Terima Kasih!!”

Seung Jo mengendarai mobilnya menuju suatu Restaurant dimana dia akan bertemu dengan Tuan Yoon dan juga cucunya. Saat Seung Jo mau memasuki ruangan pertemuan, dia sangat kaget karena melihat cucu dari Tuan Yoon itu adalah He Ra!! He Ra tersenyum dan berkata, “Hallo Baek Sung Jo.”